Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Jangan Biarkan Kota Daeng Berdansa Sampai Akhir Zaman

328
×

Jangan Biarkan Kota Daeng Berdansa Sampai Akhir Zaman

Sebarkan artikel ini
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—“Mari kita berdansa sampai akhir zaman” sepenggal kalimat yang menggemparkan masyarakat Sulawesi Selatan yang terucap dari mulut seorang pengacara kondang tanah air di sela-sela kesibukannya mempersiapkan peresmian W Super Club miliknya di kota Makassar.

Namun belum cukup sepekan setelah diresmikan, W Super Club milik pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mulai mendapat kritikan dan penolakan dari berbagai kalangan masyarakat khususnya di kota Makassar.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

W Super Club yang digadang-gadang bakal menjadi pusat tempat hiburan terbesar di Kota Daeng yang terletak di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) Kota Makassar tersebut ramai ditolak tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan. Mulai dari Ulama sampai masyarakat awam yang paham betul dampak apa yang akan ditimbulkan dari tempat hiburan tersebut. Salah satunya dari Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Makassar.

Dilansir dari KOMPAS.com, Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Makassar mengeluarkan pernyataan sikap penolakan terkait hadirnya W Superclub Makassar milik pengacara kondang Hotman Paris Hutapea tersebut.

Ketua PP Muhammadiyah Makassar, Said Abdul Shamad dan Sekretarisnya, Achmad AC dalam suratnya ke Pemerintah Kota Makassar menolak keberadaan W Super Club tersebut.
“Jadi dengan ini kami menyatakan menolak dengan keras hadirnya lokasi tersebut sebagai pusat clubing terbesar di Kota Makassar,” kata Said dalam suratnya. Suara.com

Akibatnya, tak sedikit masyarakat yang menolak berdirinya W Superclub tersebut. Mereka menganggap tempat hiburan itu nantinya dapat merusak generasi muda.

“Parah sih kalau pemerintah tetap mengizinkan tempat clubing besar di Kota Makassar. Yakin dan percaya tidak lama pasti azab Allah akan turun jika pemerintah mengizinkan beroperasi tempat maksiat tersebut,” kata Wawan, seorang warga Makassar ditemui Kompas.com, Kamis (30/5/2024).

Sementara, warga lain yakni Muhsin juga merasa kehadiran W Superclub dapat merusak citra Kota Makassar. Apalagi lokasi W Superclub terbilang dekat dari ikon Kota Daeng yakni Masjid 99 Kubah.

“Itu masih dalam area (CPI) kan tidak bagus, apalagi Masjid 99 Kubah sering dijadikan tempat kegiatan agama, peringatan keagamaan, dan wisata religi,” jelasnya dihubungi Kompas.com, Kamis.

Bak gayung bersambut Pemerintah Kota Makassar akhirnya menjawab surat penolakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar tersebut. Surat itu ditandatangani Pj Sekretaris Daerah Kota Makassar, Firman Pagarra pada Senin 30 Mei 2024. (IDN Times)

Namun sayangnya pemerintah kota tidak berwenang mengoreksi perizinan sebab, menurut Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto perizinan untuk THM sebenarnya bukan lagi kewenangan pemerintah kota. Hal itu berlaku sejak terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko.

“Surat dari Muhammadiyah Kota Makassar, saya kira secara praktis memang tidak tepat kalau dialamatkan ke pemerintah kota karena otoritasnya bukan di kami,” kata Danny saat konferensi pers di kediamannya, Kamis (30/5/2024). (IDN Times)

Disisi lain, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makassar, Helmy Budiman, mengaku pihaknya telah menelusuri perizinan W Super Club. Namun sistem OSS menjadi kebijakan pemerintah pusat.

Perizinan untuk W Super Club juga menjadi kewenangan Pemprov Sulsel sehingga tidak dapat dikoreksi oleh Pemkot. Pihak Pemkot juga berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel.

“Kita lakukan penelusuran dan telah terbit tanggal 24 Mei 2024 untuk beberapa kegiatan usaha, salah satunya bar. Izinnya dari tahun lalu,” kata Helmy. (IDN Times)

Inilah realitas dalam sistem ekonomi kapitalisme, perizinan tempat hiburan dengan mudah diperoleh oleh siapa saja yang punya cuan. Asas manfaat menjadi jalan untuk meraup materi dan keuntungan tanpa melihat dampak apa yang akan ditimbulkan di masa mendatang.

Meski negara ini mayoritas berpenduduk muslim namun bukan berarti aktifitas kemaksiatan tidak terjadi bahkan kenyataannya difasilitasi oleh pemangku kekuasaan dengan memberi izin tempat-tempat maksiat seperti club malam dan tempat hiburan lainnya yang sebelumnya memang sudah ada bahkan telah berjalan lama.

Di Makassar sendiri ada banyak tempat-tempat hiburan malam tetapi mungkin karena pemiliknya bukan publik figur jadi terkesan aman-aman saja selama ini.

