MAKASSAR – Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi garda terdepan dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak. Melalui para guru dan kepala sekolah, perubahan perilaku masyarakat dinilai bisa dimulai sejak usia dini dan berkelanjutan hingga ke lingkungan keluarga.
Pesan itu disampaikan Melinda saat membuka Workshop Pengelolaan Sampah Gelombang II yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar di Hotel Mercure Makassar, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti kepala sekolah dan guru Sekolah Adiwiyata se-Kota Makassar sebagai bagian dari penguatan edukasi lingkungan di tingkat pendidikan.
Menurut Melinda, predikat Adiwiyata tidak cukup hanya menjadi simbol atau penghargaan. Sekolah harus mampu membuktikannya melalui aksi nyata dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan. Karena itu, peningkatan kapasitas guru menjadi langkah penting agar pendidikan lingkungan tidak berhenti pada teori semata.
“Persoalan sampah tidak bisa lagi hanya diserahkan kepada pemerintah. Semua pihak harus terlibat, termasuk sekolah. Perubahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tantangan pengelolaan sampah saat ini semakin besar seiring kebijakan pemerintah pusat yang menghentikan sistem open dumping di seluruh Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk mulai mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumbernya, termasuk di lingkungan sekolah dan rumah tangga.
Melinda menilai sekolah memiliki posisi strategis karena mampu membentuk pola pikir generasi muda sekaligus memengaruhi perilaku orang tua melalui pendidikan yang diterapkan kepada siswa. Karena itu, sekolah diharapkan menjadi pusat lahirnya budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Selain mengurangi sampah, ia juga mendorong sekolah mendukung program urban farming yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota Makassar. Sampah organik yang dikelola dengan baik dapat diubah menjadi kompos untuk kebutuhan pertanian perkotaan, menciptakan siklus ekonomi sirkular yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Sebagai langkah konkret, Melinda mengajak sekolah menghadirkan berbagai inovasi sederhana seperti pembangunan Teba (Tempat Evakuasi Bahan Organik), penggunaan komposter, budidaya maggot, hingga penerapan biopori modern. Selain menjadi solusi pengolahan sampah, metode tersebut juga dapat menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa.
Untuk memastikan materi yang diterima tidak berhenti di ruang pelatihan, seluruh peserta workshop diberikan tugas membuat video praktik pengelolaan sampah mandiri di rumah. Menurut Melinda, pengalaman langsung akan membuat para guru lebih mudah mengajak siswa dan masyarakat menerapkan kebiasaan serupa.
“Ketika kita sudah membiasakan diri mengelola sampah di rumah, maka akan lebih mudah mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Edukasi yang paling kuat adalah melalui contoh,” katanya.
Melinda berharap para peserta menjadi agen perubahan yang mampu menularkan budaya pengelolaan sampah hingga ke lingkungan sekolah dan masyarakat. Ia optimistis sekolah dapat menjadi motor penggerak lahirnya Makassar yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan melalui aksi nyata, bukan sekadar slogan lingkungan.(70n)













