PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • IKADIPA Fun Walk 2026 Digelar 25 Oktober, Ada Donor Darah hingga Doorprize • Dua Lansia Tewas dalam Kebakaran, TP PKK Toraja Utara Tempuh Jalan Kaki Salurkan Bantuan • Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar • Seragam Devile KONI Bone Rp900 Ribu per Set, Anggaran Belum Ada tapi Pengadaan Jalan • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • IKADIPA Fun Walk 2026 Digelar 25 Oktober, Ada Donor Darah hingga Doorprize • Dua Lansia Tewas dalam Kebakaran, TP PKK Toraja Utara Tempuh Jalan Kaki Salurkan Bantuan • Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar • Seragam Devile KONI Bone Rp900 Ribu per Set, Anggaran Belum Ada tapi Pengadaan Jalan • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang •
Makassar

Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar

20
×

Perang Kelompok Kembali Marak, JMSI Sulsel Sentil Polda dan Polrestabes Makassar

Sebarkan artikel ini
Ilham JMSI
Ketua JMSI Sulsel, Ilham Husen, menilai bentrokan yang kembali terjadi, bahkan dengan pola yang semakin brutal, menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap langkah preventif kepolisian.

MAKASSAR — Perang kelompok dan kejahatan jalanan yang kembali marak di Kota Makassar memicu keresahan masyarakat. Situasi ini sekaligus memantik kritik Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sulawesi Selatan terhadap efektivitas pengamanan yang dilakukan kepolisian.

Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar didesak mengevaluasi strategi pengamanan. Konflik yang terus berulang dinilai menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini perlu dibenahi agar warga tidak terus dihantui rasa takut saat beraktivitas.

Ketua JMSI Sulsel, Ilham Husen, menilai bentrokan yang kembali terjadi, bahkan dengan pola yang semakin brutal, menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap langkah preventif kepolisian.

“Maraknya kembali perang kelompok dengan pola yang semakin brutal ini menunjukkan adanya celah dalam pemetaan potensi konflik dan pola pengamanan preventif. Jangan sampai masyarakat merasa tidak aman di kotanya sendiri,” tegas Ilham di Makassar, Rabu (21/6/2026).

Menurutnya, penanganan perang kelompok tidak boleh berhenti pada pembubaran massa dan penangkapan pelaku setelah bentrokan pecah. Kepolisian harus bergerak lebih awal dengan memperkuat fungsi intelijen, memetakan wilayah rawan, serta menindak tegas pelaku tanpa pandang bulu.

JMSI Sulsel juga menyoroti peran media sosial yang kerap menjadi ruang munculnya provokasi. Aksi saling tantang di dunia maya berpotensi memicu bentrokan fisik apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Karena itu, tim patroli siber dan intelijen kepolisian diminta lebih responsif membaca potensi ancaman. Deteksi terhadap ajakan berkonflik dan provokasi dinilai penting untuk memutus rantai kekerasan sebelum berkembang menjadi bentrokan terbuka.

“Konflik sering kali dipicu oleh aksi saling tantang di media sosial sebelum akhirnya pecah di lapangan. Karena itu, rantai provokasi harus diputus sebelum menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material,” ujarnya.

Selain mendesak pembenahan internal kepolisian, JMSI Sulsel mendorong keterlibatan Pemerintah Kota Makassar, tokoh masyarakat, akademisi, dan elemen pemuda dalam merumuskan langkah pencegahan yang menyentuh akar persoalan.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar penanganan konflik tidak hanya berorientasi pada pengamanan saat bentrokan terjadi, tetapi juga mampu mencegah permusuhan berulang di tengah masyarakat.

Bagi JMSI Sulsel, evaluasi menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak. Kepolisian dituntut tidak sekadar hadir setelah kekerasan pecah, tetapi juga memastikan langkah pencegahan berjalan efektif sehingga warga Makassar dapat beraktivitas dengan aman dan memperoleh kepastian hukum. (Y5l)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com