Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Stunting
Opini

Virus Corona Buat China Merana

490
×

Virus Corona Buat China Merana

Sebarkan artikel ini
Virus Corona Buat China Merana-Risnawati-Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah
Risnawati, Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah
  • Pilkada Sulsel (KPU Sulsel)
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI – Setelah marak pemberitaan penyiksaan China terhadap Muslim Uighur dan konflik di laut Natuna. Kini, China dihadapkan dengan virus corona yang menjadi fenomena baru di dunia. Sebab virus corona, selain dapat menyebar dengan sangat cepat, virus itu juga telah menyebabkan kematian pada banyak orang di beberapa negara dunia, utamanya di China.

Seperti diketahui, saat ini wabah virus corona wabah ini telah membunuh 41 orang dan menginfeksi 1.300 orang secara global sejak pertama kali muncul akhir tahun lalu.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Perlu diketahui, bahwa virus corona berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan (Huanan Seafood Market) yang terletak di pusat kota Wuhan.

Menjual berbagai jenis makanan unik. Mulai dari anak serigala, rubah hidup, buaya, salamander raksasa, ular, tikus, burung merak, landak, daging unta hingga musang.

Berbagai binatang yang dijual di pasar itu merupakan spesies yang terkait dengan pandemi sebelumnya, yakni Server Acute Resporatory Syndrome (SARS). Muncul dugaan virus mematikan ini disebarkan oleh sup kelelawar, sebuah makanan populer di Wuhan.

Dilansir dalam KOMPAS.com, dunia sedang dihebohkan dengan mewabahnya virus corona jenis baru, yakni Novel coronavirus (2019-nCov) yang berasal dari Wuhan, China.

Hingga saat ini tercatat sudah 14 negara yang tertular oleh virus ini. Diketahui, Novel coronavirus (2019-nCov) merupakan virus penyebab penyakit saluran pernapasan di mana virus ini masih satu keluarga dengan virus SARS dan MERS.

Meski mirip, apakah ketiganya sama-sama berbahaya? Salah satu dokter spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, dr. R. Ludhang Pradipta R., M. Biotech, Sp.MK mengungkapkan, virus 2019-nCov saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut untuk bahaya yang ditimbulkan.

Meskipun demikian, virus ini sudah membunuh 41 orang di China. “Sejauh ini untuk yang nCoV masih belum bisa dipastikan apakah ini berbahaya atau tidak, masih dalam penelitian lebih lanjut,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (26/1/2020).

Selain itu, virus corona diduga berasal dari senjata perang biologi di laboratorium khusus daerah Wuhan. Kebocoran laboratorium ini membuat virus menyebar sebelum digunakan dalam perang. AS menduga bahwa Tiongkok sudah lama menyimpan virus tersebut.

Pernyataan itu dibantah oleh Beijing karena belum diketahui pasti asal-muasal virus yang dinamakan nCoV itu.

Dikutip dalam WUHAN – Virus korona yang menyebar secara global diduga berasal dari laboratorium Wuhan yang terkait program senjata biologis rahasia China.

Hal itu seperti diungkapkan pakar perang biologis Israel, Dany Shoham. Mantan perwira intelijen Israel yang telah mempelajari perang biologis China, Dany Shoham, menjelaskan institut tersebut terkait program senjata biologis rahasia Beijing.

“Laboratorium tertentu di institut ini mungkin telah terlibat, dalam hal penelitian dan pengembangan (senjata biologis) China. Paling tidak secara kolateral. Namun belum sebagai fasilitas utama senjata biologi China,” kata Shoham pada The Washington Times, seperti dikutip pada Minggu (26/1/2020).

Virus Corona, Propaganda Senjata Biologi?

Upaya-Upaya untuk membunuh melalui penyakit pada masa perang bukanlah hal baru. Pada abad ke-14, di Eropa bagian timur, mayat-mayat korban sampar hitam dilontarkan melewati tembok kota yang sedang dikepung.

Dalam sebuah insiden 400 tahun kemudian, perwira Inggris sengaja memberikan selimut-selimut yang terinfeksi cacar kepada orang-orang Indian Amerika pada sebuah pembicaraan damai selama Perang Prancis dan Indian.

Hal ini memicu epidemi yang turut menyebabkan orang-orang Indian tersebut menyerah. Akan tetapi, baru pada akhir abad ke-19 ditemukan bahwa mikroba menyebabkan penyakit menular.

Pemahaman ini membuka kemungkinan-kemungkinan yang baru dan mengerikan untuk menggunakan penyakit sebagai senjata.

Tentu saja, kemajuan-kemajuan di bidang medis dan sains juga telah menghasilkan pengembangan obat dan vaksin. Kedua-duanya telah sangat berhasil dalam mengobati dan mencegah penyakit.

Namun, terlepas dari kemajuan-kemajuan ini, penyakit menular tetap menjadi musuh yang menakutkan, menewaskan lebih dari 17 juta orang setiap tahun​ sekitar 50.000 orang sehari.

Benar-benar ironi yang mengerikan: Sementara para pria dan wanita yang brilian telah mengabdikan kehidupan mereka untuk menaklukkan penyakit pada manusia, yang lainnya dengan gairah dan keterampilan yang sama telah memusatkan perhatian untuk menaklukkan manusia lewat penyakit.

