Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Moderasi Beragama: Generasi Muda dan Pluralisme

431
×

Moderasi Beragama: Generasi Muda dan Pluralisme

Sebarkan artikel ini
Moderasi Beragama: Generasi Muda dan Pluralisme
Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen dan Pemerhati Generasi)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Moderasi Beragama (MB) terus melenggang dengan beragam programnya. Ada kampung moderasi, kemah moderasi, FGD tentang dialog kerukunan dan kebangsaan, dan yang lainnya. Bahkan terlihat makin masif. Menyasar mulai usia dini hingga usia senja. Mulai grass roots hingga pejabat. Sebegitu urgenkah?

Sebagai program prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, MB terus merengsek di semua bidang. Mulai dari budaya lokal hingga aspek pendidikan. Seperti yang terlaksana baru-baru ini di Makassar. Gebyar PAI Taman Kanak-Kanak (TK) dengan tema “Moderat Sejak Usia Dini”, yang diikuti oleh peserta dari seluruh kab./kota se Sulawesi Selatan.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Khaeroni menyambut baik agenda ini. Harapannya agar dapat melahirkan generasi yang berkualitas dan moderat di kemudian hari. Jika dicermati, rasanya terlalu dini untuk mengenalkan anak-anak usia TK tentang diksi moderat atau moderasi beragama. Pasalnya, definisi terkait moderasi beragama juga masih terkesan ambigu.

Sejalan dengan gebyar PAI TK, ada pula kunjungan siswa MAN 2 Makassar ke SMA Katolik. Seperti dilansir dari laman sulsel.kemenag.go.id. Kepala Kantor Kemenag Makassar menyampaikan bahwa kunjungan tersebut adalah bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Lebih lanjut dikatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan moderasi beragama yang memiliki indikator antara lain komitmen kebangsaan, antikekerasan, toleransi, dan penghargaan terhadap budaya lokal yang wajib ditanamkan sejak dini kepada para siswa.

Waspadai Penyesatan Opini

Indonesia mengadopsi sistem Kapitalisme yang berasaskan sekularisme. Sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh mengatur kehidupan. Agama dianggap candu atau racun bagi aktivitas manusia, sehingga harus dijauhkan dari kehidupan.

Jadilah aturan yang digunakan untuk mengatur kehidupan, bersandar pada aturan manusia. Inilah prinsip dasar sistem pemerintahan kapitalisme yakni kedaulatan di tangan rakyat, yang lebih dikenal dengan demokrasi.

Pun dari demokrasi, lahir isme-isme yang berkelindan untuk memenuhi kepentingan rakyat (konglomerat/kapitalis). Misal, liberalisme, individualisme, dll. Selanjutnya dalam implementasinya banyak yang melanggar fitrah manusia.

Kerusakan yang paling mudah diindra saat ini adalah merebaknya kasus LGBTQ+ yang berlindung di balik Hak Asasi Manusia (HAM) dan liberalisme. Dampak dari aktivitas ini adalah merebaknya berbagai penyakit seksual yang sangat mengerikan.

Saat yang sama, banyak umat Islam mulai menyadari akan rusaknya sistem kehidupan yang diemban sistem Kapitalisme ini. Geliat kesadaran umat tak dapat dibendung, menular bahkan ke publik figure.

Kondisi ini tentu saja mengkhawatirkan bagi sistem saat ini, sehingga dirancanglah berbagai program dalam rangka menjauhkan generasi dari pemahaman yang benar. Salah satunya adalah Program Moderasi Beragama.

Mengapa generasi muda? Sebab potensi generasi muda sangat menggiurkan. Terlebih Indonesia di tahun 2030 hingga 2040 mendatang, menghadapi era bonus demografi.

Selanjutnya opini intoleransi dan beraneka istilah serupa terus dimasifkan. Walau banyak pihak menilai bahwa Program MB adalah upaya Barat untuk membendung geliat umat Islam dalam menjalankan agamanya secara benar. Namun, program ini terus berjalan dalam berbagai program derivative-nya, bahkan semakin masif.

