Beranda » Inspirasi » Pentingnya Motivasi untuk Anak “Broken Home”
Pentingnya Motivasi untuk Anak “Broken Home”
Broken Home (Foto: Ilustrasi)
Inspirasi

Pentingnya Motivasi untuk Anak “Broken Home”

INSPIRASIBroken home adalah retaknya struktur keluargakarena salah satu atau beberapa anggota keluarga gagal menjalankan kewajiban peran mereka karena perceraian, meninggalkan rumah atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi di dalam keluarga.

Keluarga yang mengalami disfungsi (broken home) ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Kematian salah satu atau kedua orang tua.
  • Kedua orang tua berpisah atau bercerai.
  • Hubungan kedua orang tua yang tidak baik
  • Hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik.
  • Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan.
  • Orang tua sibuk dan jarang berada di rumah
  • Salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan.

Tidak semua keluarga yang tidak utuh karena hal-hal diatas dikatakan mengalami broken home. Ada beberapa orang tua yang menjadi single parent. Namun bisa menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis meskipun struktur keluarganya tidak utuh lagi.

Secara psikologis, kondisi anak broken home tentunya akan berbeda dengan anak yang terlahir dari keluarga yang harmonis. Beberapa di antara ciri-ciri anak broken home adalah:

1. Pendiam

Ketika mengalami broken home, sebagian anak akan menjadi anggota keluarga yang dipaksa untuk diam. Dengan pertengkaran dan adu pendapat yang terjadi pada kedua orangtuanya, ia harus menelan semua masalah tanpa bisa berpendapat.

Banyak orangtua beranggapan karena anaknya masih kecil sehingga tidak akan memahami apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.

Padahal tak jarang justru si anak sudah mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya dan akhirnya mengalami depresi. Sebagai jalan keluarnya, ia pun menjadi pendiam karena tidak mau masalah keluarganya semakin rumit lagi.

2. Menjadi Anak yang Unggul

Meskipun jarang terjadi, tapi sebenarnya ada ciri-ciri anak broken home yang positif. Anak tersebut bisa tumbuh dengan baik hingga dewasa dan bahkan menjadi seseorang yang unggul.

Biasanya anak yang seperti ini akan memiliki kepekaan yang tinggi dan kecerdasan melebihi orang lain. Tak jarang ia jadi memandang masalah yang dihadapinya secara dewasa.

3. Bijaksana

Seseorang yang bijaksana akan mengetahui batasan sampai mana ia membicarakan tentang masalah pribadinya. Sama halnya anak broken home, ia akan tumbuh menjadi seseorang yang bijak dan tidak sembarangan membicarakan masalahnya.

Meskipun biasanya ia terlihat lebih cuek dan tidak akan mulai berbicara terlebih dahulu, tapi bukan berarti ia tidak mempedulikan orang lain. Ia hanya memilih untuk tidak membuka diri, karena beranggapan orang lain yang tahu tentang masalahnya hanya akan mengetahui aibnya tanpa bisa menolong.

4. Lebih Peka atau Peduli

Salah satu dari ciri-ciri anak broken home yang selanjutnya adalah lebih peka atau peduli pada orang lain. Terutama pada mereka yang memiliki masa lalu sama dengannya.

Bahkan, terkadang tanpa orang lain meminta terlebih dahulu, ia akan menawarkan bantuan. Ia akan merasa ditegur hatinya dan akan terpanggil secara alami untuk menolong serta memberikan segala kepeduliannya.

Hal ini terjadi karena mereka tahu seperti apa rasanya kehilangan, kesepian, kesusahan, atau kesedihan lainnya.

5. Emosional Tinggi

Ciri-ciri anak broken home yang pertama adalah memiliki sifat temperamental atau emosi yang tinggi. Terutama karena perasaan mereka biasanya lebih peka dibandingkan anak-anak seumuran mereka.

Hal tersebut bukannya tanpa sebab. Anak yang mengalami broken home biasanya harus mengatur emosi karena masalah yang terjadi di rumahnya. Sehingga anak yang emosinya masih labil tersebut dipaksa harus menerima rasa sedih, marah, kecewa, dan lain-lain.

