“Ngemis” Online demi Cuan: Eksploitasi berkedok konten

“Ngemis” Online demi Cuan: Eksploitasi berkedok konten
Rahmah Jalil (Aktivis Muslimah)

OPINI—Pesatnya perkembangan tekhnologi membawa perubahan signifikan dikalangan masyarakat. Beberapa diantara mereka jadi positif user. Namun, tidak jarang yang menyalahgunakan demi kepentingan semata tanpa mempertimbangkan faktor lain yang justru akan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

 

“Ngemis” online demi Cuan

Akhir-akhir ini, platform media sosial Tiktok sedang tren “pengemis online” berkedok live konten. Aksi mereka yang mengguyur diri dan mandi dikubangan lumpur mulai meresahkan warganet. Mirisnya, aksi “Ngemis” gaya baru ini tak jarang menyeret orang yang lanjut usia sebagai bahan konten.

Fitur gift berupa stiker di Tiktok adalah cara untuk menghasilkan koin yang bisa ditukar dengan uang. Tiap ikon stikernya memiliki nilai yang berbeda, mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. Ikon Mawar, misalnya, setara satu koin, sedangkan Singa setara 29.999 koin dengan nilai perkoin setara dengan Rp250.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan fenomena mengemis online sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, fenomena ini mulai membesar sejak pandemi Covid-19 yang berefek pada perekonomian masyarakat, di antaranya banyak orang mengalami PHK. (BBC Indonesia, 13/01/2023).

Aksi “Ngemis” gaya baru ini seolah menjadi strategi baru untuk mendapatkan cuan di media sosial. Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Berita Lainnya

Bukan kebetulan

Angga Prawadika Aji Dosen Komunikasi Fakultas Sosial dan Ilmu politik, Universitas Airlangga (UNAIR) mengatakan bahwa saat ini media sosial menjadi tempat untuk mendapatkan dua hal, yakni kepopuleran dan uang. Apalagi saat ini content creator tengah berlomba untuk menyajikan sesuatu yang dapat menarik perhatian masyarakat.

Lihat Juga:  Miris, Bantuan Negara Hanya untuk Sekolah Gemuk

Aksi “Ngemis” gaya baru ini salah satunya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena “Ngemis online” ini terjadi dan viral dikalangan masyarakat. Adapun poin penyebabnya sebagai berikut.

Pertama, eksploitasi kemiskinan dengan menjual nasib malang demi mendapatkan uang. Faktor kemiskinan kerap membuat orang melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, tidak jarang diantara mereka memanfaatkan sikap empati dan simpati masyarakat dengan mempertontonkan kondisinya yang membahayakan nyawa.

Kedua, tuntutan lifestyle. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa live di Tiktok bisa menghasilkan keuntungan yang instan, sehingga para content creator memanfaatkan kesempatan ini demi memenuhi lifestylenya. Keberadaan platform ini mampu menjadi jalan pintas untuk meraup cuan tanpa harus bekerja.

Ketiga, aktualisasi diri demi mendapatkan ketenaran. Paradigma berpikir masyarakat hari ini kerap menjadikan sesuatu yang viral sebagai ajang untuk tenar. Seolah semua yang viral itu benar.

Berita terkait