Beranda » News » Sejumlah Sarjana dan Profesional Kesmas Bahas Eksistensi Profesinya
Sejumlah Sarjana dan Profesional Kesmas Bahas Eksistensi Profesinya
News

Sejumlah Sarjana dan Profesional Kesmas Bahas Eksistensi Profesinya

MAKASSAR, Sejumlah Sarjana dan Profesional kesehatan masyarakat (kesmas), yang tergabung dalam Persatuan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) DPD Sulsel, Senin, 31 Desember 2018 malam, berkumpul di Warkop 88 Daya, Makassar, untuk menggelar dialog akhir tahun.

Dalam dialog yang mengusung tema Refleksi Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Prospek di Tahun Politik itu, salah satu hal yang menjadi topik bahasan menurut Ketua Persakmi Sulsel, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, PhD, kepada Media Sulsel, Rabu (2/1) adalah eksistensi profesi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM).

Ketua Dewan Etik Persakmi kota Palopo, Sudirman, PhD, mengatakan, bahwa secara substantif materi diskusi di kalangan mahasiswa dan penggiat kesehatan masyarakat maupun para SKM masih relatif sama sejak tahun 90an hingga saat ini, yaitu masih menanyakan eksistensinya.

“Fenomena ini sesungguhnya ada positifnya, karena akan senantiasa tersedia ruang diskusi yang bisa meningkatkan perhatian terhadap masalah kesehatan yang ada, termasuk kebijakan kesehatan. Hasilnya pun sebenarnya sudah mulai kelihatan, yaitu sudah semakin banyak SKM yang diberi kepercayaan menduduki jabatan eselon di kabupaten/kota,” tegas Sudirman.

Sementara itu Presiden BEM FKM UNHAS periode 2018/2019, Aryangga Pratama menyampaikan, bahwa kondisi saat ini sedang terjadi keresahan seputar kejelasan profesi kesmas, bahkan keprofesian kesmas masih menjadi polemik yang hangat diperbincangan di kalangan mahasiswa kesehatan masyarakat se Indonesia.

“Hampir 2 tahun mahasiswa kesmas seluruh Indonesia dilema terkait ingin diarahkan kemana mahasiswa kesmas selepas sarjana, bagi seorang SKM idealnya ingin mengabdi di sektor kesehatan, ironisnya justru mengalami banyak hambatan,” terang Aryangga, yang berharap SKM tak lagi dipandang sebelah mata.

Aryangga juga menceritakan, bahwa saat Rapimnas Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia pada Juli 2018 yang dihelat di Universitas Indonesia, terungkap, bahwa ketidakjelasan format keprofesian, karena belum adanya kesepakatan antara Persakmi dan IAKMI. (*/464ys)