BONE — Proses penentuan penyedia seragam devile untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuai sorotan. Mekanisme evaluasi penawaran pengadaan yang nilainya disebut mencapai lebih dari Rp1 miliar dipertanyakan setelah muncul informasi bahwa calon penyedia tidak dihadirkan untuk mempresentasikan penawaran maupun memperlihatkan sampel produk.
Berdasarkan keterangan sumber internal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bone, pemaparan proposal yang masuk disebut hanya dilakukan oleh Sekretaris Umum KONI Bone, Mukhlis, tanpa menghadirkan pemilik usaha yang mengajukan penawaran.
“Sekretaris ji yang presentasikan proposal yang masuk, tidak ada pemilik penyedia yang datang presentasikan penawarannya,” ujar sumber tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme evaluasi yang digunakan KONI Bone dalam membandingkan penawaran para penyedia, mulai dari harga, kualitas, hingga kesesuaian spesifikasi barang sebelum menentukan penyedia terpilih.
Sorotan serupa disampaikan seorang pengusaha konveksi yang mengaku turut memasukkan penawaran dalam pengadaan tersebut. Ia mengaku tidak pernah mendapat panggilan dari KONI Bone untuk mempresentasikan penawaran maupun menunjukkan sampel produk yang ditawarkan.
“Di kabupaten lain, tiga penawar terendah itu dipanggil oleh KONI untuk presentasikan penawarannya dengan membawa contoh. Di Bone tidak ada panggilan,” ungkapnya saat ditemui di salah satu warung kopi di Watampone, Sabtu (24/10/2026).
Pengakuan tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai transparansi proses penilaian penawaran, terutama dalam memastikan perbandingan harga dan kualitas produk dilakukan secara memadai.
Sekretaris Umum KONI Bone, Mukhlis, telah dikonfirmasi mengenai alasan tidak dihadirkannya calon penyedia untuk mempresentasikan penawaran dan menunjukkan sampel produk. Namun, hingga berita ini ditulis, Mukhlis belum memberikan klarifikasi.
Sebelumnya, Mukhlis menyampaikan bahwa harga seragam devile mencapai Rp900 ribu per set. Paket tersebut mencakup sejumlah perlengkapan, yakni jaket dan celana training, sepatu, topi, kaos kaki, tas punggung, handuk kecil, jersey, serta tas travel.
Menurut Mukhlis, harga tersebut mengacu pada proposal yang diajukan penyedia.
Sementara itu, Ketua KONI Bone, Asiswa Karim, sebelumnya mengakui pengadaan seragam dilakukan lebih dahulu sebelum anggaran tersedia. Langkah tersebut, menurutnya, didasarkan pada kepercayaan kepada penyedia yang bersedia memenuhi kebutuhan seragam kontingen Porprov.
Asiswa juga menyebut KONI Bone menerima sejumlah penawaran sebelum menentukan penyedia. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil kesepakatan, termasuk dengan mempertimbangkan kesediaan penyedia menanggung pajak.
Di tengah munculnya berbagai pertanyaan, penjelasan KONI Bone mengenai mekanisme evaluasi penawaran dan dasar penetapan penyedia menjadi penting untuk memberikan kejelasan kepada publik terkait proses pengadaan seragam devile Porprov tersebut.(45R)








