OPINI—Gaza kembali menjadi saksi bisu dari penderitaan anak-anak yang tak kunjung usai. Intensitas serangan Israel semakin meningkat, menghancurkan harapan anak-anak Gaza untuk hidup layak. Berbagai laporan menunjukkan bahwa penderitaan mereka telah mencapai tingkat yang tidak manusiawi.
Berdasarkan data dari Beritasatu.com, rata-rata satu anak tewas setiap jam akibat serangan. Sistem kesehatan di Gaza pun runtuh, terutama setelah Israel menghantam Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara, sebagaimana dilaporkan oleh WHO (Republika).
UNICEF menyebut tahun 2024 sebagai salah satu tahun terburuk bagi anak-anak sepanjang sejarah (CNN Indonesia). Israel secara terang-terangan melanggar hukum perang, termasuk menyerang fasilitas kesehatan dan infrastruktur yang seharusnya dilindungi, seperti ditegaskan oleh UNRWA (Tirto). Di tengah musim dingin yang menggigil, anak-anak Gaza harus menghadapi ancaman ganda: serangan udara brutal dan minimnya kebutuhan dasar untuk bertahan hidup (Republika).
Kegagalan Kapitalisme dan Ketidakberdayaan Dunia Internasional
Sistem kapitalisme global terus membuktikan kegagalannya dalam melindungi anak-anak Gaza. Fokus utama kapitalisme adalah kepentingan geopolitik dan ekonomi, bukan kemanusiaan. Alih-alih menawarkan solusi nyata, kekuatan internasional hanya sibuk mempertahankan stabilitas politik demi keuntungan mereka sendiri.
Seperti dikemukakan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nidzham al-Islam:
“Sistem kapitalisme telah menciptakan hegemoni global yang tidak berdasarkan keadilan, tetapi pada eksploitasi manusia dan sumber daya alam untuk kepentingan segelintir pihak.”
Solusi dua negara yang sering diusulkan dunia Barat hanyalah alat untuk melegitimasi penjajahan Zionis. Kapitalisme, dengan prioritasnya pada keuntungan, justru membuka jalan bagi blokade, pembantaian, dan penderitaan anak-anak Gaza.
Lebih dari itu, organisasi internasional seperti PBB telah gagal menyelesaikan konflik di dunia Muslim. Kebijakan luar negeri negara-negara kapitalis umumnya didorong oleh kepentingan ekonomi dan geopolitik, bukan keadilan.
Beberapa contoh nyata:
- Konflik Palestina: Solusi dua negara yang dijanjikan selama beberapa dekade hanya memperkuat posisi Israel di tanah Palestina.
- Penindasan di Suriah dan Myanmar: Dunia internasional gagal menghentikan kekejaman meskipun bukti pelanggaran HAM sudah jelas.
- Blokade Gaza: Dunia Barat terus mendukung Israel secara ekonomi dan militer, meskipun blokade telah menyebabkan krisis kemanusiaan besar-besaran.
Solusi Ideologis: Islam sebagai Alternatif
Islam menawarkan solusi ideologis yang berbeda melalui sistem politik yang berlandaskan keadilan dan rahmat. Sistem ini hanya dapat terwujud dalam naungan Khilafah, yang mampu menyelesaikan konflik global dengan langkah-langkah strategis:
- Kesatuan Umat Islam
Khilafah menyatukan umat Muslim di bawah satu kepemimpinan, menghapus sekat nasionalisme yang selama ini melemahkan umat. Kesatuan ini menciptakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang mampu menghadapi ancaman global. - Menolak Hubungan dengan Penjajah
Berbeda dengan negara Muslim saat ini yang sering berkompromi, Khilafah akan memutus segala bentuk kerja sama dengan penjajah dan mendukung perjuangan umat Islam. - Jihad sebagai Kebijakan Luar Negeri
Jihad tidak hanya dipahami sebagai perlawanan militer, tetapi juga sebagai upaya melindungi umat Islam dari penindasan dan membebaskan wilayah yang terjajah. - Distribusi Kekayaan Umat
Khilafah akan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan umat, menciptakan kemandirian ekonomi yang menghilangkan ketergantungan pada kekuatan kapitalis.
Pelajaran dari Sejarah
Islam pernah menunjukkan keberhasilan dalam menyelesaikan konflik internasional:
Khalifah Umar bin Khattab: Saat kelaparan melanda Syam, Umar mengirim bantuan dari Madinah, menunjukkan solidaritas dan kepemimpinan global Islam.
Shalahuddin Al-Ayyubi: Membebaskan Al-Quds dari penjajahan dalam Perang Salib.
Khalifah Abdul Hamid II: Dengan tegas menolak tawaran Zionis untuk membeli tanah Palestina, meskipun menghadapi tekanan besar dari Barat.
Sebagaimana ditegaskan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takattul al-Hizbi:
“Politik luar negeri Khilafah adalah pelindung umat dan alat untuk menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Langkah Konkret Umat Islam
Untuk menghentikan penderitaan anak-anak Gaza, umat Islam perlu melakukan langkah strategis:
- Meningkatkan Kesadaran Politik Umat
Umat harus memahami bahwa solusi Palestina bukanlah diplomasi semu, melainkan perjuangan ideologis untuk menegakkan Islam. - Membangun Gerakan Politik Ideologis
Menyatukan umat dalam gerakan politik yang bertujuan menegakkan Khilafah. - Menggerakkan Kekuatan Militer Islam
Pemuda Muslim di seluruh dunia harus bersatu membebaskan Palestina, menghentikan penjajahan Zionis, dan membangun kembali peradaban Islam.
Syeikh Taqiyuddin dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah menegaskan:
“Khilafah adalah institusi yang dirancang oleh Allah untuk melindungi kehormatan, harta, dan darah umat. Tanpa Khilafah, umat Islam menjadi mangsa penjajah.”
Krisis Gaza adalah ujian bagi umat Islam sedunia. Anak-anak Gaza menanti pembebasan mereka, yang hanya dapat terwujud melalui kekuatan politik, militer, dan kepemimpinan global Islam. Kini saatnya kaum Muslim bersatu untuk menghentikan penderitaan ini dan membangun dunia yang lebih adil. (*)
Penulis: Ummu Intishar (Aktivis Dakwah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.