6. Tidak Sopan

Ciri-ciri anak broken home yang satu ini biasanya terjadi pada anak dari keluarga yang egois dan tidak mempedulikan putra atau putrinya. Sehingga ketika ia mengalami hal buruk, tidak ada anggota keluarganya yang menuntunnya kembali ke jalan yang benar.

Karena tidak pernah mendapatkan arahan dari kedua orangtuanya, ia pun menjadi tidak percaya pada orang yang jauh lebih tua darinya. Pada akhirnya, ia menjadi tidak sopan pada orang yang lebih dewasa.

7. Selalu Sedih

Soal perasaan, ciri-ciri anak broken home biasanya akan selalu terlihat sedih dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Karena ia memiliki latar belakang keluarga yang rumit dan tidak bisa diceritakan dengan mudah ke teman-temannya, ia pun terpaksa harus memendam segala permasalahannya sendiri.

Sering kali ia bahkan merasakan kalau kesedihan adalah hal yang normal dalam kehidupan. Padahal kalau dibiarkan begitu saja, hal tersebut bisa mengarah ke depresi.

8. Menjadi Anak Nakal

Anda mungkin pernah mendengar stereotip bahwa salah satu ciri-ciri anak broken home adalah menjadi bocah yang nakal. Hal tersebut rupanya memang bisa terjadi pada sebagian anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang kasih sayang.

Buah hati yang kurang perhatian dan kasih sayang di rumahnya itu lalu berusaha mencari perhatian di luar. Salah satu caranya mencari perhatian adalah dengan melakukan kenakalan-kenakalan di masa kecil atau remaja.

9. Mudah Takut

Biasanya, anak korban broken home akan merasa tidak ada yang melindungi atau menyelamatkan hidupnya. Tidak ada juga yang memerhatikan atau memedulikannya.

Akhirnya ia pun tumbuh menjadi seseorang yang mudah takut, penuh kekhawatiran, dan sering merasa rendah diri dibandingkan teman-temannya. Ia akan merasa kalau dirinya tidak sekuat yang ia perlihatkan ke orang lain, karena tidak ada pondasi yang membentuk jati dirinya.

Pentingnya Motivasi untuk Anak "Broken Home"
Broken Home (Foto: Ilustrasi)

Namun, meski lingkungan yang beracun itu tidak mudah dijalani, sebenarnya tetap saja ada pelajaran penting yang bisa dipelajari dari sana.

Kuncinya adalah memberikan didikan dan pengajaran yang tepat untuk buah hati. Beberapa hal positif yang bisa didapatkan oleh anak broken home adalah:

1. Sensitivitas
Seorang anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang rusak akan lebih mudah memahami kerentanan dan kelemahan seseorang. Hal ini biasanya karena anak tersebut sudah terbiasa melihat hal-hal yang tidak ingin ia lihat.

Mulai dari pertengkaran rutin, jeritan, hingga pintu yang dibanting, anak tersebut akan merasakan patah hati sejak usianya masih muda.

Ini sama saja seperti memaksanya untuk tumbuh dan menjadi yang paling kuat di antara anggota keluarga yang lain. Pada akhirnya, buah hati akan tumbuh menjadi seseorang yang lebih sensitif dalam memahami perasaan orang lain.

2. “Rumah”
Mereka yang dibesarkan di rumah tangga yang retak biasanya pernah memiliki perasaan tidak ingin pulang ke rumah. Bahkan, jauh lebih mungkin bagi mereka menemukan kenyamanan rumah di tempat lain.

Beberapa bahkan akan merasa kalau kabur dari rumah adalah hal terbaik yang sudah sepatutnya mereka lakukan.

Dari pengalamannya itu, ia pun jadi memahami arti pentingnya kehangatan rumah. Bahwa tempat yang bisa disebut rumah bukanlah sekedar bangunan tempat tinggal, tapi lebih ke kenyamanan dan keamanan yang dirasakan penghuninya.

3. Welas Asih
Bagi anak korban broken home, rasa sakit itu adalah suatu hal yang biasa. Sehingga ketika berhadapan dengan seseorang yang terluka atau tersakiti, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membantunya.

