Advertisement - Scroll ke atas
  • Iduladha 1445 H
  • Kalla Group
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Tradisionalisme Maulid Nabi Muhammad SAW dan Traktasi Telur

10416
×

Tradisionalisme Maulid Nabi Muhammad SAW dan Traktasi Telur

Sebarkan artikel ini
Warkop Telah Menjadi Jamur di Bulukumba
Ikhlasul Amal Muslim, Aktivis Mahasiswa. (Foto: Dok)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Bulan Desember adalah bulan akhir tahun dimana ada beberapa peringatan dua agama yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi umat muslim dan Hari Natal bagi kaum kristiani. Namun dalam tulisan kali ini hanya merujuk kepada proses kelahiran Nabi Muhammad SAW yang bisa di beri nama Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Momentum ini membuat diri kita untuk merefleksi sejarah Nabi Muhammad SAW yang mulai dari proses kelahirannya sampai wafatnya. Mungkin semua umat Islam sudah tahu kelahiran Nabi Muhammad s.a.w yang jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awal bertepatan pada tahun gajah dalam tanggal masehinya yaitu 20 April 571 Masehi.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Peringatan maulid di Indonesia terjadi sebuah kelahiran tradisi dan budaya unik yang tidak akan sama dengan negara – negara Islam mayoritas. Beginilah kekayaan Islam dalam setiap hari besarnya mampu melahirkan tradisi dan budaya yang berbau akan budaya Khas Nusantara hingga sadar atau tidak sadar itu mampu menambah kekayaan akan tradisi dan budaya Nusantara.

Begitulah majemuknya Islam Indonesia mampu berbaur dengan kalangan yang mencintai budaya khas kenusantaraan. Salah tradisi yang sudah melekat dan menjadi tradisi di Indonesia salah satunya Mudik Lebaran yang momentumnya mampu kita lihat ketika 10 hari sebelum hari raya Idul Fitri.

Begitu pula dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. anda akan lihat beberapa tradisi yang unik dan sudah membudidaya dalam setiap peringatan maulid tak lengkap rasa jika tak ada tradisi seperti itu dalam setiap peringatan Maulid.

Tradisi Maulid Nabi Di Indonesia

Dalam setiap daerah di Indonesia kita akan menemukan berbagai tradisi unik dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. meskipun ada beberapa kalangan tidak setuju akan peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w tapi itu tidak akan menjadi persoalan karan dalam tulisan kita hanya membahas tradisi Maulidnya bukan pada persoalan hukum fiqihnya dalam setiap tradisinya.

Berikut bebeerapa tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang mungkin anda sering jumpai:

1) Muludhen

Tradisi muludhen digelar oleh warga di Pulau Madura, Jawa Timur saat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam acara itu biasanya diisi dengan pembacaan barzanji (riwayat hidup Nabi) dan sedikit selingan ceramah keagamaan yang menceritakan kebaikan Sang Nabi semasa hidupnya untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup.Tepat tanggal 12 Rabiul Awal, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke masjid untuk merayakan Maulid Agung.

Di luar Maulid Agung ini, orang masih merayakannya di rumah masing-masing. Tentu tidak semua, hanya mereka yang memiliki kemampuan dan kemauan.Saat Maulid Agung, para perempuan biasanya datang ke masjid atau musholla dengan membawa talam yang di atasnya berisi tumpeng.

Di sekeliling tumpeng tersebut dipenuhi beragam buah yang ditusuk dengan lidi dan dilekatkan kepada tumpeng. Buah-buah itu misalnya salak, apel, anggur, rambutan, jeruk, dan lainnya.

2) Bungo Lado

Tradisi Bungo Lado (berarti bunga cabai) adalah tradisi yang dimiliki warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bungo lado merupakan pohon hias berdaunkan uang yang biasa juga disebut dengan pohon uang. Uang kertas dari berbagai macam nominal itu ditempel pada ranting-ranting pohon yang dipercantik dengan kertas hias.

Tradisi bungo lado menjadi kesempatan bagi warga yang juga perantau untuk menyumbang pembangunan rumah ibadah di daerah itu. Karenanya, masyarakat dari beberapa desa akan membawa bungo lado.

Pohon uang dari beberapa jorong (dusun) itu kemudian akan dikumpulkan.Uang yang terkumpul biasanya mencapai puluhan juta rupiah dan disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah. Tradisi maulid ini biasanya digelar secara bergantian di beberapa kecamatan.

3) Ngalungsur Pusaka

Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terdapat upacara Ngalungsur, yaitu proses upacara ritual di mana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat yang difokuskan di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan.Di tempat lain seperti Banten, kegiatan difokuskan di Masjid Agung Banten. Demikian pula di tempat-tempat ziarah makam para wali, tradisi ini juga digelar Tradisi Ngalungsur Pusaka di Garut, Jawa Barat.