Padahal jika dianalisis lebih jauh, muara dari MB adalah pluralisme. Hal ini juga divalidasi dengan dokumen-dokumen dari RAND Corporation, sebuah lembaga think tank Amerika Serikat.

Lembaga ini mengklasifikasikan Islam secara garis besar, yakni Islam radikal dan Islam moderat. Tertuang dalam dua dokumen penting yakni “Civil Democratic Islam” pada tahun 2003 dan Building Moderate Muslim Network pada tahun 2007.

Jika berpijak pada asas yang eror, tentu saja akan melahirkan produk yang rusak. Salah satunya adalah pluralisme, yakni menganggap bahwa semua agama itu benar.

Hal ini sangat berbahaya bagi akidah umat. Visi hidup sebagai seorang muslim menjadi abu-abu. Identitas generasi muslim menjadi kabur. Toleransi kebablasan akhirnya melanda generasi, yang berujung pada krisis akidah.

Kekhawatiran akan intoleransi dan segala hal yang terkait dengannya, tidak cukup valid. Bahkan diduga kuat ada skenario dalam setiap peristiwa yang mengarah ke wacana intoleransi tadi. Publik digiring untuk percaya akan opini intoleransi yang katanya membahayakan persatuan bangsa.

Padahal bahaya yang sedang menimpa generasi muda saat ini dan masih terus berlangsung adalah seks bebas, pinjol, narkoba, mental health, LGBTQ+, dan segudang kemaksiatan lainnya. Inilah sebenarnya bahaya yang seyogianya harus segera diupayakan pemerintah bersama masyarakat.

Butuh Solusi Hakiki

Indonesia sebagai negeri dengan potensi SDM dan SDA yang melimpah ruah, harusnya bisa mandiri dan independen. Secara logika sederhana, kondisi tersebut bisa menyejahterakan rakyatnya.

Sebagaimana Islam pernah menorehkan sejarah kegemilangan dalam rentang masa sekitar 1300 tahun lamanya. Dengan apa? Tentu saja dengan menggunakan aturan yang berasal Allah Swt. Dia-lah Zat Yang Mahakuasa, Pencipta (Al-Khalik) sekaligus Pengatur (Al-Mudabbir).

Islam adalah sebuah agama sekaligus sebuah sistem. Mengatur semua hal, dari perkara individu hingga publik. Urusan dalam negeri hingga hubungan luar negeri. Berdasar akidah Islam, semua urusan diatur dengan sangat detail. Negara hadir sebagai pelaksana seluruh hukum syariat, tanpa diskriminasi. Aturan yang lahir dari Sang Pencipta, meniscayakan keadilan bagi semua.

Terkait toleransi, sejarah panjang peradaban Islam telah mengukir indahnya kehidupan beragama. Paling masyhur adalah kisah seorang Yahudi buta yang setiap hari diberi makan oleh Rasulullah saw. bahkan disuapi sendiri dengan tangannya yang mulia. Berlangsung hingga Beliau wafat. Akhirnya si Yahudi tersebut masuk Islam karena terpesona oleh keagungan akhlak Rasulullah saw.

Pun gambaran toleransi saat Islam diterapkan oleh negara. Pemerintahan Islam di Andalusia (sekarang Spanyol) menciptakan masyarakat Spanyol yang multiagama. Mereka hidup berdampingan secara aman, damai, dan saling bekerjasama membangun negara dan peradaban Spanyol yang megah.

Tidakkah itu menjadi pelajaran penting, betapa mulianya manusia di bawah pengaturan sistem Islam? Oleh karena itu, jika negeri ini ingin terbebas dari segala macam program yang sejatinya hanya menjerumuskan dalam perkara dosa, maka menerapkan aturan Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang sangat urgen dan mendesak. Inilah satu-satunya solusi hakiki dari semua persoalan umat.

 

Wallahualam bis Showab.

 

Penulis

 

Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T.
Dosen dan Pemerhati Generasi

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!