OPINI—Kabar kedatangan Imam Besar Habib Riziq Shihab menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Sebagian masyarakat, khususnya kaum Muslim sangat antusias menyambut kedatangan sang Habib. Hingga pada 10 November 2020 Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) sampai ke Indonesia. Setelah Habib Rizieq selama 3,5 tahun berada di Arab Saudi.

Sontak, berbagai reaksi dari kalangan masyarakat biasa, artis hingga politikus menyambut kedatangan Habib Rizieq. Tak menunggu waktu lama, Sang Habib membawa angin segar. Ajakan untuk merevolusi akhlak. Menjelaskan revolusi akhlak adalah bagian dari ajakan untuk merevolusi tanpa ada kekerasan.
Sebab menurut beliau, apa yang ditawarkan kepada pemerintah selaku pihak yang menetapkan kebijakan merupakan jalan damai. Sebab,

kebijakan selama dinilai tidak pro terhadap masyarakat khususnya kaum muslim.
Namun demikian menurut Habib Rizieq, ketika ajakan perdamaian ditolak dan terus menerus menindas rakyat serta mengkriminalisasi ulama, maka revolusi akhlak bisa berubah menjadi jihad fi sabilillah, (Okenews.com, 15/11/2020).

Berbeda dengan Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (SUDRA) Fadhli Harahab, ia mengkritisi revolusi akhlak yang digagas Habib Rizieq Shihab. Ia menilai konsep revolusi akhlak yang digaungkan imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu tak jelas karena kesan yang muncul justru untuk kamuflase politik. Kemudian, membandingkannya dengan revolusi mental ala Jokowi (jpnn.com, 14/11/2020).

Jelas, segala penilaian akan berbeda ketika kerangka berfikir, juga sudut pandang tidak dibangun dengan kacamata yang sama. Apa yang digagas oleh Imam Besar Habib Rizieq adalah suatu yang naluriah, menyaksikan berbagai polemik menimpa negara dan masyarakat. Sosok ulama yang dicintai umat yang memiliki harapan-harapan yang besar terhadap umat dan negara untuk lebih baik. Berbeda, dengan para politikus yang condong akan jabatan, menaruh harapan untuk tampuk kekuasaan.

Pemimpin Taat; Harapan Umat

Antusiasnya umat menyambut tokoh kharismatik Habib Rizieq, mengisyaratkan kepada khalayak bahwa umat sangat merindukan sosok pemimpin yang berani. Berani menyuarakan kebenaran dan tidak takut kepada orang-orang yang membenci penuh dengki. Dengan ketaatan, ia memimpin umat menuju kehidupan yang bermartabat.

Pemimpin yang dirindukan umat, senantiasa berada dalam syariat-Nya. Ia mencintai umat, begitupun umat mencintainya. Sebab, dorongan akidah dan ketaatan pada syariah. Saat ini, umat kehilangan sosok pemimpin yang dirindukan. Merindukan keadilan dan kesejahteraan. Pemimpin yang dapat menjadi junnah umat. Membela dan melindungi segenap jiwa raganya. Menjadi sosok yang nanti, sebab harapan untuk hidup lebih baik.

Pemimpin yang taat syariah secara total akan mengantarkan umat untuk taat syariah secara total secara bersamaan. Ketika pemimpin memerintahkan suatu perbuatan, maka dialah sosok pertama yang telah melakukannya. Seperti, ketika memerintahkan untuk menjauhi minuman keras, maka dialah orang pertama yang menjauhinya. Begitulah, sosok pemimpin yang menjadi teladan umat. Sebab, syariah diberlakukan bukan hanya pada rakyat tetapi kepada dirinya.

Namun, ditengah carut marutnya kondisi negeri, sosok pemimpin yang rindukan umat belum nampak di pelupuk mata. Harapan umat akan hadirnya sosok yang mampu memimpin dengan amanah masih dalam impian semata.

Terlebih, masih bercokolnya demokrasi dalam mengatur kehidupan umat. Menitipberatkan hak untuk membuat hukum sendiri. Hukum tidak diambil dari Pemilik kehidupan, namun menggantinya dengan hukum buatan manusia yang penuh nafsu. Jadilah, hukum melahirkan ketidakadilan dan semaraut diberbagai lini. Sehingga sosok pemimpin mustahil hadir di tengah kondisi hukum demokrasi.

Umat merindukan pemimpin yang tidak hanya berani menentang kedzoliman secara nyata. Tetapi lebih dari itu, mampu memimpin umat dalam melangsungkan hukum-hukum syariah secara sempurna. Bersama umat menjaga eksistensi hukum-hukum Allah SWT.

Hingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua tanpa mengenal agama dan golongan tertentu. Namun, yang lebih penting dari itu, keridhoan pun diraih, hingga umat dapat merebut lagi posisinya sebagai umat terbaik.

