Menyapu Serbuk Putih Dalam Tubuh Polri

Menyapu Serbuk Putih Dalam Tubuh Polri
Vindy W. Maramis, S.S (Penulis dan Kontributor Opini Islam)

OPINI—Tahun ini tampaknya merupakan era kegelapan bagi instansi seragam coklat di negeri ini. Dimulai dengan konfrontasi superior yang menyeret petinggi Polri, Irjen. Pol. Ferdy Sambo yang melakukan komplikasi tindakan pidana, salah satunya terbongkarnya kasus judi online yang dijadikan ‘proyek’ oleh Sambo. Bahkan saking banyaknya jajaran yang terlibat dalam proyek Ferdy, ia sampai dijuluki dengan gelar mentereng yakni ‘dinasti Ferdy Sambo’.

Belum jelas kelanjutan kasus judi online oleh Irjen Sambo, publik kini disuguhkan dengan kasus serupa, tapi tak sama, yakni kasus pengedaran serbuk putih (sabu-sabu) yang lagi-lagi menjerat petinggi di instansi Polri, Irjen. Pol. Teddy Minahasa.

Seperti yang dilansir dalam laman Sindonews.com pada Jumat (14/10) – Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo membenarkan bahwa Kapolda Jawa Timur (Jatim) yang baru ditunjuk, Irjen. Pol. Teddy Minahasa Putra ditangkap terkait kasus narkoba.

Padahal Irjen Teddy diketahui baru beberapa hari menjabat sebagai Kapolda Jatim menggantikan Irjen Nico Afinta per tanggal 10 Oktober 2022, namun belum genap sepekan masa jabatannya beliau sudah terjerat kasus narkoba.

Katanya, penangkapan Irjen Teddy ini juga dalam rangka menindaklanjuti perintah Presiden Jokowi untuk ‘bersih-bersih’ di tubuh Polri terutama pada kasus judi online dan narkoba.

Ironi memang, selama ini Polri adalah instansi yang paling vokal menyuarakan dan mengajak masyarakat untuk sama-sama menjauhi dan memberantas narkoba, mulai dari penyuluhan ke desa-desa, sekolah-sekolah, kampus-kampus, bahkan instansi swasta sampai BUMN, namun nyatanya dari bagian Polri juga yang menjadi gerbong penyelundupan dan pengedaran narkoba itu terjadi.

Berita Lainnya
Lihat Juga:  Islamophobia: Wujud Sembunyi dari Kekacauan Terstruktur

Bisa saja kasus Irjen Teddy Minahasa ini hanyalah puncak gunung es dari banyaknya ‘aib’ Polri selama ini yang tidak diketahui publik.

Pada saat penegak hukum (red. Polisi) menangani kasus narkoba dengan menyita barang buktinya, maka semestinya barang bukti tersebut dimusnahkan, tapi justru diselundupkan untuk diedar kembali, tentu dengan begini keuntungan yang didapat jauh lebih besar karena ‘barang’ sudah tersedia tanpa harus membeli lagi.

Berita terkait