OPINI—Pandemi Covid-19 berdampak pada tenaga kerja di Sulawesi Selatan. Pertumbuhan ekonomi tahun 2020 merosot di level–0,7 persen. Kondisi kontraksi ini juga masih berlanjut hingga triwulan I/2021 dengan raihan pertumbuhan tahunan–0,2 persen. Kondisi ekonomi yang ‘tidak baik-baik saja ‘ membawa efek berantai pada keadaan ketenagakerjaan Sulawesi Selatan.

Saat kondisi sebelum covid-19 pengangguran di Sulawesi Selatan mencapai 250 ribu orang pada Februari 2020, meningkat pesat menjadi 270 ribu orang pada Agustus 2020. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 5,70 persen (Februari 2020) menjadi 6,31 persen (Agustus 2020).

TPT perkotaan pada Agustus 2020 mencapai double digit, sementara TPT perdesaan justru mengalami penurunan. Berbagai kebijakan terkait ketenagakerjaan yang masif cukup memberi angin segar pada penurunan jumlah pengangguran dan TPT di periode Februari 2021 dengan nilai masing-masing sebesar 256 ribu orang pengangguran dan TPT 9,76 persen.

Penurunan TPT di perdesaan lebih tinggi dibanding perkotaan. Dari fenomena ini menunjukkan bahwa dampak covid-19 terhadap ketenagakerjaan di perdesaan lebih ringan dan lebih cepat recovery. Dalam situasi ketidakpastian akibat pandemi, desa berfungsi sebagai penyangga tenaga kerja.

Keberadaan sektor pertanian sangat strategis sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi di atas 35 persen. Pergeseran sektoral tenaga kerja terlihat jelas di masa pandemi. Dengan kebijakan pembatasan sosial, menyebabkan pasar tenaga kerja di kota menyempit. Pilihan kembali ke desa dengan mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghasilan menjadi solusi sementara.

Pada Februari 2020, daya serap tenaga kerja sektor pertanian mencapai 37 persen dan meningkat hingga 40 persen di Agustus 2020. Dua sektor lain yang mendapat limpahan pergeseran tenaga kerja terbesar adalah sektor jasa lainnya dan sektor transportasi.

Setelah satu tahun berlalu, pada Februari 2021 daya serap pertanian mengalami pelemahan. Tenaga kerja mengalami pergeseran ke sektor konstruksi, akomodasi dan makan minum, serta jasa pendidikan. Sementara berdasarkan status, sektor informal menjadi tumpuan dengan kontribusi di atas 60 persen.

BPS melalui Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) menyajikan lebih detail dampak pandemi terhadap tenaga kerja. Dampak pandemi dipilah menjadi berhenti bekerja, sementara tidak bekerja dan pengurangan jam kerja.

Pada saat awal merebaknya covid-19, dari total penduduk usia kerja di Sulawesi Selatan yang merasakan dampaknya sebesar 801 ribu orang (11,88 persen penduduk usia kerja) dengan rincian 83 ribu orang berhenti bekerja, 61 ribu orang sementara tidak bekerja dan 658 ribu orang mengalami pengurangan jam kerja.

Untuk penduduk yang berhenti bekerja, 26 persen diantara beralih menjadi bukan angkatan kerja (ibu rumah tangga/sekolah/penerima pendapatan). Kondisi bulan Februari 2021 sedikit membaik. Dampak covid dirasakan oleh 517 ribu orang atau setara dengan 7,62 persen penduduk usia kerja.

Jumlah penduduk usia kerja yang berhenti bekerja karena covid-19 berjumlah 52 ribu orang dengan 35 persen diantara menjadi bukan angkatan kerja. Sedangkan yang sementara tidak bekerja mencapai 23 ribu orang. Pengurangan jam kerja dialami oleh 442 ribu orang.

Bagaimana dengan telaah ketenagakerjaan periode mendatang?? Rasanya masih cukup berat. Tekanan yang sedikit melemah dan tercermin pada hasil Sakernas Februari 2021 kelihatannya belum mencerminkan kondisi yang lebih baik ke depan. Lonjakan kasus yang masih cukup tinggi berpeluang pada masih suramnya kondisi ketenagakerjaan.

Berbagai upaya berupa insentif terhadap dunia industri bertujuan untuk mencegah terjadinya PHK massal. Di saat yang sama penguatan sektor pertanian sebagai “pelarian” tenaga kerja masif dilakukan. Demikian juga untuk tenaga kerja informal berskala mikro kecil mendapatkan penguatan penuh. Aneka kebijakan terkait penguatan daya beli dilakukan agar upah/gaji yang diterima pekerja mampu mencukupi kebutuhan dasarnya.

Namun di tengah pandemi yang terus merebak rasanya semua berpacu dengan waktu. Bauran aneka kebijakan pemerintah memerlukan peran aktif semua masyarakat. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan dalam beraktivitas, cakupan vaksin serta ketaatan akan skenario PPKM menjadi salah satu kunci meredam laju pandemi.

Semangat mengembangkan diri dan melihat dengan jeli setiap peluang usaha perlu ditumbuhkan di kalangan masyarakat terdampak covid. Jaring pengaman sosial internal melalui gerakan berbagi secara mandiri bisa menjadi alternatif. Hal lainnya adalah pemberdayaan ekonomi antar anggota masyarakat dan peningkatan peran serta CSR dunia industri dalam pendampingan usaha. Semoga dengan peran serta semua lini, masa depan ketenagakerjaan kembali bersemi. (*)

Penulis: Darma Endra Wati (Fungsional Statistisi BPS Sulsel)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.