OPINI—Pembatasan sosial masyarakat selama pandemi masih terus berlangsung, imbauan untuk tetap di rumah juga terus disuarakan oleh pemerintah. Pembatasan ini berpengaruh pada aktivitas perjalanan wisata masyarakat, utamanya pada objek-objek wisata yang selama ini banyak dikunjungi oleh masyarakat.

Terakhir, pemerintah juga telah mengumumkan pembatalan cuti bersama selama lebaran dan larangan bagi para ASN untuk mudik ke kampung halaman. Padahal, kunjungan wisatawan pada masa libur lebaran adalah salah satu periode puncak liburan yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berwisata di berbagai objek wisata di Indonesia.

Kewajiban para wisatawan untuk menerapkan protokol kesehatan selama berkunjung ke objek-objek wisata juga berdampak pada berkurangnya minat masyarakat dalam berlibur, terutama yang lokasinya jauh dari tempat tinggal.

Meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan para wisatawan juga menjadi pertimbangan utama, misalnya saja kewajiban untuk rapid antigen atau PCR selama perjalanan pulang pergi.

Di tengah kondisi di atas dan keinginan masyarakat terhadap wisata yang murah dan aman, wisata desa bisa menjadi opsi baru bagi masyarakat untuk berlibur. Dalam suasana pandemi, wisata desa memiliki beberapa keunggulan.

Pertama, lebih dekat dengan tempat tinggal. Kedua, biaya wisata jauh lebih murah karena ongkos perjalanan dan screening Covid-19 dapat ditekan. Ketiga, kekhawatiran penyebaran covid-19 lebih rendah karena wisatawan yang berkunjung umunya berasal dari wilayah itu sendiri.

Skala usaha wisata desa memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan objek-objek wisata yang selama ini dikenal oleh masyarakat, namun dengan potensi jumlah spot wisata yang begitu banyak dan tersebar di berbagai desa, akumulasi ekonomi dari kehadiran wisata desa harusnya mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang juga tak kalah besar.

Jumlah desa yang ada di Indonesia sebanyak 80 ribuan desa, jika 20 persen dari desa mampu menghadirkan spot-spot wisata bagi masyarakat lokal, artinya paling tidak ada sekitar 16 ribuan spot wisata desa yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berlibur.

Wisata desa bisa menjadi akses sumber penghasilan baru bagi masyarakat desa khususnya dari sektor nonpertanian. Beberapa sektor usaha yang bisa dijalankan seperti penyediaan jasa akomodasi makan dan minum, penginapan, dan beragam jenis jasa penunjang objek wisata.

Ada banyak contoh wisata desa yang yang berhasil dikelola dengan baik, misalnya saja stone garden di padalarang, green canyon kertayasa di pangandaran, bukit panenjoan di purwakarta, cengkir manis di Kudus, wisata budaya dan tradisional di desa wisata tembi Yogyakarta, dan lain-lain.

Kehadiran wisata desa bisa menjadi pelipur bagi sektor pariwisata yang benar-benar jatuh ditengah pandemic. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2020 turun 73,03 persen. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memproyeksikan industri pariwisata mengalami kerugian Rp50 triliun per bulan.

Kerugian ini mayoritas berasal dari industri pendukung pariwisata seperti UKM, pangan, transportasi, ekonomi kreatif, dan lain-lain, kondisi tersebut telah memicu pengangguran, paling utama di wilayah yang mayoritas ekonominya mengandalkan industri pariwisata.

Perhimpunan hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga menyebutkan ada ribuan hotel dan restoran di indonesia yang ditutup selama pandemi Covid-19, bahkan banyak diantaranya yang harus tutup secara permanen. (*)

Penulis: Arya Yahya, S.ST., M.Ec.Dev. (Statistisi Pertama di Badan Pusat Statistik)