Islam, Merevolusi Segalanya

Islam adalah agama sekaligus aturan hidup yang sempurna. Islam dapat diterima dengan akal pikiran. Berpikir adalah aktifitas wajib bagi setiap Muslim. Hal Itulah yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Maha benar Allah SWT,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”_(Q.S. Al-Baqarah [2]: 164).

Manusia diajak berfikir oleh Penciptanya dengan memperhatikan dan memikirkan setiap ayat yang diturunkan-Nya. Pun ketika, manusia hendak melakukan suatu perubahan total pada kehidupannya. Aktifitas berfikir adalah suatu keharusan dalam setiap aktifitas umat. Bukan hanya sekedar berfikir, tetapi berfikir dengan cemerlang dan mendalam menjadi catatan penting aktifitas berfikir.

Sehingga, bisa dipahami hanya dalam sistem Islam-lah kepemimpinan yang berkeadilan dapat diwujudkan. Sebab, pemimpin adalah sosok yang menjalankan syariah secara total. Bukan atas hawa nafsu yang dapat menyengsarakan umat dan masyarakat secara umum. Pemimpin yang takut hanya kepada Allah SWT akan berfikir keras bagaimana mensejahterakan umat, bukan mensejahterakan diri dan keluarganya saja.

Syariah yang diterapkan secara keseluruhan tidak hanya berdampak sejahteranya umat di dunia. Tetapi, lebih dari itu umat akan selamat di akhirat tempat kembali seluruh umat manusia. Pemimpin yang mengantarkan umat ke pintu kebaikan, begitupun umat selalu mendoakan pemimpin dengan kebaikan. Sebab, ikatan yang menyatukan pemimpin dan umat adalah ikatan aqidah Islam. Bukan ikatan manfaat seperti saat euforia pesta demokrasi 5 tahun sekali. Bukan sama sekali.

Semua itu dapat diraih dengan adanya revolusi pemikiran terlebih dahulu. Mengajak umat berfikir, bagaimana Islam mampu mengatur kehidupannya. Solusi atas permasalahannya. Bahwa pertanyaan mendasar bagi manusia, dari mana, untuk apa, dan akan kemana sejatinya harus terjawab terlebih dahulu. Ketika, ketiga pertanyaan mendasar telah terjawab dan didapati jawaban bahwa manusia dari Allah, hidup beribadah kepada Allah dan kembali kepada Allah SWT.

Maka, secara pasti kita akan dapati bahwa konsekuensi atas ketiga jawaban tersebut terikat secara total terhadap apa yang diturunkan Allah SWT. Ketiga jawaban tersebut harus diperoleh dalam proses berfikir, sehingga akan berpengaruh kuat dalam jiwa umat.

Ketika revolusi pemikiran telah terjadi di tengah-tengah umat. Umat telah mempunyai perasaan dan pemikiran yang sama yaitu perasaan dan pemikiran Islam telah menjadi arah pandang umat dalam memecahkan masalah mereka. Maka, revolusi sistem yang lebih baik menjadi hal yang tak terelakkan.

Demikian, sistem kapitalisme yang diterapkan saat menjadi akar masalah rusaknya sistem hukum yang saat ini. Indonesia merupakan wilayah yang makmur dan penuh dengan kekayaan alam. Justru, problem kemiskinan selalu menghantui setiap warganya. Mengapa masih saja terus terjadi? sebab para pengusaha dan penguasa telah menjalin kerjasama dibawah aturan demokrasi yang penuh dengan cacat sejak lahir.

Dengan merevolusi sistem kapitalisme ke sistem Islam, akan mampu mengantarkan revolusi akhlak yang hakiki. Sebab, akhlak adalah hasil dari penerapan hukum Islam secara kaffah di tengah-tengah umat. Juga, hasil dari ketaqwaan individu, masyarakat yang dijaga oleh negara. Sehingga, akhlak akan berada titik kemurnian dan menempati posisi yang mulia.

Rasulullah SAW adalah sosok yang patut kita teladani sepanjang masa. Memiliki akhlak yang agung nan mulia, bahkan disejajarkan dengan sifat al-quran.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Alquran” (HR Muslim).

Seperti yang telah mahsyur di kalangan umat manusia, bahwa al-quran yang dibawa Rasulullah SAW bukan hanya memperbaiki akhlak. Namun, sekaligus menjadi peraturan hidup bernegara umatnya. Dalam sejarah peradaban Islam, tercatat tidak kurang 13 abad lamanya memimpin umat. Dan tak kurang 3/4 wilayah di dunia menjadi bagian wilayah Islam. Pemimpinnya menjadi sosok yang ditakuti, wilayahnya makmur penuh keberkahan.

Bukan tidak mungkin, hal yang sama akan dialami setiap negara yang ingin menjadi negara yang makmur, berkeadilan penuh keberkahan. Maha benar Allah SWT,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Wallahu’alam bish-shawab.

Penulis: Nurmia Yasin Limpo, S.S