Citayam Fashion Week; Antara Kreativitas atau Perusak Generasi

Citayam Fashion Week; Antara Kreativitas atau Perusak Generasi
Ulfiah, Penggiat Literasi.

OPINI—Citayam Fashion Week menjadi fenomena yang menjadi sorotan belakangan ini karena jadi salah satu pagelaran  fesyen jalanan.

Dikutip dari suara.com, disebutkan bahwa muda mudi berbondong-bondong nongkrong di pusat kota Jakarta menjadi tren akhir-akhir ini.

Aktivitas di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, atau sekitar Stasiun MRT Dukuh Atas itu kemudian dijuluki Citayam Fashion Week merujuk asal anak-anak remaja itu dari Citayam, Bojong Gede, dan Depok.

Pemerintah menilai ekspresi anak-anak muda itu sebagai kreativitas yang positif dan perlu mendapat dukungan. Juga, kepala Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jakarta Iwan Wardhana menyebut sah-sah saja mereka mengembangkan diri melalui seni.

Bahkan, dikatakan Pemerintah Jakarta tidak akan merespons aktivitas remaja-remaja yang nongkrong di pusat kota itu dengan tindakan penertiban. Sebaliknya, pemerintah ingin menyadarkan tentang pentingnya pemanfaatan  ruang ketiga.

Ruang ketiga diartikan sebagai tempat berkumpul atau beraktivitas, selain di rumah, tempat kerja atau sekolah. “Harus dibuat sedemikian rupa sehingga mereka nyaman,” tutur dia. (Selasa, 09/07/2022)

Berita Lainnya

Padahal jika ditelusuri, Citayam Fashion Week itu mempunyai dampak negatif bagi masyarakat khususnya para muda/mudi. Walau banyak yang mendukung dengan dalih  bentuk ekspresi remaja.

Memang benar, apa yang terjadi di Citayam bukan berarti remaja dilarang berekspresi. Namun, bentuk ekspresi itu bukan ditentukan dari sesuatu yang viral, atau ditentukan oleh media dan menggunakan pakaian tertentu seperti didalamnya pemuda-pemudi tidak tahu batasannya, berpakaian terbuka layaknya kekurangan bahan, para pria berpakaian menyerupai wanita begitupun sebaliknya.

Dan yang paling menyedihkan adalah para remaja meninggalkan sekolah hanya demi ngonten ikut-ikutan tren fashion tersebut.

Ini bahaya. Karena sekadar ikut-ikutan tren yang ada. Ibarat mengikuti aliran air tanpa pernah tahu di depannya ada air terjun, akhirnya bisa ikut tenggelam. Inilah yang terjadi dalam sistem sekuler liberal, penganut kebebasan sehingga hal-hal yang menyangkut rusaknya generasi pun dianggap hanya sebatas bentuk ekspresi belaka bahkan diberikan kenyamanan tempat.

Berita Terkait