Advertisement - Scroll ke atas
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
NasionalNewsRegional

Eksplorasi Hutan Penyebab Banjir Bandang di Garut

312
×

Eksplorasi Hutan Penyebab Banjir Bandang di Garut

Sebarkan artikel ini
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

MEDIASULSEL.com – Kabupaten Garut, Jawa Barat mengalami bencana banjir bandang hebat pada Rabu dini hari, 21 September 2016. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban 23 orang meninggal dunia dan 18 orang belum ditemukan.

Kerusakan lingkungan diduga menjadi penyebabnya. Garut sebenarnya merupakan salah satu penyangga penting bagi kelestarian lingkungan di Jawa Barat.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sepuluh tahun yang lalu, hampir 40 persen luas kabupaten ini masih berupa hutan. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi sektor pariwisata, tambang dan pertanian mengubah luasnya hutan itu.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mencatat, bencana banjir kecil di Garut sebenarnya sudah terjadi beberapa kali sebelum ini. Banjir ini seharusnya menjadi tanda bagi pemerintah daerah setempat, bahwa ada kesalahan pengelolaan lingkungan yang terjadi.

Namun, keinginan untuk memperbesar pendapatan daerah melalui pengembangan wisata dan pertambangan, membuat peringatan itu tidak terbaca.

Direktur Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan menceritakan, kota Garut yang mengalami bencana banjir bandang kali ini, berada di sebuah cekungan.

Sungai Cimanuk berada tepat di pusat cekungan itu, dengan puluhan sungai kecil yang memasok airnya. Sungai-sungai kecil ini berhulu di gunung-gunung yang mengelilingi Garut, di mana hutan sudah rusak dan tanah tidak mampu lagi menahan air.

“Memang daerah tangkapan air inilah yang sudah berubah fungsi, sekarang sedang tren apa yang disebut sebagai TWA atau Taman Wisata Alam. Dimana sebuah perusahaan bisa bekerja sama dengan pemerintah, membangun sarana wisata di hutan konservasi, yang seharusnya berfungsi sebagai hutan.

Hutan konservasi, lanjut Dadan, kenapa dijadikan sarana wisata? Dimana sepuluh persen wilayahnya bisa dibangun, dibeton. Jadi pasti, semua itu akan memberikan pengaruh pada bencana ini. Kerusakan lingkungan dengan pola yang sama terjadi merata di Jawa Barat.

Lihat Juga:  Ikut Aksi Damai 212, Ratusan Warga Ciamis Jalan Kaki ke Jakarta

Walhi mencatat, sejak Januari hingga sekarang, sudah ada lebih dari 100 korban meninggal dari berbagai bencana akibat kesalahan pengelolaan lingkungan yang tak berimbang. (ns/lt/voa)

error: Content is protected !!