Ada China di Natuna, Bukti Lemahnya Negara

Penulis: St. Nurwahyu (Anggota FS-PRISMA Maros)

0
1688

OPINI – Polemik Natuna kini menjadi sorotan publik, pasalnya kapal coast guard dari China masuk ke dalam teritori laut Indonesia di Natuna tanpa izin. Tak terima, Indonesia pun menyatakan apa yang dilakukan China adalah pelanggaran.

Diketahui pula bahwa, kapal-kapal itu tak sekadar masuk ke wilayah kedaulatan Indonesia tetapi juga menangkap ikan secara ilegal dengan perlindungan penjaga kapal (coast guard).

Pakar Perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Sulistiono mengatakan, wajar saja jika laut Natuna ini banyak diperebutkan oleh beberapa negara termasuk China. Pasalnya, wilayah perairan ini menyimpan banyak sekali kekayaan alam dan juga ekosistem laut.

Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono mengungkapkan bahwa cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.

Selain itu, Natuna juga menyimpan sumber daya lainnya, berupa sumber daya perikanan. Dilansir, CNNIndonesia.com (07/02/2020), berdasarkan data Kementrian Kelautan dan Perikanan, perairan Natuna memiliki potensi ikan pelagis mencapai 327.976 ton.

Ikan demersal 159.700 ton, cumi-cumi 23.499 ton, rajungan 9.711 ton, kepiting 2.318 ton, dan lobster 1.421 ton per tahun. Kemudian ada juga potensi ikan kerapu, tongkol, teri, tenggiri, ekor kuning, udang putih, dan lainnya.

Dengan Posisi Natuna yang cukup strategis karena berada di jalur pelayaran Internasional Jepang, Korea, dan Taiwan, serta potensi perairannya termasuk yang terbesar di dunia.

Bumi Natuna juga menyimpan cadangan minyak bumi diperkirakan mencapai 14.386.680 barel. Ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna.

Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dengan total cadangan 222 trilion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT merupakan sumber terbesar di Asia.

Dengan berbagai potensi kekayaan alam yang dimiliki Natuna, maka wajar saja menjadi incaran negara-negara kapitalis.

Natuna ibarat gadis molek yang banyak diincar para pemuda di berbagai penjuru dunia. China pun tergoda akan “kemolekan” Natuna.

Cina mengklaim perairan Natuna masuk dalam wilayahnya. Dasar yang digunakan adalah sembilan garis putus-putus (nine dash line/NDL).

NDL merupakan garis yang dibuat sepihak oleh Cina tanpa melalui konvensi hukum laut di bawah PBB atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

UNCLOS 1982 memutuskan perairan Natuna adalah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Meski Cina juga merupakan anggota UNCLOS, negara itu tidak mengakui ZEE di Laut Cina Selatan. Sikap ini menunjukkan arogansi Cina terhadap Indonesia.