4) Kirab Ampyang

Warga di Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah, juga memiliki tradisi tersendiri. Mereka melakukan kirab Ampyang di depan Masjid Wali. Pada awalnya kegiatan ini merupakan media penyiaran agama Islam di wilayah tersebut.

Tradisi itu dilakukan oleh Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadirin.Tradisinya dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau nasi dan krupuk yang diarak keliling Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di desa setempat.

5) Keresen

Tradisi yang tidak kalah unik adalah Keresen, yaitu merebut berbagai hasil bumi dan pakaian yang digantung pada pohon keres. Tradisi ini dilakukan oleh sejumlah warga di Dusun Mengelo, Mojokerto, Jawa Timur.

Berbagai hadiah tersebut melambangkan bahwa semua pohon di muka bumi sedang berbuah menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.Tradisi Keresan ini digelar setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pohon Keres berbuah lebat oleh aneka hasil bumi sebagai simbol kelahiran Muhammad membawa berkah bagi umat Islam di seluruh dunia.

6) Panjang Jimat

Panjang Jimat adalah tradisi Maulid Nabi di Keraton Cirebon. Upacara dihadiri ribuan masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka sengaja datang ke 3 keraton hanya untuk menyaksikan proses upacara.

Peringatan Maulid Nabi juga turut digelar di makam Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Di makam tersebut juga dipadati oleh ribuan orang yang sengaja ingin menghabiskan waktu pada malam Maulid Nabi.

7) Grebeg Maulud

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Kata ‘gerebeg’ artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masdjid Agung.

Setelah di masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan

8) Maudu Lompoa

Di Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan ada sebuah tradisi menyambut Maulid Nabi, yaitu diadakanya tradisi Maudu Lompoa Cikoang (dalam bahasa Makassar).

Tradisi ini merupakan perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di bulan Rabiul Awal berdasarkan Kalender Hijriyah.

Yang unik dari tradisi ini adalah persiapannya yang memakan waktu 40 hari. Tradisi diawali dengan mandi di bulan Syafar yang dipimpin para sesepuh atau tertua.

Pada hari H perayaan Maudu Lompoa, masyarakat Cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sampil memikul julung-julung.

Nantinya julung-julung tersebut akan di perebutkan oleh semua orang.Julung-julung yang diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya.

Agar lebih indah, julung-julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna-warni bak bendera terpasang di atas perahu. Julung-julung diletakkan di depan semua orang.

Makna Telur Dalam Peringatan Maulid

Begitulah peringatan Maulid di indonesia berbagai tradisi yang begitu menguat dan sudah menjadi khas tradisi kenusantaraan. Namun satu hal yang harus kita teliti dalam setiap tradisi Peringatan Maulid Nabi yaitu telur, tak lengkap rasanya Maulid Nabi jika tanpa telur yang di hias dengan berbagai varian warna dan kreasi unik.

Telur terkadang di bungkus dengan kertas berwarna dan di letakkan di tempat lebar kemudian di jejer rapi layaknya barisan shaf sholat berjamaah, ada pula telur di gantung di ranting kayu dan di bungkus dengan kertas berwarna kemudian di letakkan dekat mimbar.

Dalam benak kita mungkin akan bertanya kenapa telur menjadi tradisi dalam peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah? Ada sebuah makna filosofis yang terkandung dalam telur dimana ada cangkan, isi putih, dan isi kuningnya.

Cangkan telur di ibaratkan sebagai pertahanan keimanan dari serangan setan yang ingin meruntuhkan keimanan. Isi putihnya dalam peringatan maulid mengingatkan akan kesucian Rasulullah SAW selama hidup di dunia.

Isi kuningnya yang berada di tengah merupakan inti manusia yaitu qalbu kita perlu di jaga layaknya isi kuning telur berada di tengah yang di luarnya terdapat isi putih telur dan cangkan telur yang keras sebagai pertahanan qalbu.

Secara ekonomis telur mampu di jangkau oleh seluruh kalangan umat Islam dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. dari segi manfaatnya, Imam Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman (Juz I : Hal. 87) menyebutkan sebuah riwayat yang di klaim sebagai hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW) bahwa jika seseorang merasa lemas dan tidak bertenaga, maka diperintahkannya memakan telur.

Berdasarkan riwayat dapat dipahami bahwa terur termasuk obat kuat, dan memang merupakan sumber protein terbaik, putih telur menghaluskan dan memutihkan kulit, sedangkan kuning telur sebagai salah satu sumber vitamin B–Kompleks membantu perkembangan otak. Demikianlah telur harganya murah namun khasiatnya sangat besar.

 

Penulis: Ikhlasul Amal Muslim (Mahasiswa Bulukumba, Sulsel)

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!