Beranda » Maros » Cerita Aisyah, Anak Yatim yang Ikuti Jejak dua Saudaranya Jadi Paskibraka
Cerita Aisyah, Anak Yatim yang Ikuti Jejak dua Saudaranya Jadi Paskibraka
Aisyah Nurul Nisa. (foto: dok))
Maros

Cerita Aisyah, Anak Yatim yang Ikuti Jejak dua Saudaranya Jadi Paskibraka

MAROS – Aisyah Nurul Nisa (16) merupakan salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mewakili Kecamatan Simbang di tingkat kabupaten Maros, Sulsel. Seperti apa perjuangan Aisyah hingga menjadi Paskibraka ditingkat kabupaten.

Aisyah yang akrab disapa Icha ini menjadi salah satu pengibar sang merah putih pada Upacara HUT ke-74 RI di Lapangan Palantikan, Kantor Bupati Maros pada Sabtu (17/8/2019).

Aisyah Nurul Nisa adalah seorang anak yatim, dia tinggal bersama ibunya di Lingkungan Pakalu RT05/RW01, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Perempuan kelahiran 28 Januari 2003 ini, merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Aisyah mengikuti jejak dua saudara laki-lakinya menjadi paskibraka tingkat kabupaten Maros beberapa tahun silam.

Saat ini, ia duduk di bangku kelas 3 di Madrasah Aliyah JII Bantimurung. Kecamatan Simbang, Maros.

Nurhayati (55), Ibu Aisyah mengaku tidak menyangka anaknya bisa lolos menjadi Paskibraka kabupaten.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Sungguh saya tidak menyangka bisa lolos meskipun di tingkat kabupaten, saya bangga,” ucap Nurhayati saat ditemui Mediasulsel.com di rumahnya, Minggu (18/8/2019).

Nurhayati mengaku mendukung penuh anaknya untuk ikut Paskibraka. Mulai dari seleksi dari tingkat sekolah dan kecamatan.

“Saya bilang ke dia, kalau memang mau jadi anggota Paskibraka, latihanlah dengan tekun dan bersungguh-sungguh,” kata Nurhayati.

Saat pengukuhan, Aisya sempat merasa sedih, karena almarhum ayahnya tidak menyaksikan dirinya jadi paskibraka.

Ia menceritakan, awalnya Aisya mengikuti seleksi Paskibraka. Sebelum latihan dihari pertama, Aisya tiba-tiba demam.

“Saat itu dia demam. Dia bilang mau ikut latihan Paskibraka. Tapi dia tetap berangkat latihan meski sakit,” sebutnya.

Dikatakan, anak bungsunya itu memiliki tinggi badan 160 cm, yang bercita-cita ingin menjadi polwan.

Aisyah memiliki sosok yang pendiam, dan sering mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Bahkan, Nurhayati tak menyangka Aisyah menekuni Paskibraka.

“Beberapa tahun lalu, dua saudaranya, Asrul dan Asrafil juga pernah menjadi paskibraka. Dari situ Aisya tertarik menjadi salah satu pasukan Paskibraka. Ternyata ia tekuni,” ujar Nurhayati.

Sejak itu, Aisyah sering mengikuti kegiatan Paskibraka di sekolah, hingga akhirnya menjadi Paskibraka di tingkat kabupaten Maros. (shar)

Cerita Aisyah, Anak Yatim yang Ikuti Jejak dua Saudaranya Jadi Paskibraka Maros
Keluarga Aisyah Nurul Nisa turut menghadiri malam pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kabupaten Maros, berlangsung di gedung serba guna, Maros. 16 Agustus 2019.