OPINI—Produksi padi Sulsel tercatat terus mengalami penurunan selama 2 tahun terakhir. Badan Pusat Staistik (BPS) Provinsi Sulsel baru-baru ini merilis produksi padi di Sulsel selama tahun 2020. Produksi padi tahun 2020 mencapai 4,71 juta ton, menurun jika dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 5,05 juta ton. Bahkan, produksi tahun 2020 jauh di bawah angka produksi di tahun 2018 yang mencapai 5,74 juta ton.

Produksi padi tersebut merupakan dengan satuan gabah kering giling (GKG) yang siap untuk digiling setelah melalui tahap pengeringan. Jika dikonversi ke beras, maka nilainya mencapai 2,69 juta ton. Ada pun produksi beras pada tahun 2019 dan 2018 mencapai 2,89 juta ton dan 3,28 juta ton.

Angka ini tentu sebuah alarm bagi kita semua agar lebih memperhatikan pertanian di Sulsel, khususnya tanaman pangan yang menjadi makanan pokok seluruh masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, penurunan produksi beras mencapai 18 persen dalam dua tahun terakhir.

Pada tahun 2020 memang ada kecenderungan daerah-daerah dengan produksi beras terbesar di Indonesia mengalami penurunan tetapi yang paling besar adalah Sulsel. Jawa Tengah turun 1,72 persen (menjadi 5,52 juta ton), Jawa Barat turun sebesar 0,75 persen (menjadi 5,22 juta ton), bahkan Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 3,80 persen (menjadi 5,50 juta ton).

Semua data tersebut diperoleh dari BPS berdasarkan metode Kerangka Sampel Area (KSA) dengan melakukan pengamatan fase tumbuh padi setiap bulan. Data luas lahan baku sawah diperoleh dari Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN. Ada pun angka konversi padi GKP dan GKG ke beras berdasarkan survei konversi gabah ke beras oleh BPS.

Penyebab Penurunan Produksi

Jika kita mengamati penurunan produksi beras di Sulsel dan sebagian besar daerah lain di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, luas lahan baku sawah yang menyempit, luas tanam yang berkurang, serta kualitas produksi yang menurun.

Dewasa ini pembangunan (konstruksi) di mana-mana, bangunan untuk perumahan, jalanan, pusat-pusat industri semakin menjamur, dan masih banyak lagi pembangunan lainnya. Semua itu tentu harus mengorbankan pertanian, utamanya sawah. Konversi lahan sawah ini membuat luas lahan baku pertanian semakin menyempit.

Ketika luas lahan baku sawah semakin berkurang maka akan mengakibatkan luas tanam juga kan berkurang. Belum lagi jika frekuensi tanam dalam satu tahun hanya terbatas bisa dilakukan hanya dua kali. Bahkan, di beberapa daerah ada yang hanya sekali dalam setahun karena sistem irigasi yang masih sangat tergantung terhadap musim hujan.

Pemerintah selalu berupaya memfasilitasi petani agar bisa menanam dua kali, bahkan tiga kali dalam setahun dengan bibit unggul dan fasilitas pengairan yang bagus.

Sayangnya, bibit tidak cukup terjangkau bagi petani yang ternyata tidak murah harganya. Jika ada yang dibagikan dengan harga disubsidi, kualitas sudah menurun sampai ke petani, bahkan rusak. Ada pula petani yang tidak berani mencoba berbagai kebijakan “baru” dari pemerintah karena takut mengambil risiko malah membuat produksi anjlok.

Saat ini sawah yang nonirigasi (termasuk tadah hujan) masih cukup tinggi di Sulsel, diperkirakan masih mencapai 30-40 persen. Tahun 2017 masih mencapai 41 persen berdasarkan data dari website resmi pemprov Sulsel. Hal ini yang menyebabkan sawah dengan frekuensi tanam sampai 3 kali masih sangat rendah. Sangat bergantung air.

Produktivitas Menurun

Salah satu yang cukup berperan dalam meningkatkan produksi beras adalah produktivitas per hektare. Ada kecenderungan penurunan produktivitas padi GKG selama 2 tahun terakhir di Sulsel. Tahun 2018 produktivitas GKG per hektare mencapai 5,01 ton per hektare, menurun pada tahun 2019 menjadi 4,99 ton per hektare, dan kembali menurun tahun 2020 menjadi 4,8 ton per hektare.

Penyebab penurunan produktivitas sendiri sangat dipengaruhi oleh kecukupan air dan penggunaan pupuk yang cukup dan tepat guna. Saat ini pemerintah melakukan pembatasan subsidi pupuk utama bagi pertanian padi. Hal itu membuat para petani mengurangi penggunaan pupuk yang seharusnya.

Melihat uraian di atas maka pemerintah harus kembali mengevaluasi konversi lahan sawah, pembangunan sarana irigasi, dan subsidi pupuk, serta pengetahuan yang cukup bagi petani.

Jika semua bisa dilakukan dengan baik maka kita bisa optimis peningkatan produksi beras di Sulsel akan kembali terjadi. Serta akan tetap mejadi andalan bagi Sulsel untuk mensejahterakan petani dan menjadi pemasok beras untuk daerah-daerah lain. (*)

Penulis: Ahmad Helmy (Statistisi Muda BPS Prov Sulsel)