Advertisement - Scroll ke atas
Makassar

Tekan Krisis Sampah, Pemkot Makassar Dorong Pengolahan Maggot Berbasis Rumah Tangga

620
×

Tekan Krisis Sampah, Pemkot Makassar Dorong Pengolahan Maggot Berbasis Rumah Tangga

Sebarkan artikel ini
Tekan Krisis Sampah, Pemkot Makassar Dorong Pengolahan Maggot Berbasis Rumah Tangga
Pemerintah Kota Makassar terus menggenjot upaya mencari solusi atas persoalan sampah yang kian mendesak. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Maggot yang digelar Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) di TPS 3R Rusunawa, Kecamatan Mariso, Kelurahan Panambungan, Kamis (18/12/2025).

MAKASSAR—Pemerintah Kota Makassar terus menggenjot upaya mencari solusi atas persoalan sampah yang kian mendesak. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Maggot yang digelar Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) di TPS 3R Rusunawa, Kecamatan Mariso, Kelurahan Panambungan, Kamis (18/12/2025).

Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, hadir langsung dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber. Ia menegaskan, persoalan lingkungan, khususnya sampah, bukan sekadar urusan sektoral, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari rumah tangga.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Melinda mengungkapkan kondisi darurat sampah yang tengah dihadapi Kota Makassar. Saat ini, seluruh timbulan sampah kota masih bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa yang telah mencapai ketinggian sekitar 17 meter dan diperkirakan akan penuh dalam dua tahun ke depan.

“Jika tidak ada langkah cepat dan terukur, risiko penutupan TPA oleh pemerintah pusat sangat mungkin terjadi,” ujarnya.

Melalui pengolahan maggot, Melinda mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Menurutnya, pengelolaan harus dimulai dari sumber, sehingga tidak seluruh sampah bermuara ke TPA.

“Harapannya, sampah tidak lagi keluar dari pekarangan rumah. Kita kelola di dalam rumah tangga, kita kurangi dari sumbernya,” tegas Melinda.

Ia juga menilai Makassar perlu beralih ke pola pengelolaan sampah organik yang lebih modern dan adaptif, sebagaimana diterapkan di sejumlah daerah lain. Metode Teba modern dan biopori modern disebutnya sebagai solusi yang relevan untuk kawasan permukiman.

“Biopori modern memberi ruang lebih besar untuk mengolah sampah organik secara maksimal. Dengan konstruksi yang lebih kuat dan kapasitas memadai, sampah bisa selesai di tingkat rumah tangga. Jika diterapkan luas, beban TPA akan berkurang signifikan,” jelasnya.

Bimtek tersebut juga menjadi momentum penguatan peran TPS 3R sebagai simpul pengelolaan sampah terpadu di tingkat wilayah. Dari sembilan unit TPS 3R yang dimiliki Kota Makassar, belum seluruhnya beroperasi optimal. TPS 3R Rusunawa Panambungan diharapkan menjadi contoh pengelolaan yang aktif dan berkelanjutan.

Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penanaman pohon tabebuya di sekitar area TPS 3R Rusunawa Panambungan. Aksi simbolik ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan merupakan satu kesatuan upaya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor, di antaranya anggota Dewan Lingkungan Marini, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Yenny Rahman, Kepala Dinas DP2 Kota Makassar Aulia Arsyad, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel Ir. H. Taufiq, Camat Mariso Aswin Kartapati, para lurah se-Kecamatan Mariso, serta Kepala TPS 3R Rusunawa Panambungan, Saleh. (70n/Ag4ys/4dv)

error: Content is protected !!