Memuat Ramadhan...
Memuat waktu Makassar...
BMKG
Memuat data BMKG Sulsel...
LIVE
Opini

Kontradiksi Fenomena Kemiskinan dan Pengangguran Perdesaan

1730
×

Kontradiksi Fenomena Kemiskinan dan Pengangguran Perdesaan

Sebarkan artikel ini
Kontradiksi Fenomena Kemiskinan dan Pengangguran Perdesaan
I Gusti Bagus Ngurah Diksa (Statistisi BPS Sulsel)

OPINI—Tidak asing lagi bahwa wilayah perdesaan selalu memiliki permasalahan yang menjadi alasan pemerintah memberikan dana bantuan lebih banyak dibandingkan daerah perkotaan.

Seperti perihal kemiskinan dimana persentase kemiskinan perdesaan memiliki nilai lebih besar dibandingkan perkotaan dengan tingkat disparitas kemiskinan di perkotaan dan perdesaan yang cukup tinggi.

Penduduk miskin yang dimaksud adalah penduduk yang memiliki rata rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Pada periode September 2022 garis kemiskinan pada September 2022 tercatat sebesar Rp422.952,- per kapita/ bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp316.597,- (74,85 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp106.355,- (25,15 persen).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, persentase kemiskinan Sulawesi Selatan di perdesaan periode September 2022 sebesar 11,81 persen atau 574,51 ribu orang lebih besar dari daerah perkotaan yang hanya senilai 5,07 persen atau 207,81 ribu orang.

Dibandingkan dengan bulan Maret 2022, persentase penduduk miskin perdesaan mengalami peningkatan sebesar 0,18 poin dimana bernilai 11,63 persen atau 568,91 ribu orang dan demikian juga mengalami peningkatan sebesar 0,26 poin jika dibandingkan dengan September 2021 yang bernilai 11,55 persen atau 566,62 orang.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan Persentase kemiskinan perdesaan September 2022 Sulawesi Selatan memiliki nilai lebih tinggi dari persentase kemiskinan pada Maret 2022 dan September 2021.

Peningkatan kemiskinan ini memiliki banyak faktor diantaranya terjadinya inflasi yang lebih besar pada periode September 2022 yang bernilai 1,12 persen dibandingkan periode Maret 2022 sebesar 0,54 persen yang diduga akibat kenaikan harga bahn bakar minyak.

Selain itu, dimana masyarakat perdesaan mayoritas mengandalkan sektor pertanian namun nilai tukar petani Sulawesi Selatan mengalami penurunan dari periode September 2022 sebesar 100,49 dibandingkan pada periode Maret 2022 sebesar 100,71.

Konten dilindungi Ā© Mediasulsel.com