Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Stunting
Opini

Gara-gara SKSD (Sekular-Kapitalis Sampai Durhaka)

392
×

Gara-gara SKSD (Sekular-Kapitalis Sampai Durhaka)

Sebarkan artikel ini
Gara-gara SKSD (Sekular-Kapitalis Sampai Durhaka)
Andi Aini (Part of Mahasiswa Cinta Qur’an)
  • Pilkada Sulsel (KPU Sulsel)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Komunikasi yang baik merupakan hal krusial dalam proses mendidik dan membangun hubungan antara orang tua dengan anak. Namun, saat ini justru semakin banyak terjadi kegagalan komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya.

Lahirlah istilah-istilah seperti Toxic Parents, Strict Parents dan masih banyak lagi, orang tua dianggap otoriter dan acuh terhadap pendapat, keinginan dan perasaan anaknya karena banyak faktor. Namun dengan dalih tersebut juga, anak-anak semakin mudah membangkang dan susah diatur.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Tidak jarang kita mendengar berita yang bikin garuk-garuk kepala, tidak habis pikir. Baru-baru ini, lantaran sakit hati terhadap ayah kandungnya yang seorang pedagang di sebuah toko perabot Kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.

2 remaja putri berinisial “K” (17 tahun) dan “P” (16 tahun), tega menusuk ayahnya dengan pisau setelah dimarahi karena kedapatan mencuri uang ayahnya. Layar beranda kita dipenuhi berita-berita yang sering sekali bikin shock, yang viral banyak yang tidak tersiar pastinya lebih buanyak. Lama-lama normalisasi, entah orang tua atau anaknya yang dituduh punya penyakit mental. Padahal dengan jeli kita dapati inilah buah dari paham sekular-kapitalis

Buah Sekular-Kapitalis

Sekularisme adalah suatu paham, kepercayaan atau ideologi yang berpendirian, agama tidak boleh masuk ke dalam urusan politik, negara, atau institusi publik. Kaum muslim yang memisahkan agama Islam dengan kehidupan publiknya (fasluddin ‘anil-hayah) berarti ia, sadar tidak sadar telah menganut paham sekular.

Paham ini kian menggerus dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Kita dibuat sekuler dari segala arah terutama melalui pendidikan, sosial, dan aturan, akhirnya menjadi manusia-manusia miskin tauhid, akhlak dan adab, yang tidak lagi mampu mengontrol emosi, rapuh dan tidak yakin kepada Allah SWT.

Sekularisme merupakan akar dari liberalisasi ekonomi yang melahirkan paham kapitalisme. Masuk secara paksa ke Indonesia melalui proses penjajahan, khususnya oleh pemerintah Hindia Belanda.

Prinsip negara sekuler telah termaktub dalam Undang-Undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119, menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, tidak memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama (Suminto, 1986:27).

Orang tua dan anak saat ini bahkan diperkeruh sifat individualis. Kapitalisme tadi, menjadi sistem perekonomian yang menekankan peran pemilik modal atau kapital (Bagus, 1996).

Namun, Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme lebih dari sekedar sistem perekonomian, ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai sistem sosial bagian dari gerakan individualisme.

Hayek (1978) juga memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi. Sadar tidak sadar masyarakat akan berpaham kapitalis seiring dengan sekular dan liberalnya sistem perekonomian kita. Kita menjadikan materi sebagai tujuan, tidak lagi memikirkan halal haram jalan yang ditempuh, apalagi pada kewajiban birrul walidain.

Orang tua sibuk mencari nafkah dan mengumpulkan harta untuk kehidupan yang mahal, mustahil gratis, sehingga sulit untuk mengontrol remaja dan anak-anak. Mereka telah diserahkan sepenuhnya pada sekolah dan lingkungan sosial.

Sekolah sekular dengan kurikulum yang tidak menekankan aqidah, akhlak, syari’at sebagai pemahaman basic sebelum ilmu lainnya (yang tetap harus kontrol seiring berjalannya ilmu-ilmu lain) dan rasa takut kepada Allah SWT dikeadaan apapun, termasuk ketika tidak bersama guru yang mereka segani.

Anak-anak akan belajar dari lingkungan dan aturan sosial, mengenal istilah-istilah dan sikap seperti apa yang dapat menjadi pembelaan ketika berhadap dengan orang tua, menyalahkan orang tua atas keadaan yang serba sulit, bahkan dengan biadab dan durhaka bisa menghilangkan nyawa karena gengsi dan hanya berorientasi hanya uang dan uang.

Islam Pendidik Generasi Memuliakan Orang Tua

Dalam Q.S An-Nisa’ ayat 36 Allah SWT berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…”

Sangat gamblang, setelah datang perintah beribadah kepada Allah SWT dan tanpa sekutu baginya, berbakti terhadap orang tua menjadi amalan yang berkedudukan tinggi. Namun, sistem pendidikan yang sekular, tidak mendidik generasi tahu-menahu apa itu birul walidain dan bagaimana urgensinya (dalam artian tidak ada pengawal), rusak hubungan dan komunikasi kepada Allah SWT apalagi dengan orang tuanya.

Fitrah dan akalnya tidak terpelihara sesuai syara’, sehingga tidak mampu memahami kembail tujuan penciptaannya sebagai hamba dan khalifah dimuka bumi. Bagaimana mungkin mampu membawa rahmat dan kabar gembira untuk seluruh alam, jika mereka hanya menjadi generasi rusak dan merusak.

Islam secara fundamental mendidik generasi yang berfikir dan bertindak (fikrah dan thariqah) sesuai syara’, akhirnya memiliki corak unik dalam bersikap yakni berkepribadian Islam. Akan menghujam betul pesan dalam surah Al-Isra’ ayat 23 : “…dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” dengan demikian generasi akan paham bahwa baqo’ (naluri mempertahankan diri) itu harus dikendalikan.

Mereka akan mencari cara bagaimana meredam emosi dan menemukan perfect timing berbicara, berkeluh kesah, meminta sesuatu atau bahkan menasehati orang tua.

Islam sebagai seperangkat aturan menyeluruh dari Sang Khaliq (semua hal termasuk aturan, hukum dan sanksi) pastinya memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal. Juga menegakkan sistem sanksi yang menjerakan sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak pada orang tua. Wallahu a’lam bisshowwab. (*)

 

Penulis: Andi Aini (Part of Mahasiswa Cinta Qur’an)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

  • DPPKB Kota Makassar
error: Content is protected !!