Semisal D’ Liquid, D’Liquid adalah salah satu tempat hiburan malam yang mampu menampung hingga 2000 orang, sering menampilkan live music dari band-band ternama dalam negeri ataupun dari luar negeri. Tempat hiburan malam ini berada di lantai 3 Entertainment Center Grand Clarion Makassar, Jl. A.P. Pettarani Makassar.

Tempat hiburan ini buka pukul 23.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB setiap harinya. Selain itu, ada pula ladies night sebagai harinya perempuan pada Kamis dan Minggu. Naudzubilah. (SuaraSulsel.id).

Artinya Tempat ini telah mendapatkan izin beroperasi dari pemprov kota Makassar sejak lama.

Belum lagi di kawasan tempat hiburan malam (THM) di sepanjang Jl Nusantara, barat Kota Makassar yang juga cukup terkenal dengan tempat hiburan malamnya, mulai dari tempat karaoke keluarga, karaoke dengan suasana disco hingga panti pijat, berjejer di sepanjang jalan yang berhadapan dengan Pelabuhan Soekarno-Hatta. Bahkan pada pukul 10.23 Wita, gemerlap kehidupan malam di kawasan ini kian terasa. Dengan sejumlah wanita berpakaian seksi akan menghiasi sepanjang jalan tersebut. (Tribuntimur.com).

Sungguh miris bukan, ketika masyarakat hanya fokus pada satu permasalahan yang lagi viral namun lupa bahwa sebelum W Super Club hadir, tempat hiburan serupa telah banyak di kota Makassar yang tentu cukup berbahaya dan mampu merusak moral generasi kita. Dan hari ini Gen Z yang menjadi tonggak estafet peradaban terancam ikut arus liberal jika masyarakat tidak segera bertindak menghentikan semua.

Jika kita jeli melihat permasalahan ini, sebenarnya kondisi ini terjadi akibat diterapkannya sistem sekuler kapitalisme dimana segala sesuatu diukur berdasarkan keuntungan materi oleh kedua belah pihak. Baik dari pemerintah setempat maupun dari pemilik THM.

Adanya pajak penghasilan tentu bukan menjadi penghalang bagi pemerintah memberi izin sebuah tempat hiburan malam beroperasi selama bisa mendatangkan pundi-pundi bagi wilayah setempat, Why Not, Oke Gass.

Nampak jelas masyarakat gagal memahami bahwa kerusakan moral berawal dari difasilitasinya kehidupan masyarakat dengan hiburan yang tidak bermutu terlebih ketika di dalamnya telah nampak dengan jelas adanya kemaksiatan.

Padahal status tempat hiburan malam yang banyak di kota makassar sama saja dengan W Super Clubnya Hotman Paris Hutapea di CPI. Masyarakat terbiasa diam dan tidak mau berbuat apa-apa sebelum sesuatu itu viral dan dianggap mengancam moral anak bangsa.

Berbeda dengan Sistem Islam, Islam memiliki aturan yang paripurna untuk menata kehidupan masyarakat yang berada di bawah periayaannya. Islam menjadikan negara sebagai ra’in dalam menjaga Aqidah, harta dan nyawa rakyatnya.

Dalam masalah perizinan usaha, negara memberi keleluasaan bagi pengusaha atau pebisnis dibidang apapun dengan syarat tidak ada unsur keharaman dan kemaksiatan dalam bisnis tersebut. Negara tidak akan memberi ruang bagi pengusaha-pengusaha nakal untuk beroperasi. Namun jika ada yang nekat berbisnis haram maka negara akan memberi sanksi berupa ta’zir oleh seorang qadhi sesuai kadar/efek yang ditimbulkan.

Tidak akan ditemukan dalam sistem Islam tempat-tempat hiburan malam yang mampu merusak Aqidah dan moral masyarakat. Sebab tempat hiburan malam selalu identik dengan perempuan dan miras yang beraneka macam sementara Islam mengharamkan biang dari kejahatan tersebut. Masyarakat nantinya akan terbiasa dengan suasana keimanan dan diselimuti kesadaran yang lahir dari penerapan syariat Islam.

Sebenarnya Islam tidak membatasi seseorang untuk melepas penatnya setelah seharian bekerja termasuk ketika mereka ingin mencari kesenangan atau hiburan sebab, Islam adalah din waqi’iy yakni agama yang sangat memahami dan menghormati potensi manusia yang memiliki naluri dan hajatul udwiyah yang hendak dipenuhi dalam dirinya.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia menyukai keindahan, kecantikan, kelezatan dan dorongan nafsu untuk memiliki dan menjalankan sesuatu dan Islam menghalalkan itu namun dengan syarat hal tersebut didapatkan dengan cara yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar sesuai apa yang disyariatkan Allah Subhanahu Wataa’Ala.

Untuk itu tugas kita harus lebih massif lagi mengangkat isu-isu krusial yang dianggap mampu mengancam moral dan aqidah masyarakat serta terus berdakwah dan tetap bertakwa agar terwujud Izzul Islam Wal Muslimin hingga akhir zaman. Wallahu’alam. (*)

 

Penulis:
Muni Supirman (Aktivis Dakwah)

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!