Beranda » Peristiwa » Ini Alasan Pelaku Melempar Kantor NU dan Gereja di Magelang
Ini Alasan Pelaku Melempar Kantor NU dan Gereja di Magelang
Warung tempat polisi menemukan pelaku perusakan yang sedang belanja. (foto: VOA/Nurhadi).
Hukum Peristiwa

Ini Alasan Pelaku Melempar Kantor NU dan Gereja di Magelang

MAGELANG, JATENG – Selama dua hari berturut-turut 26-27 Oktober 2018, terjadi aksi pelemparan batu ke kantor organisasi Islam, Nahdlatul Ulama, dua gereja dan sebuah sekolah Kristen di Magelang, Jawa Tengah. Pelakunya telah ditangkap.

Pemilik warung Nanik Siswati di Probolinggo, Magelang, tak menyangka sejumlah laki-laki yang mengenakan kaos itu adalah polisi.

Yang dia tahu, mereka kemudian berbicara sebentar dengan Hasan, pelanggan di warungnya.

Hasan bersama anaknya, kemudian mengendari sepeda motor menuju rumahnya, 400 meter di utara warung, diikuti beberapa laki-laki itu. Peristiwa tersebut terjadi Sabtu sore (27/10/2018).

Belakangan baru dia paham, Hasan adalah pelaku pelemparan batu ke kantor NU, gereja dan sekolah Kristen di Magelang, Jawa Tengah.

“Kemarin (Sabtu sore-red) kan lagi beli Rinso di warung saya. Terus dia suka ngobrol macam-macam, makanya saya tinggal duduk”

“Lalu dia keluar. Ternyata di depan pintu sudah dijagain orang berkaos hitam dan rambutnya disemir. Saya tidak tahu kalau itu aparat polisi. Makanya saya membatin, siapa itu?”

“Ternyata kok mereka menghadang Pak Hasan. Saya intip dari dalam warung, lalu Pak Hasan ditangkap. Warungnya lalu saya tutup,” ujar Nanik.

Hasan melakukan aksinya pada Jumat (26/10). Dia melempar batu yang merusak kaca depan kantor Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.

Setelah itu, pada Sabtu dini hari dia juga beraksi di Ruang Sakristi Kapel Tyas Dalem Desa Mandungan, Srumbung, Gedung SMK Pangudi Luhur di Muntilan, Gereja Santo Antonius, Muntilan dan Gedung DPC PDI Perjuangan Magelang.

Semua berada di wilayah hukum Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Dalam keterangan resmi hari Minggu (28/10) Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo SIK,SH, menyatakan, dari hasil penyelidikan pelaku bergerak sendiri.

Pelaku tidak berafiliasi ke kelompok-kelompok atau ormas Islam di Kabupaten Magelang.

“Didahului dengan penyelidikan, pencarian dan mengumpulkan keterangan serta barang Bukti, satu orang yang diduga tersangka Pelemparan Gedung MWC NU Salam, berhasil ditangkap Tim Opsnal Reskrim”

“Tersangka berinisial NA, 44 tahun, warga Salam, Magelang, merupakan guru di sebuah pondok pessantren di Salam ini,” kata Hadi Purnomo.

Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Salam Najib Chaqoqo mengapresiasi kinerja kepolisian.

Warga NU sepenuhnya percaya polisi bisa menyelesaikan kasus tersebut.

“Kasus ini sudah ditangani pihak berwajib, jadi kami menyerahkan sepenuhnya untuk urusan hukumnya kepada pihak berwenang”

“Selanjutnya untuk pembelajaran bersama untuk kita semua. Untuk warga NU dan Banom NU, Banser untuk tetap tenang dan jangan terpancing dan jangan terprovokasi. Intinya serahkan prosesnya kepada kepolisian untuk menanganinya,” kata Najib.

Najib menegaskan, warga NU tidak akan memperpanjang dan memperbesar masalah. Pilihan sikap itu, tambahnya, didasari fakta bahwa pelakunya tunggal dan bergerak sendiri.

“Kami yakin, dia bukan anggota dari organisasi tertentu dan tidak terorganisir,” imbuh Najib.

