Hal tersebut berlaku juga dengan indeks keparahan kemiskinan perdesaan pada September 2022 yang nilainya lebih tinggi dari bulan Maret 2022 dan September 2021.
Pada periode September 2022 nilai indeks keparahan kemiskinan perdesaan bernilai 0,523 sedangkan pada periode Maret 2022 dan September 2021 bernilai 0,432 dan 0,503.
Informasi tersebut menunjukkan di daerah perdesaan Sulawesi Selatan kesenjangan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan semakin melebar dan juga perlu menjadi perhatian pemerintah.
Beberapa kebijakan pemerintah telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan perdesaan seperti program pro-job partisipatoris yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi desa dan membuka lapangan kerja yang berbasis pada aset lokal.
Selain itu, dialokasikan dana desa yang besar bisa diarahkan untuk memperkuat inovasi orang desa dalam mengembangkan ekonomi daripada sekadar untuk pembangunan infrastruktur.
Banyak faktor faktor yang mempengaruhi akan bertambahnya kemiskinan yang dimana salah satunya yaitu jumlah pengangguran.
Logikanya dimana banyak pengangguran maka banyak masyrakat yang tidak mempunyai penghasilan dimana akan menurunkan tingkat konsumsinya yang kemudian memunculkan masyarakat yang tidak mampu atau miskin.
Walaupun daerah perdesaan Sulawesi Selatan memiliki kemiskinan lebih tinggi daripada daerah perkotaan namun jika ditelisik lebih mendalam dari tingkat pengangguran maka perdesaan memliki tingkat pengangguran lebih kecil dibandingkan daerah perkotaan.
Menurut badan pusat statistik, tingkat pengangguran terbuka Sulawesi Selatan Agustus 2022 di daerah perdesaaan sebesar 1,91 persen dimana jauh lebih rendah dibandingkan dengan daerah perkotaan yaitu 7,83 persen.



















