Pergerakan Mahasiswa Harusnya Menuju Pada Perubahan yang Hakiki

Pergerakan Mahasiswa Harusnya Menuju Pada Perubahan yang Hakiki
Irnawati, Mahasiswi, Aktivis Muslimah.

Menuntut Perubahan dengan SOP yang Sama Tidak Akan Membawa Pada Perubahan yang Hakiki

Penguasa di negeri ini adalah para oligarki yang dalam sistem demokrasi hidup sejak Indonesia merdeka hingga saat ini adalah pengusung calon penguasa. Sehingga jika berbicara tentang perubahan penguasa mungkin penguasanya berganti tetapi apakah penguasa tersebut akan bersama rakyat?

Tentu tidak akan demikian, karena penguasa dalam sistem demokrasi akan bersama pada pengusungnya yaitu para oligarki, para pemilik modal. Dan masalah yang dirasakan oleh masyarakat dari dulu hingga saat ini akibat kebijakan yang lahir dari penguasa yang pro elit dan oligarki.

Misalnya saja yang masih menjadi keluhan rakyat yaitu minyak goreng. Minyak goreng itu diproduksi di negara sendiri, tanah milik negara kemudian ditanami oleh para oligarki kemudian para oligarki itu menjual kepada rakyat dengan harga mahal, lalu pemerintah hadir dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetapi uang yang dijadikan BLT adalah uang rakyat sendiri.

Maka dari itu, mahasiswa seharusnya memahami dan menyadari bahwa semua kebijakan penguasa yang pro elit dan oligarki tidak akan pernah menyejahterakan rakyat. Karena kepemimpinan hari ini adalah kepemimpinan yang bersumber dari sistem politik demokrasi.

Dimana sistem politik demokrasi merupakan sistem yang lahir dari ideologi kapitalisme yang hanya berpihak pada pemilik modal tanpa memperhatikan kepentingan rakyatnya.

Berita Lainnya

Kapitalisme menjadikan manfaat, yang asasnya dijelaskan oleh Jeremy Bentham dalam penelitiannya yang berjudul Teori Manfaat pada tahun 1863 sebagai asas tolak ukur seluruh perbuatan manusia, begitupun dalam membuat kebijakan tak lepas dari tolak ukur manfaat yang hanya memberi kebaikan untuk penguasa sendiri dan para pengusungnya.

Lihat Juga:  Listrik "Mencekik Rakyat" Di Tengah Pandemi

Tuntutan yang diajukan mahasiswa seharusnya bukan hanya menuntut penundaan pemilu hingga revisi kebijakan IKN yang akhirnya berujung pada pergantian rezim semata.

Karena nyatanya kesejahteraan tidak pernah didapatkan oleh rakyat walaupun perubahan rezim sudah terjadi beberapa kali, setiap rezim pengganti ternyata tetap mengulang Standard Opening Procedure (SOP) yang sama, mengikuti arahan asing sembari mencitrakan diri sebagai pro rakyat.

Solusi yang sering digaungkan adalah asal bukan presiden A, B, atau C, tapi tetap pergerakan sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.

Jika perjuangan mahasiswa untuk rakyat, maka harus diingatkan kembali, mereka yang saat ini duduk di tampuk kekuasaan, dulu lebih lantang mengaku atas nama rakyat, jika hari ini yang dituntut adalah turunnya harga-harga, mereka yang berada di lingkaran kekuasaan saat ini dari dulu menuntut hal yang serupa.

Uniknya pengulangan ini terus dilakukan, pengulangan SOP yang sama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena Pragmatisme pergerakan mahasiswa, yang masih menjadikan tuntutan perut untuk menjadi asas pergerakan. Menolak BBM naik, menolak harga pangan naik yang ujung-ujungnya agar rakyat bisa sejahtera, bisa makan tiga kali sehari. Ini jelas masih pragmatis.

Maka dari itu ketulusan mahasiswa untuk memperbaiki negeri ini tidak bisa hanya dengan bermodalkan semangat apalagi jika hanya untuk tuntutan perut semata. Tetapi harus dengan ideologi yang kuat, membawa dirinya pada level berpikir yang melebihi kebutuhan fisik. Bukan tuntutan perut semata. Karena perjuangan untuk kepentingan menurut dirinya sendiri tidak akan membawa kebangkitan yang sebenarnya.

Berita terkait