BI Catat Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Triwulan 1 di Masa Pandemi, Hanya Sekitar 3,07 Persen

0
14
BI Catat Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Triwulan 1 di Masa Pandemi
Ilustrasi

MAKASSAR – Pandemi Covid-19 yang saat ini masih terjadi di indonesia termasuk sulsel, Membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lambat atau rendah.

Bank Indonesia Mencatat Perekonomian di Sulsel pada triwulan I tahun 2020 mengalami pertumbuhan terendah dalam satu dekade.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel hanya sebesar 3,07% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan IV tahun 2019 yang mencapai 6,48% (yoy).

Tekanan inflasi Sulsel pada triwulan I tahun 2020 masih berada dalam rentang sasaran inflasi 3+1%.

Tekanan inflasi ini terjadi pada kelompok volatile foods yang dipicu keterbatasan pasokan bawang putih dan gula pasir.

Pada triwulan I tahun 2020, stabilitas sistem keuangan di wilayah Sulsel masih terjaga.

Penghimpunan dana pihak ketiga secara umum masih tumbuh 3,7% (yoy) meski melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,5% (yoy).

Penyaluran kredit juga terpantau tumbuh melambat, menjadi 3,7% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,2% (yoy), perlambatan khususnya terjadi pada penyaluran kredit rumah tangga.

Kondisi perlambatan kinerja perbankan juga terlihat di sektor UMKM.

Pengaruh Covid-19 diperkirakan masih menahan kinerja ekonomi Sulsel pada triwulan II tahun 2020.

Karena Lapangan usaha yang terdampak penyebaran pandemi pada triwulan I tahun 2020 diperkirakan akan mengalami perlambatan yang lebih dalam.

Perekonomian Sulsel diperkirakan baru mulai mengalami perbaikan pada triwulan III tahun 2020 yang didorong oleh meningkatnya konsumsi swasta dan kinerja investasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Bambang Kusmiarso mengatakan, pandemi Covid-19 menyebabkan sendi-sendi perekonomian Sulsel mengalami pelemahan kinerja seiring penurunan permintaan yang terjadi secara luas dan dalam waktu yang relatif cepat.

“Pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian sulsel mengalami penurunan. Terutama dirasakan pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum,” ungkap Bambang.

Ia menyebutkan, konsumsi swasta melambat akibat keterbatasan kinerja konsumsi rumah tangga ditengah pandemi Covid-19 dan kontraksi pada komponen LNPRT seiring penundaan Pilkada serentak.

“Respon pelaku ekonomi yang cenderung wait and see selama pandemi Covid-19 juga menjadi kendala dalam kinerja investasi. Permintaan yang terbatas akibat COVID-19 menyebabkan kinerja net ekspor mengalami kontraksi,Sebutnya.

Bambang menambahkan, ditengah upaya dalam menghadapi Covid-19, inflasi yang terkendali menjadi salah satu harapan dalam menjaga daya beli masyarakat dan menopang pemulihan perekonomian ke depan.

“BI optimis pemulihan perekonomian secara bertahap dapat terjadi dengan dukungan konsistensi kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dan peningkatan pemahaman masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan dalam kegiatan keseharian,” tutupnya. (*)