Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Palestina dalam Derita, Dimana peran kita?

629
×

Palestina dalam Derita, Dimana peran kita?

Sebarkan artikel ini
Palestina dalam Derita, Dimana peran kita?
Musdalifah (Mahasiswi)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Tak kunjung usai, serangan terhadap warga palestina semakin banyak menjatuhkan korban. Kemenkes Palestina melaporkan sebanyak 232 warga tewas dan lebih dari 1.600 orang terluka akibat serangan udara yang dilancarkan ke wilayah Palestina.

Jutaan korban berjatuhan, tak mengenal usia apalagi peri kemanusiaan. Anak-anak Gaza hanya merasakan dentuman bom setiap harinya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Serangan brutal yang dilakukan Israel dengan pesawat tempurnya menyerang salah satu rumah sakit Indonesia di Beilt Lahia di Gaza Utara. Pulahan roket juga diluncurkan ke lahan pertanian dan merusak rumah-rumah di sekitarnya.

Bantuan yang diberikan untuk penduduk palestina nyatanya begitu mudah dihancurkan para tentara Israel. Kejadian itu akan terus berulang selama zionis belum meninggalkan Palestina

Lebih miris lagi, upaya yang Palestina lakukan untuk melakukan pembelaan justru dikatakan sebagai aksi teroris. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyamakan serangan Hamas (kelompok militan Palestina di perbatasan Gaza) ke Israel dengan invasi Rusia ke Ukraina.

Bahkan perdana menteri Israel mengatakan negaranya sedang berperang melawan militan Hamas. Framing yang diciptakan Barat justru menempatkan Palestina sebagai penjajah atas Israel.

Dari aspek kemanusiaan jelas ini adalah penindasan, sedangkan bagi umat muslim Palestina adalah tanah suci yang harus dijaga sebagai warisan nabi.

Membela Palestina dengan landasan akidah, bukan sekadar aspek kemanusiaan saja. Sebagai umat muslim yang bersaudara, penderitaan muslim Palestina adalah penderitaan seluruh kaum muslim, sebagaimana salah satu tubuh yang merasakan sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.

Umat muslim selayaknya geram atas tindakan para zionis yahudi yang sangat bejat. Setiap hari darah muslim tidak berdosa tumpah diatas tanah suci milik umat muslim. Berbagai upaya sudah dilakukan muslim seluruh dunia untuk membebaskan Palestina dari siksaan.

Pelayanan kesehatan, bantuan air bersih, pakaian, maupun obat-obatan dan banyak bantuan lainnya hanya sekadar mengobati luka. Padahal yang dibutuhkan mereka adalah kebebasan di rumah sendiri. Sampai detik ini bantuan tersebut tidak bisa membebaskan Palestina dari derita.

Layaknya rampok yang mengambil kebebasan, mereka seharusnya diusir.

Negeri-negeri muslim tak mampu melakukan lebih. Seyogyanya negeri-negeri muslim mengambil sikap dengan mengirimkan pasukan militer mengusir penjajah Palestina. Sementara itu Israel didukung langsung negara adidaya Amerika, bahkan di bawah perlindungan PBB. Sudah jelas kejahatannya, tapi tidak ada yang mengecam Israel. Jika pun ada kecaman, tidak ada aksi nyata untuk membebaskan saudara muslim Palestina.

Satu tubuh

Semenjak runtuhnya khilafah daulah Islam, umat muslim terpecah-pecah menjadi negara muslim yang dicekokkan pemikiran nasionalisme. Batas-batas wilayah telah mengungkung negeri muslim hanya peduli urusan dalam negerinya.

Mengirimkan pasukan militer sama saja dengan mencampuri urusan dalam negeri, negara lain. Bukan hanya Palestina, umat muslim minoritas di berbagai belahan bumi juga mengalami penyiksaan, seperti muslim Uighur di cina, Kashmir di India, Moro di Philipina dan lain-lainnya.

Begitu pula dengan solusi “Two-state solution” adalah pelanggaran dan penghianatan nyata terhadap muslim Palestina. Bagaimana mungkin tanah milik sendiri justru diberikan kepada orang lain. Lama kelamaan justru diusir dari tanah sendiri.

Padahal Sultan Abdul Hamid II sangat menjaga tanah Palestina, dengan tegas menolak permintaan, Theodore Herzl, agar memberikan sebagian wilayahnya di Palestina untuk bangsa Yahudi. Berbagai iming-iming tidak menggoyahkan Sang Sultan untuk

Individu muslim seharusnya memahami bahwa Palestina adalah tanah kharajiyah yang didapatkan kaum muslim dengan jiwa dan darah mereka. Pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Di bawah komando Khalid bin Walid dan pasukannya berhasil membebaskan Palestina dan menjadi bagian dari wilayah Daulah Khilafah yang berpusat di Madinah.

Palestina mutlak milik kaum muslim. Setiap muslim wajib memahami bahwa Palestina bukan sekadar negeri yang terjajah tapi bagian dari dirinya. Karena itu muslim akan berusaha untuk melakukan upaya pembebasan terhadap saudaranya. Tanah yang diberkahi, kiblat pertama umat muslim, makam para sahabat dan syuhada, serta tempat tinggal para nabi hingga digelari bumi para nabi.

Israel hanya tamu tidak diundang lalu akhirnya menumpang bahkan ingin menguasai. Mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk umat muslim palestina diperlukan kekuatan besar yang menjaga muslim seluruh dunia dari penindasan.

Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain kepemimpinan umat dalam naungan negara Islam. Dengan Khilafah, tidak ada lagi sekat yang memisahkan, persatuan akan diwujudkan, akidah Islam menjadi landasan segala pilihan.

Kepala negara menyerukan jihad untuk memerangi musuh Islam. Kekuatan militerlah yang bisa membebaskan muslim Palestina dari penjajahan. Hal itu hanya bisa diraih dari keinginan umat yang merasakan membutuhkan kepemimpinan Islam. Menyuarakan dan menyampaikan kepada umat untuk bersatu. wallahualam. (*)

 

Penulis

Musdalifah
(Mahasiswi)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!