Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Stunting
Opini

Kejahatan Semakin Menjadi, Apa Motifnya?

401
×

Kejahatan Semakin Menjadi, Apa Motifnya?

Sebarkan artikel ini
Kejahatan Semakin Menjadi, Apa Motifnya?
ST Naisah, SE
  • Pilkada Sulsel (KPU Sulsel)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Akhir-akhir ini, kejahatan di negeri ini semakin menjadi jadi yang disertai dengan kekerasan, sadis dan mengerikan. Pelaku kejahatan makin sadis kepada para korbannya. Mereka tega membunuh, memutilasi, bahkan merebus korban.

Beberapa waktu lalu, Polisi telah menangkap pelaku yang memutilasi seorang perempuan menjadi puluhan bagian di Kaliurang, Yogyakarta. Kasus pembunuhan diikuti mutilasi ini merupakan setidaknya yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sebelumnya, beberapa hari lalu, polisi juga menangkap pelaku pembunuhan yang memutilasi korban menjadi empat bagian di sebuah apartemen di Tangerang, Banten, lalu dibuang di beberapa lokasi berbeda. Di penghujung tahun lalu, polisi juga mengungkap pembunuhan yang diikuti mutilasi di apartemen Taman Rasuna, Jakarta (Bbc.com, 23/3/2023).

Di Yogyakarta juga, belum lama ini seorang mahasiswa dibunuh dan dimutilasi oleh dua orang pelaku. Untuk menghilangkan jejak, potongan tubuh korban yang dimutilasi tersebut kemudian direbus (Detik.com, 18/6/2023).

Bahkan yang lebih parah dan mengkhawatirkan, banyak dari para pelaku kejahatan sadis dan mengerikan tersebut berusia muda. Bahkan di antaranya remaja usia sekolah.

Belum lama ini, jagat maya dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang bocah oleh dua remaja di Makassar AD (17) dan MF (14). Mereka menculik dan membunuh MFS yang berusia 11 tahun. Mereka berniat menjual ginjal korban. Mereka terobsesi dengan situs jual beli organ tubuh manusia yang menawarkan harga mahal (Kompas.com, 11/1/2023).

Pelajar kelas 3 SMPN 1 Kemlagi, AE dibunuh teman satu kelasnya, AB warga Desa/Kecamatan Kemlagi, Mojokerto pada Senin (15/5/2023) sekitar pukul 19.00 WIB. Pelaku mencekiknya hingga tewas di sawah. Lokasi pembunuhan sekitar 100-150 meter dari rumah pelaku. Pembunuhan ini dipicu sakit hati AB dengan korban. Penyebabnya sepele, pelaku dibangunkan oleh korban saat tertidur di kelas, lalu ditagih untuk membayar iuran kelas yang menunggak 2 bulan Rp40.000.

Tidak hanya itu, tersangka Adi tega menyetubuhi jasad korban hingga 2 kali di rumah AB. Ketika itu, AB keluar untuk membeli tali rafia. Sedangkan rumah tersebut kosong karena khusus untuk memotong dan membersihkan ayam. Adi dan AB membungkus mayat korban dengan karung plastik warna putih. Mereka membuang mayat AE di parit bawah rel KA Desa Mojoranu, Sooko, Mojokerto sekitar pukul 23.00 WIB.

Motif dari mutilasi tersebut beragam, mulai dari masalah ekonomi, kerakusan hingga hubungan asmara. Tindak kriminal seperti ini bisa terjadi, karena faktor internal maupun eksternal. Secara internal, boleh jadi karena lemahnya pondasi agama, khususnya ketakwaan kepada Allah SWT. Akibatnya, keterikatannya kepada hukum Islam lepas. Ditambah stimulasi dari luar yang sangat kuat, baik tontonan, pergaulan, lingkungan masyarakat dan sistem yang rusak.

Apalagi, di Era hari ini, dimana cara pandang hidup masyarakat dipengaruhi oleh sekularisme kapitalisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga hanya mengedepankan ego dan capaian materi sebagai standar kepuasan diri, namun bukan hanya itu, tapi hukum sistem sekularisme kapitalisme yang lemah juga memberi andil terhadap meningkatnya kasus kriminalitas.

Sistem sanksi kapitalisme tidak menjerakan. Hal ini terjadi karena dalam sistem kapitalisme adalah hasil kesepakatan manusia yang berlindung di balik HAM.

Berdasarkan pendapat salah seorang cendekiawan muslim setidaknya ada tiga faktor penyebab kejahatan makin sadis diantaranya:

Pertama, Lumrahisasi kriminalitas, karena orang kehilangan sensitifitas bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa atau melanggar.

