Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Di Balik Massifnya Pengarusan Moderasi Beragama

383
×

Di Balik Massifnya Pengarusan Moderasi Beragama

Sebarkan artikel ini
Di Balik Massifnya Pengarusan Moderasi Beragama
Qaireen (Pegiat Literasi)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Upaya pengarusan paham moderasi beragama kian hari makin mendapatkan panggung. Baru-baru ini Presiden RI baru saja menunjuk Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Ketua Pelaksana Sekretariat Bersama Moderasi Beragama.

Penunjukan dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023. Sekretariat Bersama Moderasi Beragama bertugas mengoordinasikan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan penguatan moderasi beragama di instansi pusat dan daerah.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Tugas utama Yaqut dan jajarannya adalah memperkuat moderasi beragama. Perpres itu menekankan pada penguatan cara pandang, sikap, dan praktik beragama secara moderat untuk memantapkan persaudaraan dan kebersamaan di kalangan umat beragama.(cnnindonesia/29/9/2023)

Mengenal Narasi Moderasi Beragama

Moderasi berasal dari bahasa Inggris “moderation”, yang berarti sikap sedang atau sikap tidak berlebih-lebihan. Penggunaan term moderasi beragama lebih menggambarkan sikap yang mencoba menjadi penengah (wasath, wasit), memberikan solusi, dan jalan tengah di antara dua titik esktrim.

Sebagai seorang Muslim, hendaknya melihat sesuatu dengan kaca mata Islam terhadap munculnya berbagai paham baru yang menyematkan Islam di belakangnya. Jangan sampai kita terjebak dengan pemahaman yang sebenarnya bertentangan dengan agama kita sendiri. Ide moderasi Islam ini pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah umat.

Ada tiga alasan mengapa moderasi beragama ini bertentangan dengan Islam.

1. Mereduksi ajaran Islam karena menggunakan tafsir yang sesuai nilai-nilai Barat

Paham moderasi beragama jelas bertentangan dengan Islam. Karena paham ini merupakan ide turunan sekularisme yang menjadi asas tegaknya peradaban kapitalis.

Namun para pengusung ide ini berusaha menyandingkan paham ini dengan istilah Islam moderat, al-Islam al-Wasat. Sehingga moderasi Islam diungkapkan dengan frasa wasatiyyat al Islam. Maka moderasi beragama dianggap sejalan dengan Islam.

Dengan mengutip Qur’an surah Al-Baqarah: 143, kaum moderat menggunakan ayat ini sebagai dasar propaganda moderasi. Menurut mereka, dalam ayat ini memerintahkan umat Islam menjadi umat moderat.

Kata wasathan mereka artikan di tengah-tengah. Artinya tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu lembek dalam beragama, yang kenyataanya justru lebih kepada menafsirkan Islam sesuai hawa nafsu mereka.

Jika kita merujuk pada tafsir ulama terdahulu, akan didapati bahwa makna ummatan wasathan adalah sebagai berikut.

Imam ath-Thabary menafsirkan kata awsath sama dengan khiyar, yang terbaik dan pilihan . Status umat terbaik tak bisa lepas dari risalah Islam yang diberikan pada mereka.

Sayyid Qutb menafsirkan ummatan wasathan artinya umat yang adil dan pilihan, menjadi saksi atas manusia seluruhnya. Maka umat Islam menjadi penegak keadilan di tengah-tengah manusia.

Ibnu Katsir menjelaskan, Allah menjadikan umat ini sebagai ummatan wasath, dengan memberi pengkhususan dan keistimewaan berupa syariah paling sempurna, tuntutan paling lurus, jalan terjelas. Status mulia itu disandang saat menjalankan risalah tersebut. Sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Ali-Imran: 110 tentang umat terbaik.

2. Selalu dikaitkan dengan isu radikalisme yang menstigma Islam dan umat Islam

Dalam beberapa tahun terakhir, moderasi beragama menjadi tema penting dalam menyikapi apa yang disebut oleh sebagian orang sebagai menguatnya arus radikalisme atau lebih tepatnya ekstrimisme beragama.

Arus moderasi sekaligus dianggap mampu menjadi solusi untuk menetralisir gerakan radikalisme. Bahkan moderasi agama atau Islam moderat digadang sebagai solusi untuk menangkal radikalisme. Di mana, radikalisme seakan dijadikan momok yang akan mengancam keutuhan bangsa.

Realitas yang terjadi di Indonesia saat ini, kaum radikalis atau ekstrimis selalu dikaitkan dengan umat Islam yang taat beragama dan kritis terhadap kebijakan politik di dalam negeri. Banyak tudingan negatif yang disematkan kepada umat Islam, khususnya pada mereka yang meninggikan nilai Islam dan menyuarakan syariah Islam.

Padahal sangat jelas bahwa istilah radikal merupakan labeling game yang diberikan Barat bagi kaum muslim yang ingin berislam kaffah. Muslim yang taat beragama dan taat pada syariat justru dikriminalisasi.

3. Bagian dari proyek global mengukuhkan hegemoni negara kapitalis di negeri muslim.

Jika kita menelisik lebih dalam, akan terlihat jelas bagaimana paham ini merupakan agenda global Barat yang terus digaungkan dalam rangka mengaburkan paham Islam yang sempurna dan menyeluruh. Barat terus menggencarkan serangan pemikiran untuk membendung geliat kebangkitan Islam sebagai sebuah peradaban.

Gencarnya proyek moderasi beragama ini menunjukan bahwa Barat telah berupaya membendung kekuatan Islam. Proyek moderasi beragama ini memiliki misi terselubung, yakni menguatkan Islam ala Barat, moderasi Islam, ide pluralisme, kemudian memberikan jalan bagi tegaknya kehidupan sekularisme liberalisme.

Keberhasilannya telihat bagaimana mereka mengotak-ngotakan ajaran agama. Hal ini sejalan dengan apa yang tertuang dalam dokumen Rand Corporation, yang membagi Islam dengan berbagai jenisnya. Ada yang disebut Islam moderat, Islam radikal, Islam liberal, Islam fundamentalis dan seterusnya. Tujuannya sangat jelas yaitu memecah belah persatuan umat Islam.

Padahal, kita tau bersama Rasulullah saw. hanya mengajarkan Islam yang satu, yaitu Islam Rahmatan lil’alamin. Seluruh dunia hanya ada satu Islam, yaitu Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah.

Sikap Umat Islam

Untuk itu, umat Islam harus sadar akan bahaya ide moderasi beragama karena di dalamnya ada ide pluralisme yang menganggap semua agama benar. Karena sangat jelas dijelaskan dalam kitabullah, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah Swt.

Moderasi beragama juga bertentangan dengan Islam, sebab dipahami di antara sikap keagamaan yang dianggap moderat yaitu mereka terbuka terhadap pluralisme, yang percaya bahwa semua agama adalah benar.

Bentuknya antara lain, Muslim boleh mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani, merayaan Natal bersama, doa lintas agama, shalawat di gereja dan lain-lain. Sementara, hal ini sangat bertentangan dengan akidah Islam. Hal ini jelas-jelas bentuk penyimpangan akidah karena mencampur adukkan yang hak dan batil.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S Al-Baqarah : 208).

Untuk itu kaum muslim jangan sampai terjebak pada upaya musuh Islam yang menciptakan kekacauan dan perpecahan di kalangan internal umat Islam. Wallahu alam bi ash shawwab. (*)

 

Penulis

Qaireen
(Pegiat Literasi)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!