OPINI – Wabah pandemi ini benar-benar buat pembuat kebijakan terus berfikir keras. Setelah beberapa kebijakan telah diberlakukan, seperti social distancing dan PSBB. Berharap dengan segala aturan Dari kebajikan tersebut dapat menekan meluasnya angka korban covid-19. Belum lama diberlakukan kedua kebijakan tersebut. Kini, pemerintah pusat kembali mencanangkan kebijakan baru.

Seperti yang dilansir Kompas.com (25/5/2020) bahwa Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) menerbitkan protokol normal baru (new normal) bagi perkantoran dan industri dalam menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19 yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan.

Hal itu diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Salah satu poin dalam protokol kesehatan tersebut adalah menjaga jarak minimal satu meter bagi para pekerja kantoran dan industri.

Perputaran laju ekonomi masih sangat dikedepankan akibatnya aktifitas dan mobilisasi para pekarja sangat tinggi, maka dicanangkan kebijakan terbut. Berharap akan menekan laju penyebaran wabah pandemi.

Kebijakan New Normal dicanangkan oleh pemerintah melengkapi kebijakan yang telah diberlakukan. Sepertinya kebijakan new normal merupakan kebijakan yang terkesan mengajak masyarakat untuk santai dalam menghadapi wabah pandemi covid-19 ini.

Mengapa, sebab kebajikan yang sebelumnya mengharuskan agar semua masyarakat tetap di rumah dan menjauhi keramaian serta menjaga protokol kesehatan dengan ketat.

Kini, pandemi belum juga usai bahkan menunjukan angka yang meninggi. Semua kebijakan tinggal kebijakan yang belum membuahkan hasil yang nyata.

Menurut data yang dilansir detik.com, kurva virus Corona di Indonesia belum juga menunjukkan tanda-tanda melandai.

Malah jumlah kasus baru mencatatkan rekor tertinggi sejauh ini. Berdasarkan data resmi pemerintah, jumlah total kasus COVID-19 hari ini mencapai 19.189 kasus (20/5/2020)

Kebijakan demi kebijakan telah diberlakukan, namun tak memperlihatkan hasil yang signifikan. Saat ini, kebijakan new normal akan diberlakukan.

Kebijakan baru ini telah dibahas oleh presiden Joko Widodo. Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia akan memasuki tatanan kehidupan baru (new normal).

Menurut Presiden Jokowi, masyarakat harus berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid-19 karena virus itu tak akan hilang. (Kompas.com, 25/5/2020).

Namun, beliau menampik hidup berdampingan dan berdamai bukan berarti menyerah namun tetap ada perlawanan menghadapi pandemi covid-19 ini.

Menarik komentar dari mantan wakil presiden Jusuf Kalla, menurut beliau berdamai itu ketika dua belah pihak ingin berdamai.

Jika, wabah ini makin melambung maka aritnya wabah ini tidak ingin berdamai. Maka, pihak kedua akan terus diserang. Tetapi, anehnya pihak kedua ini tidak merasa diserang, malah ingin hidup berdampingan dan berdamai.

Perubahan perlakuan wabah dari musuh bersama menjadi ajakan untuk berdamai. Pernyataan ‘berdamai’ merupakan sikap pasrah kalah dalam melawan wabah.

Seolah posisi pemerintah sudah tak mampu mengendalikan laju pandemi ini. Apakah kebijakan ini menunjukkan kekalahan, yang berusaha untuk disembunyikan?

Apakah kebijakan new normal yang dicanangkan penguasa merupakan hasil Dari tekanan pengusaha? Pengusaha besar yang saat ini mengalami ‘sakratul maut’ menghadapi pandemi ini.

Kemudian ingin bangkit kembali dengan kebijakan new normal. Agar usaha mereka tetap eksis walau masih suasana pandemi.

Padahal kurva pandemi belum melandai. Apakah penguasa akan tega membiarkan rakyat dalam situasi seperti ini?

Dimana masyarakat dibiarkan beraktifitas seperti biasa, padahal pandemi semakin menggila. Apakah pilihan menyelamatkan ekonomi (pengusaha) lebih penting daripada menyelamatkan nyawa rakyat?