Ia melakukan hal tersebut karena tahu bagaimana tidak enaknya ketika merasa kesepian dan menginginkan ada yang menemani. Sebuah rasa empati yang tinggi dan membuatnya memiliki perasaan welas asih pada sekitarnya.

4. Cinta
Setiap orang tentunya memiliki perasaan ingin dicintai dan mencintai, begitu pula dengan anak korban keluarga broken home. Bahkan, pada beberapa kasus, buah hati akan selalu merasa ingin disayang karena beranggapan tidak pernah merasakan hal tersebut sejak kecil.

Sisi positifnya, ia cenderung memiliki hati besar untuk orang lain dan terus berharap bisa mendapatkan perasaan yang sama.

Bahkan, jika pada akhirnya tidak merasakan sayang yang sama dari orang lain, ia akan tetap berusaha menyayangi orang lain sepenuh hati.

Karena putra atau putri tahu bagaimana rasanya tidak disayangi dan tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.

5. Memahami Orang
Karena sudah terbiasa tumbuh dalam lingkungan yang penuh racun, anak broken home biasanya sudah lebih bisa memahami sifat-sifat orang yang tidak baik. Pada akhirnya ia pun jadi lebih bisa membedakan mana orang yang baik bagi kehidupannya dan mana yang tidak.

Hal tersebut tentunya menjadi penting dalam proses tumbuh kembang si kecil, terutama dalam hubungannya dengan orang lain. Karena tentunya bukanlah hal yang menyehatkan kalau setelah apa yang dialami dalam rumah, ia masih harus berhadapan dengan orang-orang yang hanya akan menyakitinya.

6. Overprotektif
Pada beberapa kasus perceraian, seorang kakak akan berusaha melindungi adik-adiknya. Bahkan, pada beberapa kasus ekstrim, seorang anak akan berusaha melindungi orangtuanya dari segala rasa sakit fisik dan emosional.

Ketika seorang anak bertindak sebagai seorang pelindung sejak usianya yang masih muda, ia akan terus membawa sifat tersebut hingga beranjak dewasa. Ini adalah hal yang umum dan normal terjadi, terutama bagi anak-anak sulung yang menjadi korban broken home.

7. Kritikus
Yang dimaksud kritikus di sini bukanlah adanya seseorang yang akan mengganggu dalam kesehariannya. Namun, justru ia sendiri yang akan menjadi kritikus terbesar bagi dirinya sendiri.

Dengan banyaknya tekanan yang terjadi dalam hidupnya, seorang anak korban broken home akan selalu merasa apa pun yang ia lakukan tidak cukup baik.

Ia tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun terjadi dalam hidupnya. Sehingga sebelum itu terjadi, ia akan melakukan banyak tindakan preventif untuk mencegahnya.

8. Mencegah Masalah
Anak-anak dari keluarga broken home biasanya akan tumbuh menjadi seseorang yang membenci ketegangan. Hal ini dikarenakan ketegangan itu terasa seperti bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Oleh karenanya ia akan berusaha keras untuk menghindarinya.

Ketika sebuah masalah sekecil apa pun mendadak muncul di hadapannya, ia akan berusaha keras berkomunikasi sebelum masalahnya membesar. Sayangnya, ketika ia terpaksa harus berargumen, reaksi pertamanya pasti berusaha untuk melarikan diri.

9. Kesuksesan
Seiring dengan bertambahnya usia, kehidupan akan meyakinkannya bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan menjadi lebih baik. Bahkan, ada banyak sekali kisah anak broken home yang akhirnya sukses berkat arahan yang tepat dari orangtuanya.

Tentunya tidak ada orang ingin terus tenggelam dalam masa lalunya. Begitu pun dengan anak-anak korban broken home, mereka juga ingin memiliki masa depan yang lebih baik hingga akhirnya memiliki keluarga sendiri dan kehidupan yang jauh lebih bahagia dari sebelumnya.

Pentingnya Motivasi untuk Anak "Broken Home"
Broken Home (Foto: Ilustrasi)

Pada zaman sekarang tingkat perceraian semakin meningkat dan tidak sedikit pula kasus perceraian pada pasangan yang telah memiliki anak. Banyak pula gangguan pada anak yang menyebabkan hal-hal negative untuk anak.

