BLITAR, Mengantisipasi kemungkinan hadirnya sejumlah pemudik dalam masa wabah Coronavirus disease (Covid19) 220 desa dan 28 kelurahan yang tersebar di 22 kecamatan di wilayah kabupaten Blitar Jawa Timur, telah menyiapkan ruang atau rumah isolasi bagi warga yang mudik dan terutama berasal dari kawasan zona merah.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) kabupaten Blitar, Drs. Mujianto, pelaksanaan pembuatan ruang isolasi desa dan kelurahan tersebut berdasarkan surat edaran Bupati Blitar No. 900/216/409.119.2/2020, tanggal 26 Maret 2020, yang merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Desa PDTT, No. 8 Tahun 2020, tentang Desa Tanggap Covid-19 dan Penegasan Padat Karya Tunai Desa.

“Alhamdulillah 220 desa dan 28 kelurahan yang ada di kabupaten Blitar, semua sudah menyiapkan ruang isolasi desa dan kelurahan, Namun demikian belum semua dimanfaatkan oleh masyarakat, ada juga beberapa yang sudah digunakan untuk karantina masyarakat Blitar yang baru pulang dari kota lain,” tegas Mujianto kepada Media Sulsel, Senin (13/4).

Lebih lanjut Mujianto menjelaskan, untuk ruang isolasi desa tersebut, sejumlah desa menggunakan berbagai fasilitas yang ada, seperti ruang sekolah, rumah penduduk, atau gedung serba guna yang dimiliki desa setempat.

Terkait biaya yang ditimbulkan Mujianto menjelaskan, bahwa operasional tim relawan covid 19 yang ada di desa di kabupaten Blitar, diambil dari penggeseran dana desa sementara untuk kelurahan diambil dari penggeseran dana kelurahan yang ada di kecamatan.

“Biaya operasional tim relawan covid 19 yang ada di desa di kabupaten Blitar, sesuai dengan SE baik dari Menteri Desa, maupun menteri Dalam Negeri dan Kepres, adalah penggeseran dari dana desa, sedangkan 28 kelurahan juga merupakan penggeseran dari dana kelurahan,” lanjutnya.

Hingga saat ini Mujianto mengaku, bahwa meski sudah disiapkan, namun baru sebagian kecil ruang isolasi desa yang beroperasi, karena penyiapan ruang isolasi tersebut memang diperuntukan menampung pemudik yang tiba di wilayah kabupaten Blitar.
“Hingga saat ini masih sebagaian kecil yang berfungsi, karena bagi pemudik yang lolos pulang kerja di luar kota, akan dilakukan pemeriksaan, ketika masih bisa ditoleransi adanya tanda-tanda kena atau tidak itu, karena berasal dari episentrum, kita himbau untuk mengisolasi diri di rumah, dengan pengawasan tim relawan desa setempat,” terangnya.

Namun, lanjut Mujianto, jika ditemukan tanda-tanda sepanjang masih bisa ditangani tim medis yang ada di desa setempat, terlebih dahulu dimaksimalkan penanganannya di desa setempat, tapi jika perlu penanganan lebih lanjut, segera dirujuk ke RS rujukan. (464Ys)