Stunting di Tengah Berlimpahnya Pangan

Stunting di Tengah Berlimpahnya Pangan
Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Generasi)

OPINI—Sulsel sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional sekaligus penyelamat pangan nasional. Di satu sisi tercatat pula sebagai provinsi dengan angka stunting cukup tinggi di atas standar nasional. Sebuah ironi terpampang jelas di depan netra. Apa yang salah dari fakta ini? Bagaimana mungkin, sebuah wilayah terindikasi stunting di tengah berlimpahnya komoditas pangan?

Apa sebenarnya stunting itu? Dirilis dari laman republika.co.id, 25/2/2022, Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama. Sehingga, hal itu menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Bayi tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya, karena mengalami kekurangan gizi menahun.

Problem Stunting masih menjadi fokus pemerintah Provinsi Sulsel. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka prevalensi stunting, diantaranya program pendampingan 240 desa di 24 kabupaten/ kota. Seperti penuturan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Sulsel, Nurseha yang mengatakan 240 desa akan menjadi fokus pendampingan untuk membantu percepatan penurunan prevalensi stunting. (sulsel.inews.id, 17/3/2022)

Hal senada juga diungkapkan Wakil Bupati (Wabup) Gowa, Abd Rauf Malaganni, sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Gowa. Beliau berharap seluruh pihak terlibat untuk memperkuat kolaborasi menurunkan angka stunting khususnya di wilayah Gowa. (makassarmetro.com, 19/4/2022)

Daerah Pengekspor

Dilansir dari detik.com, 10/3/2022, selama 2021 ada tiga kabupaten/kota di Sulsel dengan produksi padi (GKG) tertinggi, yakni Kabupaten Bone (771,45 ton), Kabupaten Wajo (569.84 ton), dan Kabupaten Pinrang (516,87 ton). Belum lagi berbicara pangan lainnya, misal jagung, sapi, rumput laut, dll. Bahkan komoditas beras Sulsel masuk dalam peringkat ke-4 produsen terbesar di dunia.

Selanjutnya data dari Badan Pusat Statistik Sulsel, nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan Sulawesi Selatan pada Februari 2022 tercatat mencapai US$ 130,6 Juta. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,19 persen bila dibandingkan nilai ekspor bulan Januari 2022 yang mencapai US$ 129,06 Juta. Adapun lima komoditas utama yang diekspor yaitu nikel 60,94 persen; besi dan baja 20,91 persen; biji-bijian berminyak 10,11 persen; garam, belerang dan kapur 3,09 persen; serta Ikan dan udang 1,81 persen.

Berita Lainnya
Lihat Juga:  PKK Sulsel Fokus Turunan Angka Stunting, Kekerasan Perempuan dan Anak

Sebagian fakta di atas menunjukkan betapa berlimpahnya komoditas di Sulsel, tak terkecuali pangan. Jika demikian, mengapa Sulsel tercatat sebagai provinsi dengan angka stunting yang cukup tinggi? Dikutip dari detik.com, 10/3/2022, berdasarkan data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), angka stunting Sulsel saat ini 27,4% di atas standar nasional yakni 24%. Kondisi ini tentu menjadi pertanyaan besar. Bagaimana mungkin hal demikian bisa terjadi? Sebuah ironi yang perlu dianalisis akar masalahnya, agar solusi yang ditempuh tepat sasaran.

Jika ditelisik berbagai realitas yang terpampang di depan mata, diduga kuat terjadi kesalahan dalam pengelolaan sumber daya alam di negeri ini. Kekeliruan mulai dari hulu hingga hilir. Sistem ekonomi kapitalis yang diemban negeri ini, memberi ruang sangat lebar akan terjadinya celah kecurangan atau penyimpangan. Pun, berbagai regulasi yang ada menjadi penyempurna kezaliman di sistem ini.

Lihatlah kasus kelangkaan minyak goreng yang melibatkan mafia-mafia kelas kakap. Mahalnya komoditas pangan juga menjadi indikator rusaknya pengelolaan dalam sistem saat ini. Hal yang sama juga terjadi pada berbagai aktivitas lainnya. Kondisi ini terus berulang dan makin membuat derita berkepanjangan. Dibutuhkan sistem alternatif yang mumpuni, yakni sistem yang berasal dari Sang Khaliq. Bukan sistem buatan manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan.

Sistem Solutif

Sistem Islam memiliki instrumen pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berdasar syariat. Negara berperan penting dalam memutuskan setiap kebijakan secara mandiri dan berdaulat penuh. Tidak ada dikte dari negara lain, apalagi intervensi. Celah kecurangan (baik yang dilakukan individu ataupun kelompok), sangat sempit. Tersebab ketakwaan individu telah tercipta dalam naungan negara yang memberlakukan secara paripurna aturan Islam. Diantaranya, sistem sanksi yang tegas dan tidak pandang bulu.

Lihat Juga:  Investasi di Sulsel, Peluang atau Ancaman?

Terkait komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok individu, negara menjamin pemenuhannya secara mudah, murah, bahkan gratis. Negara memastikan seluruh individu rakyat terpenuhi kebutuhannya, person to person. Tidak ada ekspor ke luar negeri, jika kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. Begitupun kebijakan impor, tidak dilakukan jika kondisi dalam negeri berlimpah.

Hal ini ditempuh penguasa, karena perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) hanya dilakukan demi kemaslahatan rakyat. Tidak ada kepentingan lain. Apalagi terikat perjanjian-perjanjian internasional yang menyebabkan sebuah negara dengan “terpaksa” harus mengambil kebijakan impor. Ini adalah kewajiban negara dalam mengurusi seluruh kepentingan rakyat. Dimana perkara wajib dalam Islam adalah perkara yang sangat urgen, sebab jika tidak ditunaikan maka konsekuensinya adalah dosa.

Inilah perbedaan mendasar dengan sistem buatan manusia. Sistem Islam menyandarkan perbuatan sesuai hukum syarak, yakni benar atau salah, halal atau haram. Bukan standar hawa nafsu manusia, terlebih hanya karena asas manfaat semata. Namun, bervisi jauh ke depan menembus dimensi keimanan yakni akhirat.

Seyogianya, sistem inilah yang harusnya diterapkan seluruh umat manusia. Agar kesejahteraan dan peradaban beradab bisa diraih, peradaban yang memanusiakan manusia. Tidak ada lagi kondisi stunting seperti hari ini, karena estafet peradaban akan terus berlanjut hingga dunia berhenti berputar dan kita semua mendapatkan keberkahan.

Sebagaimana Allah Swt. telah berjanji dalam QS. Al A’raf: 96, yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” Wallahualam bis Showab. (*)

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Generasi)

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Berita terkait