Beranda » Internasional » Kekerasan Seksual Picu Pengungsi Rohingya Nikahkan Anak Lebih Dini
Internasional

Kekerasan Seksual Picu Pengungsi Rohingya Nikahkan Anak Lebih Dini

BANGLADESH — Banyak keluarga Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar menikahkan putri-putri mereka lebih awal untuk meringankan beban rumah tangga. Sejumlah anak perempuan berusia sekitar 12 tahunan dinikahkan sehingga tanggungan orangtua berkurang.

Sejak militer melancarkan “operasi pembersihan” putaran pertama di Rakhine tahun lalu, lebih dari 700 ribu warga Muslim-Rohingya telah melarikan diri ke Myanmar. Lebih dari 625 ribu diantara mereka lari ke Bangladesh setelah merebaknya aksi kekerasan terbaru di Rakhine Agustus lalu, di mana menurut Kepala Badan HAM PBB Zeid Ra’ad Al Hussein hal ini bisa dikategorikan sebagai “genosida” terhadap warga Muslim-Rohingya.

Para pengungsi yang telah meninggalkan Myanmar sejak tahun lalu itu kini tinggal di gubuk yang terbuat dari bambu dan plastik di kamp-kamp pengungsian yang tersebar di bagian tenggara Bangladesh. Sebagian besar bergantung pada bantuan amal dan jatah dari badan-badan pengungsi, sebagian besar berada dalam kondisi sangat miskin.

Banyak keluarga yang memiliki banyak anak mengeluhkan jatah bantuan dari Program Pangan PBB WFP tidak cukup dan mereka mengalami kelangkaan pangan.

Noor Ankins, seorang pengungsi Muslim-Rohingnya yang tinggal di Balukhali, Cox’s Bazar, mengatakan kesulitan hidup membuatnya berencana menikahkan anak perempuannya yang masih di bawah umur.

“Sebagian tubuh suami saya lumpuh dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan apapun. Dengan hanya sedikit ransum makanan yang kami dapatkan, saya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan lima anak ini. Jadi saya sedang mencari orang yang ingin menikah dengan Jannatara yang berusia 14 tahun dan Johora yang berusia 12 tahun. Saya tahu seorang anak perempuan sebaiknya menikah setelah ia berusia 18 atau 19 tahun. Tetapi dengan suami yang tidak memiliki penghasilan, saya tidak bisa memberi makan lima anak. Jadi saya ingin menikahkan kedua anak perempuan saya sekarang,” katanya.

Ketua Program Bantuan Internasional di Bangladesh BRAC – Habibur Rahman mengatakan fakta adanya krisis pangan yang memicu terjadinya pernikahan dini anak-anak perempuan Muslim-Rohingya merupakan “kekhawatiran serius”, dan pemerintah serta LSM seharusnya berbuat lebih banyak untuk mengatasi hal ini.

“Sebuah keluarga pengungsi yang memiliki lebih dari delapan anggota keluarga memperoleh dua kartu catu, tetapi keluarga yang memiliki tuju anggota keluarga hanya mendapat satu kartu. Walhasil ada resiko seorang anak perempuan Muslim-Rohingya dinikahkan dini dan berarti perlu lebih banyak makanan per catu. Dengan menikahkan anak perempuan mereka lebih dini, orangtua ingin mengalihkan tanggungjawab memberi makan anak perempuan mereka itu pada suami atau ipar mereka.”

Habibur Rahman menambahkan di Bangladesh, orangtua Muslim-Rohingya juga menikahkan anak laki-laki mereka lebih dini.

“Orangtua Muslim-Rohingya menikahkan anak laki-laki mereka dengan anak-anak perempuan itu sehingga memiliki keluarga terpisah, sehingga menjamin lebih banyak kartu catu untuk ransum makanan. Keluarga ini bisa menyimpan makanan ekstra dan kemudian menjualnya di pasar-pasar lokal agar memiliki uang tunai”

Para pekerja bantuan yang membantu pengungsi Muslim-Rohingya di Bangladesh mengatakan selain krisis pangan, terjadinya kekerasan seksual juga mendorong peningkatan jumlah perkawinan anak. Mereka mengatakan banyak remaja putri dan anak perempuan Muslim-Rohingya yang menjadi sasaran kekerasan seksual di Myanmar, tuduhan yang dibantah keras pemerintah Myanmar.

Samsun Nahar yang melarikan diri ke Bangladesh September lalu bersama sembilan anaknya mengatakan, “Mereka memperkosa banyak perempuan muda dan tua di sekitar kami di Rakhine. Setelah suami saya ditembak mati militer, kami berhasil melarikan diri dengan selamat ke Bangladesh. Di dalam sebuah gubuk kecil yang terbuat dari plastik, kami berkumpul. Catu makanan yang kami dapatkan tidak cukup dan saya tidak bisa memberi makan anak-anak sebagaimana yang mereka inginkan.”

Nahar mengatakan seperti banyak pengungsi lain, ia khawatir tentang pemulangan paksa keluarganya ke Myanmar dan sangat ingin agar kedua anak perempuannya yang berusia 13 dan 14 tahun sesegera mungkin dinikahkan.

“Saya khawatir kedua anak perempuan saya itu menjadi sasaran perkosaan dan penyiksaan di Myanmar kelak. Tetangga-tetangga saya kini sedang mencarikan dua laki-laki bagi mereka,” tuturnya.

Banyak warga Muslim-Rohingya yang telah menyeberang ke Bangladesh sejak tahun lalu mengatakan meningkatnya insiden kekerasan seksual membuat mereka takut kembali ke Myanmar bersama keluarga, karena mereka ingin melindungi anak-anak perempuan dari ancaman pemerkosaan.

Para pekerja bantuan mengatakan praktek menikahkan anak perempuan lebih awal dari biasanya terjadi diantara warga Muslim-Rohingya di Myanmar tak lama setelah sejumlah perempuan dilaporkan telah diperkosa oleh aparat keamanan dalam kerusuhan massal di Rakhine tahun 2012.

Duduk di dalam gubuk yang terbuat dari bambu dan plastik, Sitara Begum yang berusia 14 tahun membuai anaknya supaya tidur. Ia mengatakan tahun pertamanya sebagai remaja sekaligus merupakan tahun pertama perkawinannya. Dan ia akan melahirkan bayi keduanya tahun depan. September lalu Begum lari ke Bangladesh bersama suami dan bayinya berusia empat bulan.

“Ayah saya sudah lama meninggal. Kakak perempuan saya cacat mental dan ibu saya sakit. Kami sangat miskin. Ibu saya tidak bisa mengurus keluarga dan memberi makan kami secara layak,” ujar Begum. [voa/4ld]