Selama lebih dari 25 tahun, Amerika Serikat, bekas Uni Soviet, dan beberapa negara lain dengan ambisius berupaya mengembangkan senjata biologi. Namun, pada tahun 1972, negara-negara tersebut sepakat untuk melarang senjata-senjata ini.

Akan tetapi, beberapa negara dengan diam-diam melanjutkan pengembangan dan riset, menimbun bahan-bahan biologi yang mematikan, bersama dengan sarana-sarana untuk menyebarkannya.

Apa yang memicu pelarangan resmi atas senjata-senjata demikian? Menurut pemikiran pada awal tahun 1970-an, bahan-bahan biologi, meskipun sangat mematikan, adalah senjata yang kurang ampuh di medan perang.

Salah satu alasannya adalah karena efeknya tidak langsung​ dibutuhkan waktu sampai gejala-gejalanya tampak. Alasan lain adalah karena keefektifan senjata tersebut bergantung pada fluktuasi angin dan cuaca.

Selain itu, bangsa-bangsa sadar bahwa jika satu bangsa menggunakan senjata biologi untuk melawan bangsa lain, bangsa sasaran kemungkinan besar akan membalas dengan senjata biologi atau senjata nuklirnya sendiri.

Terakhir, banyak orang merasa bahwa mengerahkan organisme hidup dengan sengaja untuk melumpuhkan atau membunuh sesama manusia adalah tindakan yang menjijikkan secara moral.

Bagi orang yang ingin melakukan pembunuhan secara membabi buta, senjata biologi memiliki daya tarik yang besar. Senjata biologi dapat dikembangkan dan disebarkan secara rahasia.

Selain itu, suatu serangan biologi yang senyap, terselubung, perlahan, dan mematikan dapat mengguncangkan kestabilan populasi hanya melalui kepanikan yang ditimbulkannya.

Serangan terhadap tanaman pangan dan ternak dapat mengakibatkan kekurangan makanan dan bencana ekonomi.

Dulu AS juga menduga bahwa Irak menyimpan senjata kimia pemusnah masal atau WMD sampai AS merasa punya hak sebagai polisi dunia untuk mengintervensi Irak namun sampai kini tidak ditemukan senjata itu di Irak.

Apa China akan bernasib sama seperti Irak? Namun perlu diingat, sebelumnya China juga berhadapan dengan banyak virus mematikan seperti SARS yang berasal dari musang Tiongkok dan ada pula virus H5N1 atau flu burung.

Kedua virus itu tidak sampai membuat AS mengintervensi Tiongkok. Teori konspirasi juga hilang seiring hilangnya berita tentang virus tersebut dari permukaan media.

Tapi semua itu harus mereka bayar dengan penderitaan baru. Yaitu Allah memberikan peringatan melalui sebuah virus corona yang mematikan.

Tak ada yang tak mungkin ketika Allah sang Pencipta alam semesta berkehendak. Manusia tidak akan mampu melawan apa yang telah Allah SWT tetapkan. Karena Allah SWT punya aturan bagi hambanya yang wajib dijalankan.

Meskipun manusia berkilah mau berbuat semaunya tapi ia tidak mampu menjangkau dibalik perintah dan laranganNya. Karena manusia makhluk yang lemah lagi terbatas kemampuannya.

Virus Corona, Teguran Untuk Kembali Ke Syariat-Nya

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka tak sepatutnya manusia berlaku sombong dan acuh terhadap aturannya. Dalam perkara mengkonsumsi makanan Allah SWT telah memberikan aturan. Karena tidak semua jenis makanan yang boleh dikonsumsi. Kecuali makanan tersebut halal dan thayyib.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS: Al-Maidah ayat 88 : “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.”

Inilah kesempurnaan Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk makanan. Sebagai upaya menjaga keberlangsungan hidup dan kebaikan manusia. Oleh sebab itu kita mesti berbenah diri untuk hidup sesuai SyariatNya.

Jadikan virus corona yang menimpa dunia saat ini sebagai pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Sesuai dengan firman Allah SWT (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41).

Sebagai muslim kita juga menyakini bahwa setiap bencana dan musibah adalah balasan yang disegerakan di dunia bagi orang-orang munafik dan kaum kafir yang memusuhi agama-Nya.

Sebagaimana Firman Allah SWT, “Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, sedang mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran: 56)

Kaum Muslim percaya, tidaklah musibah dapat terjadi jika bukan atas kehendak-Nya. Corona yang menimpa China adalah sebagian kecil tanda kekuasaan Allah. Kuasa yang bahkan tak bisa dibaca oleh akal manusia yang terbatas. Terlepas Virus ini bagian dari propaganda atau bukan sama sekali.

Tak ada yang mampu menghalangi kehendak Allah, jika Allah sudah berkehendak. Bahkan meski manusia mengerahkan seluruh kekuatan, daya upaya, teknologi yang super canggih dan segala peralatan muthakir untuk menghadang. Takkan bisa menghadang ketetapan-Nya.

Buktinya, dengan virus corona yang Allah turunkan, dunia menjadi menderita dan ketakutan. Dengan merebaknya Virus Corona, dunia bergejolak.

Dengan tersebarnya Virus Corona, bukan hanya China yang Merana bahkan duniapun bisa hancur. Masihkah manusia akan angkuh dan sombong dengan tetap menolak diterapkannya aturan Allah yakni aturan Islam?

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” (QS. An- Nahl: 40). Wallahu a’lam. (*)

Penulis: Risnawati (Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)
  • DPPKB Kota Makassar
error: Content is protected !!