Kondisi bagian depan Kantor NU Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah yang pecah kacanya. (Foto dok. Najib Chaqoqo)

Pelaku Pelemparan

Laki-laki yang menurut polisi berinisial NA, atau oleh para tetangganya dikenal sebagai Hasan, berprofesi sebagai penjual buku keliling.

Anita Lestari, yang tinggal tak jauh dari Hasan mengaku pernah bertemu dengannya ketika menjadi petugas sensus.

Selain menjadi guru di sebuah pondok pesantren, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Hasan berdagang.

“Secara resmi statusnya tercatat sebagai pedagang kitab dan buku-buku. Selain itu juga madu,” kata Anita.

Seorang sumber mengatakan, seseorang yang sangat mirip dengan Hasan pernah melakukan aksi di tengah kegiatan warga NU di Magelang.

Dalam acara Gebyar Muharram pada 9 September lalu, tiba-tiba ada seseorang yang memaki-maki Banser di tengah acara.

Beberapa orang mengambil foto pelaku, dan meyakini sebagai orang yang sama dengan Hasan.

Nanik Siswati, yang hampir setiap hari bertemu Hasan, kenal cukup baik dengan perangainya.

Laki-laki itu memiliki enam anak, berwatak keras dan sering menyampaikan banyak pesan keras ke para tetangganya.

“Pak Hasan dulu baik, biasa saja. Tetapi akhir-akhir ini sering marah ke ibu-ibu atau perempuan yang tidak memakai jilbab”

“Bapak-bapak kalau ke masjid harus pakai baju koko, nggak boleh pakai batik. Kalau menurut saya sih, Pak Hasan ini tertekan, lagi banyak pikiran, ada masalah ekonomi juga. Lagi susah,” kata Nanik.

Nanik menilai, cukup berat bagi Hasan menghidupi keluarga dengan enam anak itu, hanya dengan berjualan buku dan madu.

Namun, apa yang mempengaruhi sikap Hasan sebenarnya, perlu diselidiki lebih jauh oleh polisi.

Kepada polisi, Hasan mengaku melakukan aksinya karena marah atas insiden pembakaran bendera di Garut oleh oknum anggota Banser.

Berita-berita yang dibacanya di media membuatnya semakin emosi dan memutuskan untuk melakukan aksi itu.

Najib Chaqoqo, secara khusus menilai, perlu ada dialog kepada orang-orang yang berprinsip seperti Hasan ini.

“Kalau istilah teman-teman, mereka ini perlu diajak ngopi. Perlu dialog dengan mereka karena pahammya kan paham sempit, yang bisa dikatakan menyimpang dari pandangan umum,” kata Najib.

Kondisi bagian depan Kantor NU Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. (Foto dok Najib Chaqoqo).

Masyarakat Diminta Tenang

Komandan Gerakan Pemuda Kabah (GPK) Amar Rosuli, Magelang, Gus Keliek kepada VOA dikutip Mediasulsel.com mengatakan aksi Hasan ini sebagai bentuk provokasi.

“Jelas dia provokator. Boleh saja kalau memang benci ataupun mengutuk tindakan pembakaran bendera tauhid di Garut oleh oknum banser”

“Tetapi jangan terus berulah seperti itu. Apalagi kejadian harinya sama dengan acara aksi bela kalimat tauhid yang kami lakukan di Muntilan,” kata Gus Keliek.

Karena merupakan bentuk provokasi, Gus Keliek meminta masyarakat tidak bereaksi negatif atas apa yang terjadi.

Magelang selama ini dikenal adem ayem dan kerukunan umat beragama terjaga baik.

Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo meminta, karena pelaku telah tertangkap, semua pihak yang berselisih paham harus menahan diri.

Tidak ada pihak yang melakukan aksi lanjutan karena dikhawatirkan akan memperkeruh situasi.

Masyarakat harus mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak Kepolisian.

“Masyarakat Magelang agar tetap tenang, tidak panik dan tidak mudah terprovokasi demi menjaga suasana kondusif,” kata Kapolres.

Kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh Ormas Islam se-Magelang mohon kiranya ikut menyejukan situasi dan mengajak masyarakat tetap guyub, rukun dan damai,” tambah. [VOA/shar]