Disituasi yang lain, segenap tenaga medis terus berjuang melawan wabah covid-19 tanpa kenal lelah. Maka tidak heran, jika Ada slogan ‘Indonesia terserah’ viral di sosial media.

Juga, para penggali Liang lahat take henti-hentinya menyiapkan liang lahat bagi para korban covid-19 yang meninggal. Bahkan, menyediakan liang sebelum adanya informasi pasien yang meninggal dunia.

Tak sedikit dari mereka berkorban kesehatan bahkan nyawa.

Mereka pun sangat lelah, tanpa tahu kapan berakhir dalam berjuang. Namun, mereka tetap berjuang dan menjadi garda terdepan.

Tak dapat dibayangkan, wajah segenap pejuang tersebut menerima pernyataan ‘berdamai dengan wabah covid-19’.

Kebijakan new normal sebentar lagi akan diberlakukan. Apakah mampu menghilangkan atau menekan angka wabah covid-19 di Indonesia?

Kita lihat perkembangan selanjutnya. Apakah melandai seperti harapan kita, atau justru melambung karena kebijakan yang plin-plan dan tambal sulam.

Kebijakan Komprehensif, Islam Solusi

Berbicara kebijakan tentunya kebijakan tersebut harus menyeluruh atau komprehensif. Jika kebijakan hanya menyentuh sebagian masalah atau hanya menyelesaikan pada cabang saja, maka akan muncul masalah yang lain.

Akhirnya, akan ada kebijakan baru untuk menyelesaikan masalah baru itu. Jika, kebijakan masih menyentuh persoalan cabang, maka masalah baru akan tetap muncul.

Begitu seterusnya, oleh sebab itu diperlukan kebijakan yang mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Menyentuh akar hingga cabang masalah.

Jika tidak, maka kita akan dapati kebijakan demi kebijakan terus berganti, tambal sulam kebijakan.

Islam merupakan agama sekaligus peraturan hidup. Peraturan yang lahir dari akidah, yang menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Kehidupan yang berhubungan dengan individu, masyarakat dan negara. Dari hubungan tersebut menghasilkan berbagai interaksi yang berkaitan dengan mualamah, pendidikan, sosial-masyakat, politik hingga kebudayaan-sastra. Berbagai interaksi diatur dalam Islam.

Pun, ketika membahas terkait kebijakan dalam menangani wabah yang tengah merebak. Islam dengan seperangkat aturannya, telah memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah wabah di tengah-tengah masyarakat.

Kebijakan yang ditawarkan Islam merupakan kebijakan yang komprehensif, artinya menyelesaikan tanpa memunculkan masalah baru. Kebijakan tanpa tambal sulam, seperti yang kita saksikan saat ini.

Kebijakan menangani wabah dengan cepat dan tepat. Pernah dicontohkan Rasulullah SAW saat wabah, sekarang dikenal dengan istilah social distancing, Lockdown, dan stay at home.

Misalnya, sabda Nabi SAW, “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu keluar darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana hadis: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu pula, apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab dalam masa kepemimpinannya. Pada masa kepemimpinannya, beliau diuji dengan sebuah wabah dalam wilayahnya.

Dengan mengambil kebijakan yang dicontohkan Rasulullah, maka wabah dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Tanpa memunculkan masalah baru.

Upaya preventif dan kuratif dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh pemimpin kaum muslim pada masa dulu. Mereka berhasil dalam menyelesaikan wabah, tanpa menunggu korban berjatuhan.

Memberlakukan kebijakan yang sifatnya menyelesaikan seluruh masalah. Kebijakan yang dibangun dengan landasan benar dan kokoh.

Islam mengharuskan para pemimpin menyelesaikan segala problematika masyarakat tanpa mengorbankan masyarakat. Karena posisi pemimpin dalam pandangan Islam adalah pelayan bagi rakyat.

Semua pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya di akhirat kelak. Dalam hal ini, Sahabat Ma’qil bin Yasar al-Muzanni menjelang wafatnya menyampaikan sebuah hadis sebagai berikut:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ (متفق عليه)

Artinya: “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang diamanahkan oleh Allah untuk mengurusi rakyatnya, kemudian ia meninggal dalam keadaan sedang menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 6618 dan Muslim: 203). Wallahu’alam.

Penulis: Nurmia Yasin Limpo (Pemerhati Sosial Makassar)