OPINI – Ada yang menjadi pemandangan kontra ditengah masa pandemi. Terlihat Mahasiswa FEBI UIN Alauddin Makassar menempati jalan didepan Kampus 1 UIN Alauddin Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 9 Juni 2020. (Terkini.id’ 9/6/2020)

Dimana beberapa hari sebelumnya pun aksi serupa di gelar puluhan Mahasiswa UIN Alauddin Makassar menggelar aksi bisu di depan Kampus II UIN, Jalan H M Yasin Limpo, Samata Kabupaten Gowa, Jumat (05/06/2020) siang.

Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “UKT Membunuh, Mahasiswa Melarat, Rektor UINAM diam,”. Aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap tidak adanya kebijakan yang pro dengan Mahasiswa. (Wasilah, 6/6/2020)

Mahasiswa melakukan aksii demonstrasi terkait tuntutan pemotongan UKT minimal 70% dan penggratisan UKT untuk semester 9. Mahasiswa melihat tidak adanya titik terang dari pimpinan kampus mengenai kebijakan yang diharapkan mahasiswa soal pemotongan UKT semester depan.

“Saya melihat bahwa seharusnya kampus mengeluarkan keputusan yang bijak mengenai pembayaran UKT. Perealisasian penyelenggaraan pendidikan semester ini tidak berjalan optimal. Fasilitas untuk menunjang transformasi ilmu pengetahuan yang optimal tidak dapat diakses,” ujar Ketua SEMA FEBI UIN Alauddin Makassar . (Terkini.id 9/6/2020)

Diketahui, Menteri Agama RI melalui Plt. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) mengeluarkan surat edaran bernomor No. B- 752/DJ.I/HM.00/04/2020 tentang pengurangan UKT/SPP PTKIN akibat Pandemic Covid-19 tertanggal 6 april yang menyatakan bahwa akan ada pengurangan/diskon minimal 10% dari UKT/SPP.

Namun beberapa hari berlalu, Surat Edaran tersebut tidak berlaku setelah muncul surat edaran No.B-802/DJ.I/PP.00.9/04/2020 yang berisikan tentang pembatalan pemotongan UKT/SPP karena alasan adanya pengurangan anggaran dan penyesuaian belanja Kementerian yang menginstruksikan kepada pimpinan PTKIN untuk tetap menerapkan kebijakan dan ketentuan UKT sebagaimana telah diatur KMA yang berlaku dan mencabut surat Dirjen tentang pemotongan UKT dimasa Pandemi Covid-19.

Melihat aksi yang dilakukan oleh para Mahasiswa ini menunjukkan bahwa ada fakta jelas yang sedang menjadi permasalahan didalam dunia pendidikan kita hari ini. Apalagi ditengah masa pandemi saat ini yang tentu semakin membuat beban karna telah banyak pekerja yang dirumahkan, perdagangan manded, perekonomian rontok.

Penampakannya, sistem pendidikan yang diterapkan benar-benar gagap dalam menghadapi keadaan. Terbukti, opsi belajar dari rumah –yang faktanya saat itu menjadi satu-satunya pilihan– malah lebih menyingkap kebobrokan sistem pendidikan yang selama ini diterapkan, sekaligus memunculkan begitu banyak persoalan.

Visi pendidikan yang sekuler kapitalistik, kurikulum yang tak jelas arah, metode pembelajaran yang kaku, dukungan sarana dan prasarana yang sangat minim, membuat penyelenggaraan “pendidikan” di tengah wabah menjadi hal yang terasa begitu memberatkan. Baik bagi para siswa, orang tua, maupun pihak pendidik dan kampus.

Banyak dari mereka yang stres karena tuntutan sistem yang tak jelas. Sekolah daring menjadi tambahan beban tersendiri bagi para orang tua. Baik secara ekonomi maupun mental.

‘Alaa kulli haalin’, kondisi wabah memang betul-betul membongkar kebobrokan sistem hidup yang sedang diterapkan, tak terkecuali sistem pendidikan. Jangankan saat terjadi wabah, saat normal saja, sistem pendidikan yang diterapkan memang tampak rapuh dan tak jelas arah.

Sistem seluler telah tumpul dalam mencetak generasi gemilang dalam peradaban manusia karna orientasi terselenggaranya pendidikan semua terukur dengan materi dan output yang mengarah kepada pencetak mesin roda perekonomian semata alias hanya memenuhi pasar industri milik para kapitalis. Itulah kenapa, kurikulum yang dibuat melulu berorientasi pada sistem vokasi.

Sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam misi pendidikan Islam. Pendidikan dalam sistem Islam diposisikan dalam level yang sangat tinggi sebagaimana Islam menempatkan kedudukan ilmu dan orang yang berilmu pada level yang juga sangat tinggi.

Pemimpin Islam menempatkan sistem pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban cemerlang yang harus mendapat perhatian serius oleh negara, baik dalam menjaga kemurnian visi, kurikulum, metode pembelajaran, hingga dukungan sarana dan prasarananya.

Sebagai gambaran keagungan sistem pendidikan Islam dalam peradaban emas khilafah, cukuplah surat yang disampaikan George II Raja Inggris, Swedia, dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia ini sebagai buktinya:

”Dari George II raja Inggris, Swedia dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia, pemilik keagungan, Khalifah Hisyam III, yang berkedudukan tinggi dan mulia.

Setelah takzim (pengagungan) dan tawqir (penghormatan) Kami memberitahukan kepada Anda bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan pesat “mata air yang jernih” berupa universitas-universitas ilmu pengetahuan dan industri-industri yang maju di negeri Anda yang makmur dan sejahtera.

Maka kami ingin mengirim putra-putra kami (bangsa Eropa) agar bisa mengambil contoh dari keutamaan-keutamaan kalian, dan agar hal ini menjadi awal yang baik dalam meneladani jejak-jejak kalian, untuk menyebarkan cahaya ilmu pengetahuan di negeri kami yang diliputi kebodohan dari empat penjurunya.

Kami jadikan keponakan kami, Princess Dubant sebagai pemimpin delegasi dari para putri pembesar kerajaan Inggris untuk mendapat kehormatan dengan bisa “mengecup bulu mata singgasanamu” dan mengais kasih sayangmu.

Hal itu agar dia dan teman-teman wanitanya menjadi pusat perhatian keagungan Anda. Dan kami bekali putri mungil kami, dengan hadiah kecil lagi sederhana untuk kedudukan anda yang tinggi lagi mulia. Kami memohon kemuliaan Anda untuk menerimanya dengan kami haturkan penghormatan dan cinta yang tulus.

Dari pelayanmu yang patuh, George II Raja Inggris, Swedia dan Norwegia. (Sumber: binbaz.or.id) Wallahu a’lam bissawab. (*)