Beranda » Opini » Menakar Kekuatan Ahok di Film “A Man Called Ahok”
Menakar Kekuatan Ahok di Film “A Man Called Ahok”
Menakar Kekuatan Ahok di Film "A Man Called Ahok"
Film Opini

Menakar Kekuatan Ahok di Film “A Man Called Ahok”

OPINI – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Tokoh politisi amat tegas yang pernah memimpin Jakarta selama dua tahun lebih dengan berbagai perkembangan pembangunan.

Karakter ketegasan Ahok membawa namanya menguat dipermukaan. Banyak kisah kontroversial mengiringinya. Mengawali kariernya sebagai politikus daerah hingga menaklukkan ibu kota Jakarta.

Karir politik Ahok cukup mencengankan dengan awalnya menduduki kursi Anggota DPR RI pada tahun 2009–2014 dan pernah menjadi bupati belitung pada tahun 2005–2009. Walaupun pada pertarungan menduduki kursi 01 DKI ditaklukkan oleh Anies Baswedan di putaran kedua.

Kekalahan Ahok di pilgub kemarin, banyak pengamat politik mengatakan karna dimainkan oleh isu penistaan Agama Islam. Sampai akhirnya Ahok berani menanggun kesalahannya dalam bui.

Meski dalam bui sosoknya masih di idamkan oleh penggemarnya dan merindukannnya kembali seperti sedia kala ketika memimpin Ibukota Jakarta.

Kerinduan ini tersalurkan dari buku “A Man Called Ahok” karya dari Rudi Valinka.

Kemudian di filmkan, dalam filmnya tidak banyak bercerita karier politik Ahok, melainkan hanya bercerita dari sisi kisah hubungan keluarga Ahok yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang. Kim Nam menjadi fokus utama pada film.

Kim Nam adalah pengusaha tambang di Belitung Timur yang dermawan sekaligus sosok ayah yang jujur dan teguh dalam pendirian.

Sosok Kim Nam dan Ahok sebagai tokoh utama yang paling diceritakan di film ini, masing-masing di perangkan oleh dua aktor, Kim Nam mudah di perangkan oleh Denny Sumargo dan Kim Nam tua diperangkan oleh Chew Kin Wah.

Sosok Ahok Muda diperangkan oleh Eric Febrian dan Ahok dewasa diperangkan oleh Daniel Mananta.

Dalam cerita film tersebut antara Ahok dan Kim Nam tidak begitu sejalan dengan kedua prinsip mereka namun lambat laun Ahok memahami prinsip Kim Nam sebagai ayah Ahok.

Film yang disutradarai oleh Putrama Tuta mendapat apresiasi dari para pendukung Ahok sekaligus mendapat antusiasme konsumen penonton film bioskop.

Buktinya dengan keberhasilan rating di situs imdb.com telah mencapai angka 8.9 rate. Ditambah kursi penonton Indonesia sudah menonton A Man Called Ahok di hari 4 pertama sudah mencapai angka 578.747 penonton di 400 layar bioskop di seluruh Indonesia pada hari senin (12/11/2018) pukul 15.00.

Dibalik keberhasilan Reza Hidayat sebagai produser di Film A Called Ahok, ada film yang dipaksa dipercepat untuk tayang di bioskop, film Hanum dan Rangga diangkat dari kisah nyata putri Amien Rais yakni Hanum Rais dan suaminya yang bernama Rangga.

Namun film ini kurang diminati, lebih banyak konsumen melirik film A Man Called Ahok, sampai 4 hari pertama dirilis baru mencapai 201.378 penonton pada hari senin (12/11/2018) pukul 15.04.

Namun ada hal yang aneh terjadi pada Hanum dan Rangga, film ini ternyata di dukung penuh dan dibantu oleh salah satu partai yaitu PAN (Partai Amanat Nasional) dengan menginstruksikan seluru kader PAN menonton Film Hanum dan Rangga.

Sebagaimana surat yang beredar dari sekejen PAN Eddy Soeparno dan Wakil Ketua Umum Viva Yoya Mauladi.

Surat bernomor PAN/WKU-SJ/172/XI/2018 menjelaskan dengan terang alasan pengerahan kader menonton film itu. “Karya dari putri saudaraku M. Amien Rais (ketua dewan kehormatan DPP PAN).”

Bukan hanya dilembaga partai saja intruksi untuk menonton film Hanum dan Rangga, di lembaga pendidikan peguruan tinggi, Universitas Muhammadiyah Surakarta menginstruksikan seluruh mahasiswa dan staf untuk meramaikan film tersebut, sekaligus pihak kampus memfasilitasinya nonton bareng film Hanum dan Rangga.

Meski film Hanum dan Rangga di bantu secara lembaga kampus dan partai politik namun tak menghalangi rating kenaikan film A Man Called Ahok dan tetap bertengger di atas terlampau jauh.

Film A Man Called Ahok bukanlah saingan utamanya bukanlah Hanum dan Rangga melaikan Film akan tetapi Suzanna, Bohemian Rhapsody dan A Star is Born.

Keberhasilan peningkatan A Man Called Ahok awalnya hanya 173 layar, dihari kedua 259 layar, dan dihari keempat sudah mencapai 410 layar diseluruh Bioskop Indonesia.

Film A Man Called Ahok arahan sutradara Putrama Tuta ini, benar-benar berbicara seputar hubungan Ahok bersama keluarga yang tak banyak diketahui orang.

Proses Ahok terlibat dalam dunia politik pun hanya diceritakan sekelebat. Sedangkan kisah cintanya dengan Veronica Tan, juga tidak dihadirkan dalam film.

Tidak dimasukkannya sosok tokoh Veronica Tan dalam film tersebut, tidak mengurangi asumsi film biografi perjalanan Ahok dari sisi kehidupan keluarga ahok yang menjunjun tinggi nilai-nilai kebangsaan.

Setidaknya kehadiran film biografi Ahok menumbuhkan rasa kerinduan pada pendukungnya untuk tetap memberikan semangat kepada bapak Basuki Tjahaja Purnama menghadapi kasusnya yang sementara menjalani hukumannya dengan kasus penistaan Agama.

Dari filmnya pula menggambarkan sikap idealisme Ahok membela Bangsa dan Negara walupun lahir dari keluarga etnis Tionghoa, yang orang kebanyakan mendiskriminasinya.

Sekaligus bisa ditafsir bahwa kekuatan Ahok masih terbilang cukup besar dan terhitung sebagai tokoh yang paling berpengaruh di Ibu kota Jakarta dan seandainya tidak masuk dalam bui, ahok bisa jadi bursa terkuat menjadi calon Wakil Presiden RI di Pilpres 2019. [*/shar]

Penulis: Ikhlasul Amal Muslim
Aktivis Mahasiswa

 

Simak Film trailer “A Man Called Ahok