Moderasi Beragama, Menyasar Siapa?

Penulis: dr. Sofie (dokter Umum dan Pemerhati Sosial)

0
86

OPINI—Beberapa pekan ini heboh isu mengenai moderasi beragama, berbagai kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam rangka penguatan moderasi beragama. Salah satunya Seminar Nasional Keagamaan dan Kebangsaan yang bertemakan ‘Penguatan Moderasi Beragama Melalui Penerimaan Umat Beragama Terhadap Tradisi Keagamaan Setempat’

Kegiatan tersebut digelar UIN Alauddin bekerjasama dengan Balitbang dan Diklat Kementrian Agama menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Prof Ambo Asse bersama pimpinan dan puluhan Dosen UIN Alauddin yang diadakan secara offline berada di lantai 4 Rektorat UIN Alauddin, Samata-Gowa. Sementara sebagian peserta lainnya hadir melalui aplikasi zoom meeting (news.unismuh.ac.id, 05/11/2021).

Sebelumnya moderasi beragama menjadi booming lantaran Menteri Agama Fachrul Razi menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama. Kata jihad dan khilafah dihilangkan dari buku-buku pelajaran tersebut.

Pasalnya, kata khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran B-4339.4/DJ.1/Dt.I.I/PP.00/12/2019. Lebih dari itu, pada kenyataannya jihad dan Khilafah dianggap sebagai paham radikal yang selama ini disematkan kepada kaum muslimin.

Dibalik Moderasi Beragama

Penggunaan terminologi Islam radikal dan Islam moderat merupakan upaya Barat dalam membendung kebangkitan Islam. Tentu saja, Barat menyadari umat Islam senantiasa bangkit terlihat dalam fenomena global di seluruh negara, yakni pertumbuhan sekolah-sekolah Islam makin pesat, fashion hijab makin diminati kaum muslimah untuk menunjukkan identitas muslim mereka, peningkatan jamaah haji dan umrah, bertambah banyaknya jumlah kaum muslimin dan kesadaran mereka untuk kembali kepada kehidupan Islam.

Islam radikal dinilai sebagai muslim yang ekstrem dalam menjalankan agamanya. Sebaliknya, Islam moderat yang dinilai tidak ekstrem adalah muslim yang sebenarnya.

Perlu diketahui, strategi yang dilakukan oleh Barat adalah membangun ‘moderate muslim network’. Hal ini terkonfirmasi dalam dokumen yang disusun oleh RAND Corporation pada tahun 2007. RAND Corporation adalah lembaga pengkajian strategi yang didirikan oleh Barat pada tahun 1948. Jauh sebelumnya, upaya membendung Islam oleh Barat telah terjadi sejak awal runtuhnya peradaban Islam kekhilafahan  Utsmaniyah pada saat itu berlanjut hingga saat ini.

Barat pun memetakan kaum muslim menjadi empat kelompok, yaitu fundamentalis disebut juga radikal, tradisionalis, modernis, dan sekularis. Islam yang tradisionalis, modernis, dan sekularis (baca: paham yang memisahkan agama dari kehidupan) akan digandeng untuk melawan muslim radikal. Sangat mulus lah strategi Barat ini yang terbungkus dalam bentuk perang pemikiran untuk memecah belah kaum muslim. Sebagai umat muslim tentu kita harus menyadari hal ini.

Pandangan Islam

Paham moderasi beragama merupakan upaya mereduksi ajaran Islam dan menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Istilah Islam moderat, radikal, ekstremisme, dsb. tidak ditemukan dalam kitab-kitab turats para ulama salafush shalih, kitab-kitab mu’jam, fikih, dan lainnya.

Sebaliknya, menolak konsep jihad dan Khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam merupakan suatu hal yang tak layak bagi seorang muslim. Tentu saja, seluruh ajaran Islam adalah kebaikan, pedoman hidup, dan solusi bagi kehidupan manusia yang dibuat oleh Sang Pencipta.

Karena itu, Islam bukanlah agama yang prasmanan, dengan sekehendak hati mengambil sebagian hukum-hukumnya dan mengabaikan hukum yang lain. Dan hendaklah kita ber Islam secara kaffah (keseluruhan). Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman masuklah kedalam Islam secara keseluruhan” (TQS. Al-Baqarah: 208).

Mengapa kita harus takut terhadap jihad? padahal jihadlah yang mewujudkan Islam berkembang pesat di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Dengan semangat jihadlah para pahlawan kita termasuk pemuda-pemuda Surabaya dapat berhadap-hadapan dengan Belanda.

Sehingga kemerdekaan ini dapat terwujud. Dikarenakan jihad adalah kekuatan kaum muslim, Barat berupaya menghilangkannya dari ajaran Islam. Muslim yang terikat dengan ajaran agamanya tidak akan mungkin melakukan tindakan teror, seperti bom bunuh diri, membunuh jiwa yang tak berdosa, dan lain sebagainya.

Hendaknya pemerintah menghentikan upaya war on terorisme, deradikalisasi, mereduksi ajaran Islam maupun persekusi dan kriminalisasi terhadap ulama maupun aktivis Islam sebagai bentuk islamophobia dan sejatinya merupakan ‘war on Islam’.

Walhasil, umat membutuhkan perisai yang dapat melindungi kaum muslimin di seluruh dunia dan mempersatukannya agar tak dapat lagi dikuasai oleh Barat jalan satu satunya adalah kembali kepada Islam. Wallahu’alam ash-shawab. (*)

Penulis: dr. Sofie (dokter Umum dan Pemerhati Sosial)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.