Anak mulai merasakan tekanan saat berada di rumah apalagi kalua orang tuanya sewaktu bersama sering melakukan tindakan KDRT yang tidak seharusnya anak mereka lihat.

Banyak pengaruh negatif yang bisa dirasakan anak, seperti:

1. Masalah Kesehatan
Rata-rata problemnya tak jauh dari kesehatan mental atau yang berkaitan dengan psikologis. Anak broken home jadi emosional, stres, sering merasakan sakit kepala, dan bahkan asthma. Kalau sampai mengganggu aktivitas, tentu bantuan dokter harus segera dikerahkan.

2. Rasa Malu Berlebih dan Kurangnya Skill Bersosialisasi
Kenyamanan dan rasa percaya diri langsung terusik begitu orang tua bercerai. Perpisahan orang tua, bagi sebagian orang, terasa menjadi momen tragis paling drastis.

Rasanya kamu itu ingin bersembunyi saja ‘di dalam cangkang’ berupa rumah atau kamar. Malu sekali untuk bertemu apalagi berinteraksi dengan manusia lainnya.

3. Tidak Percaya Diri
Karena rasa malunya sudah berlebihan, otomatis kepercayaan dirimu juga anjlok. Kondisi ini tentu enggak asyik. Kamu seakan ikut menyalahkan diri sendiri atas perceraian yang terjadi.

Kamu sadar ada yang ‘tidak beres’ dengan keluargamu. Kamu berbeda, sehingga kamu tidak percaya diri untuk aktif di sekolah, ikut perlombaan, apalagi sampai tampil di atas panggung.

4. Takut dan Cemas Berlebihan (Kadang Irasional)
Merasa was-was dan takut pada segala sesuatu, bahkan yang dianggap sepele sekali pun, tentu sangat menyiksa. Orang lain, yang jelas-jelas tak merasakan, mungkin akan memandangnya sebagai sesuatu yang lebay.

Namun kondisi ini memang nyata dan berdampak terhadap kehidupan seseorang. Kalau dirasa sudah parah, boleh jadi kamu memerlukan terapi atau konseling tersendiri.

5. Depresi
Salah-satu gangguan kesehatan mental ini memang tak bisa diabaikan. Depresi bisa mengeruhkan mood, perasaan, pikiran, bahkan aktivitas sehari-hari.

Hal ini terlihat dari caramu berinteraksi, negative thinking, memendam banyak hal, dsb, yang terus menjadi bom waktu dan bisa meledak kapan saja.

6. Kepikiran untuk Bunuh Diri
Poin yang satu ini memang ekstrem. Tidak semua anak broken home nekad untuk bunuh diri. Namun kemungkinan itu selalu ada. Karena merasa sia-sia, tak utuh, dan tak bahagia, pikiran untuk mengakhiri hidup kerap terlintas.

Perlu ‘pagar kuat’ untuk menghalau pikiran mengerikan ini. Baik itu dengan memahami serta mengamalkan ilmu agama, pengendalian diri, menjaga komunikasi, mengekspresikan perasaan, dsb. Semua ini bisa menjadi penangkal jitu, bahkan sebelum pihak profesional berperan.

7. Prestasi/ Pengembangan Akademik
Ketika kamu menjadi anak broken home dalam keadaan masih sekolah, bukan tak mungkin konsentrasimu akan terganggu. Bagaimana pun, terlalu banyak hal yang masuk dalam pikiran.

Akibatnya bisa berupa nilai yang anjlok, kepatuhan menurun, mudah tersulut amarah sehingga kerap berselisih dengan kawan-kawan, dsb.

Di satu sisi, keadaan goncang ini memang bisa dimaklumi. Namun di sisi lain, tetap saja perlu usaha untuk mengembalikan segala sesuatu sesuai treknya. Kamu harus berkonsultasi, atau berteman dengan sosok yang saling support.

8. Tidak Mudah Percaya
Dua orang dewasa yang terpercaya di dunia malah berpisah, menghancurkan kepercayaanmu bahwa keduanya akan tetap bahagia bersama selamanya. Tak ayal kalau rasa percayamu jadi tergerus. Kamu jadi skeptis pada segala janji dan impian manis.

