Krisis Identitas: Aksi Pemuda Bikin Nyesek

Krisis Identitas: Aksi Pemuda Bikin Nyesek
Sri Har Wulan Suci

OPINI—Era digital membuat informasi apapun nyaris tidak terbendung. Informasi benar ataupun salah dapat dengan mudah diperoleh melalui medsos tanpa adanya filter. Akhirnya rasa penasaran dan keberanian pemuda terlampiaskan dengan mengikuti informasi yang diterima meskipun menunjukkan aktivitas mengancam nyawa.

Kasus kenakalan remaja berujung maut seperti penghentian kendaraan secara paksa dan tawuran yang masih sering terjadi hingga saat ini. Di Bogor, Seorang remaja berinisial M tewas usai menghentikan paksa satu unit truk yang tengah melaju diduga remaja mengadang dan menghentikan paksa truk untuk membuat konten (Republik.com,15/1).

Selain itu, Aksi tawuran berdarah di kota Palembang makin masif, terakhir dikabarkan satu orang tewas (sumeks.co, 15/1).

Nah, untuk mengantisipasi terjadinya aksi kenakalan remaja pihak kepolisian maupun pemerintah setempat melakukan pengawasan. Apakah ini cukup?? Tapi kok hingga kini masih ramai terjadi dan diperbincangkan?

 

Apa di balik Maraknya Kasus Pemuda?

Miris melihat perilaku generasi saat ini yang terjerat pada aktivitas rusak, sibuk mengejar duniawi, eksistensi dan harga diri. Aksi yang nampak justru hanya potret bobroknya generasi. Tidak ada sebab tanpa akibat. Bobroknya generasi hanya akibat dari sebab. Jika kita cermati dengan baik penyebabnya terjadi karena dua faktor, diantaranya:

Berita Lainnya

Faktor internal berasal dari dalam diri pemuda diantaranya karena krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Gaya hidup bebas, hedonis dan liberal lahir dari sistem kehidupan sekuler penyebab hilangnya identitas pemuda. Kehidupan dunia hanya dipandang sebagai tempat untuk bersenang-senang. Bahkan berani menantang maut, seakan tidak memahami adanya kehidupan setelah kematian.

Lihat Juga:  Inisiatif Percepatan Infrastruktur Sulawesi Selatan

Kesadaran sebagai hamba Allah terkikis oleh akidah sekuler yang menjauhkan pemuda dari aturan agama sehingga mudah tebawa arus kehidupan. Peran pemuda tereliminasi hanya menonjolkan eksistensi diri untuk meraih kepuasan materi, teracuni pemikiran sekuler hingga batin yang kosong dengan nilai Islam. Akhirnya pemuda tidak mampu mengendalikan diri, emosi tidak stabil, nirempati, mental bar-bar menjadi ciri khas.

Berita terkait