Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Opini

Klaim Berlebihan Produk Skincare dan Pengaruh Besar Influencer

567
×

Klaim Berlebihan Produk Skincare dan Pengaruh Besar Influencer

Sebarkan artikel ini
Klaim Berlebihan Produk Skincare dan Pengaruh Besar Influencer
Farah Zahirah Junaidi (Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi)

OPINI—Skincare adalah serangkaian perawatan kulit yang bertujuan menjaga kesehatan, melindungi dari kerusakan, dan memperbaiki penampilan kulit. Rutinitas skincare mencakup pembersihan, pengelupasan, pelembapan, dan perlindungan dari sinar matahari.

Penggunaan produk harus disesuaikan dengan jenis kulit dan permasalahan yang dihadapi, seperti jerawat pada remaja, flek hitam pada usia dewasa, kulit kering, hingga penuaan dini.

Selain itu, gaya hidup sehatβ€”meliputi hidrasi cukup, pola makan seimbang, dan tidur berkualitasβ€”juga sangat memengaruhi kesehatan kulit.

Namun, praktik overclaim, yaitu klaim berlebihan yang tidak didukung bukti ilmiah, kerap terjadi di industri kecantikan. Pelaku usaha sering membuat janji besar yang tidak realistis untuk menarik perhatian konsumen.

Fenomena ini merugikan pembeli secara finansial dan emosional, terutama ketika produk yang dibeli tidak sesuai ekspektasi. Lebih parahnya, produk yang mengandung bahan tidak aman atau belum teruji dapat menyebabkan kerusakan kulit jangka panjang.

Sebagai konsumen, penting untuk bersikap kritis dan teredukasi mengenai bahan-bahan aktif yang terbukti efektif. Mempelajari ulasan dari sumber terpercaya, berkonsultasi dengan dokter kulit, dan memahami kebutuhan kulit secara mendalam adalah langkah bijak untuk menghindari jebakan overclaim. Sayangnya, masalah ini diperburuk oleh pengaruh besar influencer di media sosial.

Peran Influencer dalam Praktik Overclaim

Influencer memiliki peran signifikan dalam memengaruhi pola konsumsi produk skincare. Sebagai referensi utama bagi banyak pengikutnya, rekomendasi mereka sering dianggap kredibel. Namun, dalam banyak kasus, influencer turut memperbesar masalah overclaim.

Banyak influencer mempromosikan produk tanpa memahami atau menguji kebenaran klaimnya. Beberapa bahkan hanya berfokus pada keuntungan finansial, tanpa memberikan penilaian objektif. Akibatnya, konsumen sering tertipu oleh ulasan yang tidak jujur atau promosi terselubung, di mana influencer mengaku menggunakan produk secara sukarela, padahal kenyataannya ulasan tersebut berbayar.

Kurangnya pengetahuan influencer tentang bahan aktif dan efektivitas produk semakin memperburuk keadaan. Konsumen akhirnya tergoda untuk membeli produk tanpa melakukan riset lebih lanjut.

Langkah Solutif bagi Konsumen dan Influencer

Tidak semua influencer bersikap demikian. Ada juga yang memilih untuk mempromosikan produk yang terbukti aman dan efektif, dengan melakukan uji coba pribadi sebelum memberikan rekomendasi. Sikap ini seharusnya menjadi standar dalam industri.

Influencer perlu:

  1. Memilih produk yang memiliki bukti ilmiah atas klaimnya.
  2. Tidak tergoda oleh tawaran komersial semata.
  3. Memberikan penjelasan realistis dan transparan kepada pengikutnya.

Di sisi lain, konsumen juga harus lebih selektif dalam menyaring informasi. Langkah-langkah berikut dapat dilakukan:

  • Pelajari bahan-bahan aktif dalam produk dan pastikan cocok dengan kondisi kulit.
  • Jangan hanya mengandalkan testimoni pribadi influencer. Cari ulasan dari berbagai sumber.
  • Coba produk dalam bentuk sampel sebelum membeli ukuran penuh.
  • Konsultasikan permasalahan kulit kepada dokter atau ahli kecantikan.

Selain itu, penting untuk diingat bahwa perawatan kulit membutuhkan waktu dan konsistensi. Hasil instan yang dijanjikan produk sering kali berujung pada kekecewaan. Setiap jenis kulit memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga solusi satu produk tidak dapat berlaku universal.

Kejujuran sebagai Kunci Utama

Untuk menciptakan industri kecantikan yang sehat, kejujuran harus menjadi nilai utama, baik dari pihak produsen maupun influencer. Dengan mengedepankan edukasi, transparansi, dan integritas, kita dapat mendorong praktik yang lebih bertanggung jawab, sehingga konsumen memperoleh manfaat optimal tanpa risiko kesehatan yang merugikan. (*)

 

Penulis: Farah Zahirah Junaidi (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Konten dilindungi Β© Mediasulsel.com