Kamu jadi ikut ragu dengan hubungan antara murid dan guru, sahabat dengan sahabat, atau kekasih dengan kekasih.

Segala ketidaksetiaan atau pengkhianatan ada di hadapan semakin menambah keraguan. Tetapi begitu menemukan figur yang terpercaya, kamu akan mulai percaya, ‘oh cinta sejati itu mungkin belum benar-benar punah’.

9. Tua Sebelum Waktunya
Tumbuh di tengah keluarga broken home membuat masa kecilmu goyah. Kamu seakan tumbuh dengan sangat cepat. Kamu merasa ikut bertanggung-jawab dengan kenyataan pahit yang terjadi.

Apalagi ketika menyadari orang tua jadi single parent, kamu merasa bersalah jika harus menghabiskan banyak waktu untuk bermain-main di luar.

Kamu terdorong untuk ikut membantu meringankan bebannya. Entah dengan beres-beres rumah, atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

10. Gangguan Emosional
Keadaan emosi yang kacau bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Ya usia anak broken home-nya, kepribadiannya, proses perpisahan orang tuanya, dsb.

Namun keadaan rumah atau keluarga yang goncang akan tetap memengaruhi kesehatan mental. Kamu akan sangat sensitif, sering menangis diam-diam, stress, marah, dsb.

11. Kurang Cukup Secara Materi
Ketika masih “lengkap”, sumber uang jajanmu dobel. Segala kebutuhan pun serasa bisa ditebus dengan mudah. Namun ketika berpisah, kamu juga menyadari kalau pendapatan keluarga ikut terpengaruh.

Apalagi kalau salah-satu dari keduanya, misal ibu, belum memiliki penghasilan. Meski sudah dibuatkan kesepakatan, terkadang segala yang sudah dirancang tidak terlaksana dengan baik.

Ujung-ujungnya, kamu ditempa untuk hidup seadanya. Kamu belajar hemat dan bijak. Kalau sudah terbiasa sih tentu cukup mudah. Namun jika situasi ini bikin kaget, kamu harus ekstra sabar untuk beradaptasi.

12. Sleeper Effect
Fenomena yang satu ini biasanya terjadi pada anak broken home perempuan. Mereka cenderung tak mampu menghadapi emosi, terbuka, berekspresi, dsb.

Pada akhirnya, mereka akan memendam segala pengalaman pahit seolah-olah tak terjadi apa-apa. Terbengkalai begitu saja.

Namun begitu beranjak dewasa, segala perasaan yang sempat terpendam pun muncul ke permukaan. Fase ini biasa terjadi di usia remaja, atau periode paling penting dalam hidup mereka.

13. Tingkah Laku Anti-Sosial
Sebagian anak broken home menunjukkan emosinya dengan cara bertingkah-laku kasar atau kurang sopan.

Kalau tidak dikendalikan, sikap itu bisa berlanjut menjadi pemberontakan, melanggar aturan sekolah, berbohong pada keluarga, dsb.

Jika terjadi secara terus-menerus, tentu hal ini akan menimbulkan problem. Interaksi sosialnya pun akan cenderung terganggu.

14. Mimpi Buruk
Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup biasanya memicu kehadiran mimpi buruk. Kejadian itu meliputi pengalaman pindah rumah, mulai masuk sekolah, kenalan dengan seseorang, dsb, termasuk perceraian.

Soal mimpi buruk, anak kecil lebih menderita. Semakin beranjak dewasa, kamu semakin mampu mengendalikan perasaan, sehingga mimpi buruk itu akan berkurang dengan sendirinya.

Dengan berbagai masalah orang tua yang ada, anak pastinya menjadi pihak yang sangat dirugikan. Entah jasmani dan psikis anak bisa terganggu dengan perceraian yang ada.

Tak sedikit juga anak yang mulai sakit-sakitan karena orang tuanya mulai tidak memperhatikan keadaan mereka lagi dan tidak memperhatikan keadaan rumah lagi, biasanya orang tuanya malah lebih sering kerja agar tidak memikirkan masalah perceraian mereka. (*)

Penulis : Talitha Adristy Salsabila
Mahasiswi London School of Public Relations, Jakarta