PLUT Sulsel studi banding di Thailand untuk melihat langsung pembinaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

MAKASSAR – Penggerak UMKM Sulsel dari konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sulsel mengadakan studi banding di Thailand untuk melihat langsung pembinaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kegiatan yang digelar 20-24 Februari 2020 ini karena Thailand dengan ibukotanya Bangkok bisa menjadi tempat belajar dari aspek tertentu yang dianggap lebih maju, salah satunya UMKM yang menyatu dengan sektor wisata.

Dari sisi kebijakan, Indeks kebijakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) Indonesia baru 3,41 sementara Thailand sudah lebih dari 5.

Aspek pasar, dengan jumlah UMKM Indonesia sekitar 62 juta namun berorientasi ekspor hanya sekitar 14,5 persen di Asia Tenggara. Bandingkan dengan jumlah UMKM Thailand yang hanya 3,5 juta dengan orientasi ekspor di ASEAN mencapai 35 persen.

Saat di Thailand beberapa objek kunjungan antara lain ke di Chatuchak Weekend Market, Talad Neon Market, Nong Nooch Village, pameran UKM red cross bazar, street food Bangkok dll.

Di negeri julukan gajah putih ini bisa dilihat pengembangan pariwisata yang mendukung UMKM atau trickle-down effect dengan tumbuh dan kembangnya usaha hilir atau usaha yang lain.

Banyak usaha spontan dari kemandirian atau pengembangan masyarakat di lokasi tempat wisata namun tetap dibina.

Di Kota Bangkok tampak pedagang kaki lima (PKL) memenuhi sepanjang jalan utama namun pejalan kaki tetap bisa nyaman berlalu lalang.
Dengan trotoar di Bangkok yang lebarnya antara 4-6 meter menjadi lokasi favorit PKL membuka lapak minuman, makanan, souvenir, aksesoris HP, hingga fashion.

Tak heran kota Bangkok dikenal sebagai salah satu street food capital alias kota yang identik dengan makanan pinggir jalan.

Regulasi PKL di Thailand antara lain penentuan lokasi sesuai zona, bisa menetap secara legal di pinggiran kota ketika trotoar tidak padat, membayar setahun sekali biaya keebrsihan,vendor resmi memastikan lingkungan gerobak mereka bersih dan teratur, dll

Kami juga mengunjungi Talad Neon, pasar malam khas Thailand di Jalan Phetchaburi di pusat kota Bangkok berdekatan dengan beberapa Mall mewah.

Pasar Neon sendiri ide dari pemilik Platinum Fashion Mall sehingga usaha besar dan kecil saling bermitra. Pasar malam Neon memiliki kekhasan dari dekorasi warna warni lampu neonnya di sepanjang area yang luas, dengan suasana nyaman dan pengunjung tidak berdesakan.

Di pasar Chatuchak yang sudah menjadi trademark tersendiri bagi kota Bangkok kami melihat langsung pasar tradisional yang menjadi sarana pemasaran produk KUMKM yang memberikan manfaat pariwisata dan perdagangan.

Di Chatuchak weekend market ini digelar setiap akhir pekan dengan booth 15.000 lebih, dengan luas pasar sampai 10 hektare, aneka produk dijual dari pakaian, aksesoris, sampai kuliner khas dengan harga cukup murah.

Pemberdayaan UMKM lainnya di Thailand dengan kebijakan One Tambon One Product (OTOP). Program ini untuk penciptaan produk unik, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bergulir sejak tahun 2001.

Untuk mendukung pemasaran, wisatawan wajib mengunjungi tempat prduksi atau toko yang menyajikan produk unggulan seperti batu permata, sutera, madu dll.

Seiring perkembangan ekonomi syariah, Thailand kini juga menyiapkan tempat wisata yang mendukung bagi traveler muslim. Bahkan, Thailand sudah membangun the Halal Science Center Chulalongkorn University yang mengeluarkan standarisasi industri syariah.

Dengan kunjungan ke Thailand bisa diambil pula pelajaran bahwa UMKM harus disiapkan agar mampu bersaing dan menjadi bagian dari pasar global.

Produk-produk unggulan lokal yang unik harus didorong dan disiapkan, pasar nasional didorong menampung produk-produk lokal dan merancang pameran dengan konsep pemasaran global. (*)