Advertisement - Scroll ke atas
  • Bapenda Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Pemkot Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
  • Universitas Dipa Makassar
Opini

Wajah Kelam Anak Indonesia

452
×

Wajah Kelam Anak Indonesia

Sebarkan artikel ini
Wajah Kelam Anak Indonesia
Reskidayanti
  • Pemprov Sulsel
  • PDAM Kota Makassar
  • Banner DPRD Makassar

OPINI—Kondisi lingkungan anak-anak diera yang penuh dengan digitalisasi ini tanpa sikap kewaspadaan akan berakibat fatal. Berbagai merek kejahatan mengintai anak-anak Indonesia saat ini.

Ketua forum panti kota medan (Besri Ritonga) menyebutkan bahwa ada sekitar 41 anak yang menjadi korban eksploitasi oleh dua pengelola panti asuhan, masing masing panti tersebut yakni panti asuhan Yayasan Tunas Kasih Olayama Raya dan Karya Putra Tunggal Anak Indonesia (detik.sumut.com).

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Dalam kejahatan tersebut pelaku menggunakan media sosial sebagai jejaring melancarkan misinya lewat aplikasi Tiktok secara live. Dan tak hanya itu, juga diberitakan penangkapan seorang perempuannya berinisial FEA (24) oleh Polda Metro Jaya pada Ahad, 24/09/2023 atas kasus prostitusi anak dibawah umur melalui media sosial (republik.com).

Sungguh miris kondisi kelam anak bila melirik fakta tersebut. Itupun hanya sebagian kecil dari yang belum terungkap, sungguh tak bisa dibayangkan nasib anak penerus bangsa ini kelak.

Jaminan Keamanan Anak

Anak seharusnya mendapatkan haknya untuk bisa menikmati masa pertumbuhan mereka dengan baik. Penjaminan keamanan anak sangat berpotensi dalam memelihara bibit bangsa ini kelak untuk meneruskan estafet peradaban di masa depan. Walaupun sudah ada UU terkait Perlindungan Anak tapi nyatanya itu belum mampu memberikan keamanan yang baik bagi anak bangsa ini.

Didalam jerat kapitalisme yang sekuler saat ini, sangat berpengaruh bagi lingkungan tempat anak tumbuh. Pola kehidupan masyarakat tergantung pada pandangan mereka terkait kehidupan.

Saat ini masyarakat benar-benar mengadopsi asas sekuler (pemisahan agama dalam kehidupan). Seperti pada berbagai fakta yang kita temui bahwa hari ini manusia mudah saja memanfaatkan sesama mereka demi sebuah keuntungan yang sifatnya jasadiayah (fisik) saja.

Dorongan besar untuk terus meorientasikan hidup demi materi seolah segalanya hanya berpusat dititik kepuasan hawa nafsu manusia, tanpa mempertimbangkan halal haram. Alhasil, anak anak yang notbenenya emas bangsa malah jadi korban atas keserakahan manusia lain yang tidak peduli akan sekitar, yang penting mereka tetap bisa punya uang.

Adapun jejaring yang mereka gunakan sebagai media kejahatan pun tak ada pengontrolan dengan baik. Kita dapat melihat kelemahan sistem hukum dalam kapitalisme ini yang tak bisa mencegah perbuatan prostitusi pada anak. Justru malah baru mau memblok akun yang tak sesuai penggunaan setelah banyak terjadi penyimpangan pada jejaringnya.

Apalah daya, media sosial yang merupakan hak milik swasta dibiarkan begitu saja tanpa ada filter tanpa ada kebijakan yang membatasi dalam penyebarannya. Negara disini hanya sebatas regulator bagi mereka dan berlepas tangan dari pengurusan keamanan media bagi anak anak.

Kehidupan sekuler menjadikan negara terpisah dari aturan agama, nyatanya setiap solusi yang ditawarkan hanya sebatas solusi parsial saja.

Dalam hal ini walaupun negara dengan berbagai programnya melakukan penaganan misal regulasi perlindungan anak yang diadakan di berbagai kabupaten yakni Kabupaten KLA (Kota Layak Anak) hanya sebatas seremonial saja yang tak mampu memberikan solusi yang efektif dalam menjaga Jaminan keamanan Anak.

Begitupun pada sanksi yang diberikan pada pelaku tidak memberi efek jera. Bahkan tak kadang UU diubah sesuai kebutuhan para korporat yang sifatnya tajam kebawah.

Begitulah realita kehidupan dalam jerat sistem kapitalisme yang serba manipulatif dan tak memberi pemeratan yang adil bagi kesejahteraan, termasuk jaminan keamanan bagi anak anak.

Islam solusi keamanan Anak

Dalam Islam sendiri sudah kompleks segala aturan kehidupan. Disamping itu pun, Islam juga punya sistem pemerintahan sendiri yang mampu menerapkan syariat Islam secara keseluruhan tanpa memilah hukum tersebut. Hal inilah yang terjadi selama sekitar 14 abad.

Aturan Islam berdiri diatas sistem pemerintah yang disebut Khilafah. Dalam jaminan keamanan, anak akan di urus dengan baik sebeb salah satu fungsi Khilafah yakni sebagai maqasidus syariah yang akan menjaga dan melindungi anak.

Dalam aspek yang terkecil akan diatur, seperti keluarga. Setiap anak berhak mendapatkan orang tua yang shaleh dan memberikan nama kepada anaknya nama yang baik. Dan kewajiban orang tua untuk memahamkan kepada anaknya hakekat hidup dan menanamkan pada diri anak standar kemulian yakni bermanfaat untuk agama Allah. Itulah gambaran kecil terkait konsep syariah dalam keluarga.

Tak hanya itu, kebutuhan pokok anak juga sangat diperhatikan dalam Islam. Kebutuhan pokok ditanggung oleh ayah atau wali, bila tidak ada maka akan ditanggung oleh negara karena aturan terkait jaminan hidup anak sudah ada tertuang dalam firman Allah SWT QS. Al-baqarah ayat 233.

Dalam masyarakat pun anak akan tetap terjaga karena maindset masyarakat tak lagi sekuler namun menerapkan konsep amar ma’ruf nahi munkar sehingga kejahatan pun dapat diminalisir sebab ada kontrol masyarakat.

Lebih akurat lagi konsep nya sudah tertuang dalam UU pemerintah jadi jangkauan pengontrolanya bukan lagi berlandaskan asas kepentingan suatu kelompok tertentu namun itu sudah sama rata karena diatut sendiri oleh penguasa sesuai aturan Allah yang tak ada tandingannya.

 

Wallahua’lambissawab

 

Penulis

Reskidayanti
(Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!