Beranda » Nasional » Indonesia Targetkan Penurunan Kasus Kebutaan pada 2020
Indonesia Targetkan Penurunan Kasus Kebutaan pada 2020
Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberi sambutan pada peringatan hari Penglihatan Sedunia di Surabaya, Jumat (12/10). (foto: Petrus Riski/VOA)
Nasional

Indonesia Targetkan Penurunan Kasus Kebutaan pada 2020

SURABAYA – Pada tanggal 11 Oktober diperingati sebagai Hari Penglihatan Sedunia, yang pada puncak peringatannya di Surabaya ditandai dengan peluncuran Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Mata (Sigalih).

Berbagai upaya dilakukan termasuk memanfaatkan aplikasi Sigalih, untuk mempercepat penanggulangan dan pengurangan angka gangguan penglihatan di Indonesia.

Sejak tahun 2017, prevalansi kasus kebutaan di Jawa Timur adalah yang tertinggi di Indonesia, yaitu 4,4 persen. Sekitar 2,9 persen kasus kebutaan diakibatkan oleh katarak.

Secara angka, gangguan penglihatan di Jawa Timur hingga kini mencapai sekitar 176.000 orang, dengan angka katarak sebanyak sekitar 41.000 orang.

Angka yang masih cukup tinggi ini membuat Menteri Kesehatan Nila Moeloek mendorong para dokter mata yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) untuk lebih sering melakukan bakti sosial operasi katarak.

Upaya lain yang dilakukan Kementerian Kesehatan adalah meluncurkan aplikasi Sigalih, atau Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Mata, yang dapat melakukan deteksi dini kelainan mata secara tepat, yang selanjutnya dapat diambil tindakan berupa operasi katarak.

“Jadi kita sebenarnya mesti kerja keras sekali, ini sudah tinggal dua tahun lagi. Oleh karena itu, kita bikin sistem Sigalih itu betul-betul, bahwa yang mana yang harus dioperasi insyaallah itu kemudian akan bisa dilakukan,” ungkap Nila.

“Kami juga, saya menghargai upaya dokter mata ini, mereka punya kelebihan, mereka bisa melakukan bakti sosial operasi katarak, jadi tidak hanya mengikuti BPJS, tetapi bisa mandiri, tapi juga ada yang disebut bakti sosial,” lanjut Nila.

Nila menambahkan, operasi katarak saat ini merupakan cara untuk mengatasi mata katarak, namun masih perlu terus dilakukan kampanye pencegahan dan sosialisasi pentingnya kesehatan mata.

Ia menargetkan penurunan angka gangguan mata, khususnya katarak, agar masyarakat Indonesia lebih sejahtera karena dapat bekerja dengan baik tanpa ada gangguan penglihatan.

“Lima ratus ribu minimal kita harus lakukan operasi katarak, per tahun. Kekuatan kita, kita perhitungkan baik dengan adanya kekuatan dokter mata, kekuatan finacial dan sebagainya, kita ambil, cut dulu di 200 (ribu)”

“500 ribu saja dilakukan operasi itu sudah lebih baik, karena kalau enggak, sisanya jadi backlog, nanti tahun depan jadi satu setengah juta, terus menerus seperti itu,” tambahnya. [VOA/shar]