Beranda » Opini » Suksesi Hutan Riau-Kalimantan Untuk Siapa?
Suksesi Hutan Riau-Kalimantan Untuk Siapa?
Ika Rini Puspita, S.Si, penulis bertempat tinggal di desa Jekne’madinging, Kec. Pattallassang, Kab. Gowa. Saat ini bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena), Ranting UIN Alauddin Makassar. Alumni Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar.
Opini

Suksesi Hutan Riau-Kalimantan Untuk Siapa?

OPINI – Suksesi ekologi adalah suatu proses perubahan komponen-komponen spesies suatu komunitas selama selang waktu tertentu, menurut Sutomo (2009:45). Menyusul adanya sebuah gangguan, suatu ekosistem biasanya akan berkembang dari mulai tingkat organisasi sederhana, hingga ke komunitas yang lebih kompleks selama beberapa generasi (Luken, 1990 dalam Sutomo (2009:45).

Pada suksesi terdapat dua jenis menurut Odum (2008), yaitu suksesi primer dan sekunder. Suksesi primer terjadi ketika komunitas awal terganggu dan mengakibatkan hilangnya komunitas awal secara total. Sehingga, komunitas asal akan terbentuk substrat dan habitat baru.

Gangguan ini disebabkan secara alami, misal tanah longsor dan gangguan karena ulah tangan manusia. Seperti penebangan pohon sembarangan, pembakaran area gambut (hutan) dan lain-lain.

Sedangkan suksesi sekunder terjadi jika suatu ekosistem alami mengalami gangguan baik secara alami ataupum buatan (tangan manusia).

Gangguan ekosistem tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme. Contoh gangguan alami yaitu banjir, gelombang laut, kebakaran, angin kencang dan lain-lain.

Sedangkan gangguan buatan seperti pembakaran padang rumput atau pembakaran area hutan.

Waktu masih aktif kuliah dulu tahun 2017 saat praktikum Ekologi unit ‘Suksesi sederhana’. Seperti teori di atas. Tujuan praktikum saat itu untuk mengetahui tahap-tahap proses suksesi yang terjadi pada komunitas tumbuhan bawah, sebelum dan sesudah diberi perlakuan.

Saat praktikum itu, sebenarnya penulis belum paham betul apa maksud dari ini semua. Dicari lahan kemudian dibagi menjadi dua bagian dengan ukuran sama, dan diberi patok tali pinggirannya. Lahan pertama dicangkul kemudian lahan kedua sengaja untuk dibakar.

Tapi terlebih dahulu sebelum perlakuan dilakukan penghitungan tanaman yang hidup di lahan (plot) tersebut. Lalu dibandingkan setelah 2 Minggu dicatat tumbuhan yang hidup.

Baru sekarang setelah lulus, baru paham ternyata belajar makhluk hidup atau lingkungan dalam hal ini jurusan Biologi, sangat menyenangkan.

Menyenangkannya karena manusia bisa lebih dekat dengan sang pencipta melalui perantara Makhluk hidup. Bagaimana melestarikan atau menjaga alam yang telah Allah titipkan ke umat manusia.

Namun, penulis merasa sedih dan kecewa sebenarnya melihat ulah manusia yang kadang melenceng atau merusak bumi dengan semaunya.

Mengeksploitasi besar-besaran SDA (sumber daya alam) dan dampaknya bisa dirasakan oleh semua manusia. Satu (sekelompok) yang berbuat, semua mendapatkan imbasnya.

Seperti kasus yang beberapa hari ini menyita perhatian publik yaitu kasus pembakaran hutan dan gambut Kalimantan-Riau yang merusak lingkungan.

Kabut asap tersebut berdampak besar bagi kesehatan, berujung jatuhnya korban yang membuat flora-fauna kehilangan habitat.

Seperti penjelasan teori di atas, pembakaran hutan merupakan suksesi primer yang terjadi ketika komunitas awal terganggu dan mengakibatkan hilangnya komunitas awal secara total.

“Kobaran api dipastikan memusnahkan habitat satwa dan flora khas hutan Kalimantan di sana. Ular (piton terpanggang yang viral di media), itu kan yang tampak. Padahal ada jasad renik ratusan yang musnah. Artinya ekosistem terganggu, rantai makanan putus itu lebih mengerikan,” kata Kepala BKSDA Provinsi Kalimantan Tengah Adib Gunawan dikonfirmasi merdeka.com, Rabu (18/9).

Bukan rahasia lagi bahwa mayoritas penduduk Indonesia memiliki kebiasaan membakar sesuatu apalagi jika disuap oleh materi. Seperti yang terjadi di Riau jajaran Polda Riau hingga saat ini sudah berhasil menangkap 26 orang pelaku terkait kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) (Kompas.com, 7/8/2019).

Diberanda sosial media pun beredar vidio bagaimana kabut asap yang terjadi di dibeberapa bagian Indonesia. Bentuk kritik kejadian tersebut baik berupa artikel-artikel maupun puisi menggugah. Penulis merasa miris sebenarnya melihat vidio tersebut, sampai tersentuh oleh foto yang tersebar

“Di saat kami tutup hidung!!!, Wakil rakyat tutup telinga!!! Pemerintah pun tutup mata dan media tutup mulut. Bukan tak mungkin kami tutup usia. #SaveRiau #MelawanAsap.”

Kejadian di atas bukanlah perkara remeh-temeh. Ini perihal nyawa yang terancam, ini bukan permainan. Maka, persoalan tersebut harus secepat mungkin untuk diantisipasi.

Penulis berharap semoga kabut asap tahun ini yang terakhir kalinya. Namun, sangat disayangkan upaya negara untuk memberantas hal ini hanya sebatas pembagian masker semata. Belum ada upaya nyata mengatasi persoalan ini.

Suksesi hutan Riau-Kalimantan untuk siapa? Bukan tidak mungkin proses pembakaran tersebut dimonopoli oleh sekelompok orang berduit (kapitalis) yang ingin mengeksploitasi hasil pembakaran hutan.

Seperti yang dikutip dari siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari pengamatan Kapolri, areal yang kebakar hanya hutan saja, sedangkan areal kebun sawit dan tanaman lainnya tidak terbakar.

Kemudian, Kepala BNPB mendapatkan laporan dari Bupati Pelalawan bahwa 80 persen wilayah kebakaran hutan dan lahan selalu berubah menjadi lahan perkebunan sawit atau tanaman industri lainnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap setidaknya terdapat empat perusahaan asing terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dan Riau.

Keempat perusahaan tersebut berasal dari Singapura dan Malaysia. Untuk wilayah Kalbar perusahaan itu ada di Kabupaten Ketapang, Sanggau, dan Melawi.

Sedangkan jika kita berbicara Islam. Islam memandang bahwa hutan adalah milik umum sehingga tidak boleh di privatisasi. Sehingga para Kapitalis tidak diberikan hak secara leluasa mengeksploitasi SDA karena semuanya diatur secara tegas.

Dengan ini maka wajib bagi kita mengambil aturan Islam dalam kehidupan. Sehingga umat manusia dapat merasakan Islam sebagai Rahmatan LilAlamin. WallahuA’lam. (*)