Kedua, hukuman yang ada sekarang tidak mampu mencegah terjadinya kejahatan baru, hukuman yang ada tidak menimbulkan efek jera.

Ketiga, adanya stimulus dari luar yang memicu kejahatan. Misal, banyak tontonan yang memunculkan konflik, dendam yang penyelesaiannya dengan membunuh.

Berbeda dalam Islam, ketika menangani pencegahan dalam berbagai tindak kriminalitas, yaitu ada tiga pilar bentuk upaya diantaranya,

Ketakwaan individu dan keluarga

Ketakwaan akan mendorong setiap anggota keluarga senantiasa terikat dengan seluruh aturan Islam. Hal ini jelas akan membentengi setiap anggota keluarga dari melakukan kemaksiatan dan tindak kejahatan.

Karena itu sangat penting peran orang tua dalam menanamkan pendidikan Islam di tengah-tengah keluarga. Pendidikan Islam tentu mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian Islami yang kokoh. Caranya dengan meletakkan pondasi cara berpikir dan berperilaku berdasarkan keimanan kepada Allah. Keimanan yang kuat kepada Allah akan melahirkan ketundukan pada semua aturan-Nya.

Kontrol Masyarakat

Kontrol masyarakat akan makin menguatkan ketakwaan individu dan keluarga. Caranya dengan menumbuhkan kepedulian sosial dan membudayakan aktivitas amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Aktivitas amar makruf nahi mungkar yang dilakukan secara kolektif akan mampu mencegah terjadinya berbagai kemungkaran dan kejahatan yang mungkin dilakukan oleh individu.

Peran Negara

Negara dalam Islam wajib menjaga masyarakat dari kemungkinan berbuat dosa dan kejahatan. Caranya adalah dengan menegakkan hukum hukum Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Negara wajib menjamin setiap warganya agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu sandang, papan dan pangan. Saat semua kebutuhan pokok warga terpenuhi, mereka tidak akan terdorong untuk melakukan berbagai tindak kejahatan.

Negara juga wajib menyelenggarakan sistem pendidikan Islam secara cuma-cuma dengan kurikulum yang mampu menghasilkan anak didik yang memiliki kepribadian Islam yang handal sehingga terhindar dari berbagai perilaku maksiat dan kejahatan.

Selain itu, Negara wajib menjaga agama dan moral masyarakat serta menghilangkan setiap hal yang dapat merusak dan melemahkan akidah dan kepribadian kaum Muslim.

Misalnya, Negara wajib menghentikan peredaran minuman keras, narkoba, pornografi, termasuk berbagai tayangan yang merusak di media maupun di media sosial. Sebabnya, semua itu, jika dibiarkan, bisa memicu terjadinya ragam kemaksiatan dan kejahatan di masyarakat.

Negara dalam Islam adalah pelaksana utama penerapan seluruh aturan Allah SWT. Negara pun memiliki wewenang untuk memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku tindak kejahatan.

Pemberian sangsi kepada pelaku kejahatan dalam Islam adalah memberikan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Karena bisa mencegah mereka dari kemaksiatan dan menggugurkan dosa dosa mereka tatkala diterapkan aturan Allah atas para pelaku maksiat tersebut.

Dengan kata lain. Penerapan sangsi (hukum Allah) terhadap pelaku maksiat itu memiliki sifat jawâbir dan zawâjir. Bersifat jawâbir karena penerapan hukum ini akan menjadi penebus dosa bagi pelaku kriminal yang telah dijatuhi hukuman yang syar’i.

Dan juga bersifat zawâjir, yakni dapat memberikan efek jera bagi pelakunya dan membuat orang lain takut untuk melakukan tindakan kriminal serupa. Karena itu peneraoan hukum Allah akan memberikan jaminan kelangsungan hidup bagi seluruh masyarakat.

Masyarakat akan terlindungi dari berbagai tindak kejahatan. Keamanan dan rasa aman bagi semua orang akan terwujud. Jumlah pelaku tindak kejahatan di masyarakat akan minimal. Penuh sesaknya penjara dan lembaga pemasyarakatan, seperti yang terjadi saat ini hampir di seluruh dunia, tidak akan terjadi saat hukum hukum Allah SWT di terapkan. Karena itu, jika hendak menyelesaikan persoalan kejahatan yang kian menjadi seperti saat ini. Kiranya, kita bisa berkaca dari Islam.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb

Penulis

ST Naisah, SE

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

  • DPPKB Kota Makassar
error: Content is protected !!