TANA TORAJA—Tebing batu menjulang dengan deretan tau-tau yang menatap hamparan alam menjadi penanda kuat keberadaan Lemo, salah satu situs pemakaman tebing paling dikenal di Toraja.
Berjarak sekitar 15–20 menit dari pusat Kota Makale, kawasan ini rutin disinggahi wisatawan domestik hingga mancanegara yang ingin menyaksikan tradisi pemakaman leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.
Di dinding batu Lemo, liang-liang pahatan menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur. Tau-tau (patung kayu yang merepresentasikan sosok mendiang) berdiri berjajar sebagai simbol penghormatan keluarga terhadap mereka yang telah berpulang.
Di bawah tebing sakral itu, aktivitas ekonomi warga tumbuh. Kios-kios kerajinan berdiri di sepanjang kawasan wisata, menawarkan aneka produk khas Toraja.
Di salah satu kios, Anton Tandiembong (50) tampak tekun menyelesaikan pahatan tau-tau. Ia telah menekuni seni pahat sejak usia 10 tahun.
“Saya pertama kali membuat patung kecil ukuran sekitar 10 sentimeter. Dibeli wisatawan asing asal Amerika dengan harga Rp5 ribu. Waktu itu nilainya sudah sangat besar,” kenang Anton.
Anton belajar secara otodidak, berbekal pisau kecil dan ketekunan. Kini ia dikenal wisatawan dan memiliki kios sendiri di depan objek wisata.
Ia mengaku semakin sedikit warga Toraja yang menekuni seni pahat tau-tau, namun dirinya tetap bertahan.
“Saya tidak pakai gambar. Langsung dari imajinasi saja,” ujarnya.
Dalam berkarya, Anton memilih kayu berkualitas seperti kayu uru dan batang nangka, terutama untuk pesanan khusus. Proses pengerjaan satu patung memakan waktu dua minggu hingga satu bulan, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Harga jualnya bervariasi, mulai Rp20 ribu untuk ukuran kecil hingga puluhan juta rupiah untuk patung berdiameter satu meter atau lebih. Karyanya telah tersebar ke berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.
Aktivitas serupa terlihat di kedai Hosana Nature Toraja milik Yuliana Bubun Rantetau (60), pensiunan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Toraja Utara. Ia mengembangkan produk berbasis bahan alami setempat.
“Awalnya karena hobi dan kecintaan terhadap inovasi tanaman lokal. Saya mengikuti kursus online dan penyuluhan selama dua tahun di koperasi hingga mendapatkan sertifikat. Tetapi dalam praktiknya saya tetap banyak berinovasi sendiri,” ujarnya.
Yuliana memproduksi wine dari buah segar seperti nanas, pisang, anggur, dan jeruk yang dipadukan dengan jahe serta daun kelor. Produk tersebut dikemas dalam botol dan dipasarkan di kedainya di kawasan Lemo..

Selain itu, ia juga mengembangkan tepung mocaf bebas gluten dan teh herbal berbahan kumis kucing, jambu biji, serta daun kelor.
“Inovasi ini saya lakukan karena latar belakang saya di dunia kesehatan. Saya ingin mengajak ibu-ibu dan masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi,” paparnya.
Di dalam kawasan Lemo, deretan kios menghadirkan tenun tradisional, manik-manik etnik, tas bermotif lokal, miniatur tau-tau, hingga patung kerbau.
Objek wisata ini dikelola yayasan yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja untuk menjaga kelestarian situs budaya sekaligus memastikan pengelolaan wisata berjalan berkelanjutan.
Lemo hari ini bukan hanya situs makam tebing. Di antara batu purba dan tau-tau yang memandang sunyi, tradisi dan aktivitas ekonomi warga berjalan beriringan, menghadirkan wajah Toraja yang tetap berakar pada warisan leluhur.


















