Beranda » Opini » BPJS Kesehatan: Menyelamatkan Atau Mengorbankan Nyawa?
BPJS Kesehatan: Menyelamatkan Atau Mengorbankan Nyawa?
BPJS Kesehatan. (Ilustrasi))
Opini

BPJS Kesehatan: Menyelamatkan Atau Mengorbankan Nyawa?

Sepak Terjang BPJS Kesehatan

OPINI – Salah satu masalah besar Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) adalah defisit yang mengakibatkan adanya kenaikan iuran. Mulai 1 Januari 2020, iuran BPJS Kesehatan naik hingga lebih dari dua kali lipat.

Kenaikan ini disinyalir sebagai akibat kinerja keuangan BPJS Kesehatan yang terus merugi sejak lembaga ini berdiri pada 2014.

Defisit sejatinya telah dialami di tahun pertama yaitu sebesar Rp3,3 triliun. Defisit berlanjut pada 2015 menjadi Rp5,7 triliun dan semakin membengkak menjadi Rp9,7 triliun pada 2016.

Sementara pada 2017, defisit hanya sedikit mengalami kenaikan yakni menjadi Rp 9,75 triliun. Adapun pada 2018, defisit yang dialami mengalami penurunan menjadi Rp9,1 triliun.

Oleh karena itu, diperlukan stimulus agar lembaga tersebut dapat tetap berjalan melayani masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan. Tahun ini, BPJS Kesehatan diprediksi akan mengalami defisit hingga Rp32,8 triliun (Kompas.com,3/11/2019).

Polemik layanan kesehatan dalam bingkai BPJS bukan hanya defisit dan terus berlanjut. Berbagai persoalan yang ditimbulkan bisa kita saksikan hampir setiap hari di layar kaca dan media sosial.

Baik itu terkait buruknya kinerja manajemen BPJS, gaji pengelola BPJS yang fantastis, defisit triliunan rupiah, pasien yang tidak dilayani dengan baik bahkan ditelantarkan hingga tak sedikit pasien yang harus meninggal terlebih dahulu karena kesalahpahaman baik oleh pihak rumah sakit maupun pengelola BPJS.

Kesan dianaktirikan bagi pemegang BPJS pun merasuki masyarakat, wajar saja karena fakta yang mereka dapati benar demikian. Seperti inilah wajah jaminan kesehatan yang diberikan negara.

Di Balik Polemik BPJS Kesehatan

Program karya pemerintah untuk menjamin kesehatan dan menyelamatkan justru tidak sedikit malah mengorbankan nyawa. Kegagalan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mewujudkan hak publik, berupa pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas telah nampak nyata, namun pemerintah seolah bebal.

Nyawa yang melayang dalam ruang pelayanan kesehatan tampaknya belum mampu membuat penguasa sedikit berfikir rasional. Meski ada yang terbantukan dengan adanya BPJS tetapi tidak lantas menafikkan tugas negara untuk menjamin seluruh rakyat. Baik itu kaya atau miskin semua memiliki hak yang sama sebagai warga negara termasuk dalam hal layanan kesehatan.

Dengan berbagai masalah yang hadir harusnya program ini dihentikan bukannya makin diangkat, ditambah lagi dengan kenaikan premi yang makin membebani rakyat.

Realitanya, masyarakat sekarang telah terbebani berbagai biaya karena semua kebutuhan hidup harus dibeli dengan harga yang terus melangit. Mulai dari pangan, papan, air bersih, listrik, BBM, jalan, transportasi, hingga keamanan, pendidikan, juga kesehatan.

Jika kita perhatikan lebih jauh, semua ini dikarenakan ulah tangan penguasa sendiri yang hadir sebagai pelaksana sistem kehidupan sekularisme yang justru menegaskan ketidakpeduliannya terhadap penderitaan masyarakat.

Persoalan mendasar yang menjadi gerbang kezaliman adalah negara hadir sebagai regulator/pembuat aturan bagi kepentingan korporasi, khususnya BPJS Kesehatan.

Selanjutnya menyerahkan pengurusan pelayanan kesehatan publik di bawah kendali BPJS Kesehatan. konsekuensinya masyarakat wajib membiayai pelayanan kesehatan yang harusnya menjadi tanggung jawab negara, di samping dipaksa membeli pelayanan kesehatan melalui skema bisnis korporasi BPJS Kesehatan dengan membayar premi wajib setiap bulan.

Tidak hanya itu, sifatnya sebagai korporasi kapitalisme yang menjadikan bisnis di atas segalanya, seringkali mengakibatkan pelayanan kesehatan yang berada di bawah kontrol BPJS Kesehatan berujung pada konflik antara rumah sakit, tenaga kesehatan, dan pasien.

Inilah bahaya sistem sekuler demokrasi yang merupakan sistem negara korporasi. Kesehatan yang merupakan hak dasar umat justru dijadikan lahan bisnis.

Sistem kesehatan di era rezim kapitalisme adalah pemalakan pada rakyat, bukan untuk meriayah rakyat, tanggung jawab negara telah digantikan oleh “asuransi”.

Semestinya kita sadar bahwa jaminan kesehatan hanya ilusi yang berujung pada pembayaran asuransi, dalam sistem sekuler kapitalis tidak ada istilah makan siang gratis.

Kegagalan dan kezaliman penguasa adalah buah sistem sekuler demokrasi kapitalis neolib. Saatnya ummat campakkan dan beralih ke sistem Islam yang kepemimpinannya berdimensi riayah dan junnah serta aturannya solutif dan adil.

Layanan Kesehatan Dalam Sistem Islam

Dalam Islam hanya dikenal prinsip pembiayaan kesehatan berbasis baitul mal yang bersifat mutlak. Maksudnya, pelayanan kesehatan wajib diadakan negara, ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembiayaan.

Bila dari pemasukan rutin tidak terpenuhi, Islam memiliki konsep antisipasi berupa pajak temporer yang dipungut negara dari orang-orang kaya sejumlah kebutuhan anggaran mutlak.

Pembiayaan seperti ini antidefisit dan membebaskan pelayanan kesehatan dari cengkraman korporasi yang membahayakan bahkan sampai mematikan.

Sumber-sumber pemasukan baitul dan pintu-pintu pengeluarannya sepenuhnya berlandaskan ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Salah satu sumber pemasukan baitul mal adalah harta milik umum berupa sumber daya alam dan energi yang jumlahnya melimpah, terlebih di Indonesia.

Dengan kekayaan ini pembiayaan kesehatan sudah sangat cukup bahkan lebih sehingga kesehatan akan sangat murah bahkan gratis.

Kehadiran sistem kehidupan Islam, Khilafah adalah kebutuhan yang mendesak bagi bangsa ini dan dunia, dengan izin Allah SWT akan hadir kembali sebagai obat dan penyembuh berbagai persoalan dan “penyakit” yang ditimbulkan oleh sistem kehidupan sekularisme-kapitalisme,

dalam hal ini defisit kronis pembiayaan kesehatan neoliberalisme dan krisis pelayanan kesehatan hingga mengorbankan nyawa sampai ke akar persoalan. Lebih dari pada itu, Khilafah adalah syariat Islam yang diwajibkan Allah SWT kepada kita semua.

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,..” (TQS Al Anfaal: 24). [*]

BPJS Kesehatan: Menyelamatkan Atau Mengorbankan Nyawa?
Penulis : Nurasia, S.Pd. (Aktivis Muslimah)