Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Opini

Menanti Harapan Pemulihan Bangunan Ikon Kebudayaan Bone, Bola Soba Pasca Kebakaran Tahun 2021

99
×

Menanti Harapan Pemulihan Bangunan Ikon Kebudayaan Bone, Bola Soba Pasca Kebakaran Tahun 2021

Sebarkan artikel ini
Dr. Drs. Andi Djalante, MM., M.Si (Penulis adalah Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, Ekonomi dan Sosial-Budaya)
Dr. Drs. Andi Djalante, MM., M.Si (Penulis adalah Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, Ekonomi dan Sosial-Budaya)

OPINI—Kebudayaan adalah fondasi jati diri suatu daerah. Ia menjadi penanda kesinambungan nilai yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Bagi masyarakat Bone, salah satu simbol paling kuat dari kebesaran sejarah dan identitas budaya adalah Bola Soba.

Ia bukan sekadar bangunan tua peninggalan masa lampau, melainkan representasi nyata dari peradaban besar Kerajaan Bone yang berakar kuat pada adat, etika, dan kebijaksanaan lokal.

Namun sejak musibah kebakaran pada tahun 2021, ikon kebudayaan ini seakan terdiam. Ia meninggalkan luka sejarah sekaligus kegelisahan kolektif yang hingga kini masih dirasakan masyarakat Bone.

Secara historis, Bola Soba dikenal sebagai Saoraja Petta PonggawaE, rumah besar bangsawan tinggi Kerajaan Bone. Bangunan ini didirikan pada akhir abad ke-19 pada masa pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri, Raja Bone ke-31.

Bola Soba menjadi hunian elite kerajaan sekaligus pusat aktivitas penting pemerintahan. Di tempat ini berlangsung diplomasi, musyawarah adat, dan berbagai pertemuan penting kerajaan.

Bola Soba juga menjadi simbol wibawa kekuasaan yang berlandaskan adat. Di sanalah nilai ade’ (adat), siri’ (harga diri), dan bicara (kebijaksanaan) dijalankan dalam praktik pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Bone.

Sebagai rumah adat Bugis, Bola Soba dibangun dengan filosofi kosmologis yang utuh. Struktur rumah panggungnya merepresentasikan hubungan antara dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah.

Konsep ini menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam dan tatanan sosial. Setiap elemen bangunan, mulai dari pembagian ruang, jumlah dan posisi tiang, hingga tangga, mengandung makna simbolik yang sarat nilai.

Karena itu, Bola Soba bukan sekadar artefak arsitektur. Ia merupakan “teks budaya” yang dibaca melalui bentuk, fungsi, dan perannya dalam kehidupan sosial-politik Kerajaan Bone.

Dalam lintasan sejarah, Bola Soba menjadi saksi kebesaran Bone sebagai kerajaan yang menjunjung tinggi musyawarah, keadilan, dan penghormatan terhadap adat.

Dari ruang inilah keputusan-keputusan penting lahir. Keputusan tersebut tidak diambil atas dasar kekuasaan semata, tetapi melalui pertimbangan nilai dan kebijaksanaan kolektif.

Keberadaan Bola Soba menegaskan bahwa peradaban Bone dibangun di atas fondasi moral dan kearifan lokal yang kuat.

Kebakaran yang melanda Bola Soba pada 20 Maret 2021 bukan hanya merusak bangunan fisik. Peristiwa itu juga mengguncang kesadaran kebudayaan masyarakat Bone.

Api yang menghanguskan bagian ikon sejarah ini seolah membakar ruang ingatan kolektif. Ia membuka mata bahwa warisan budaya sangat rentan jika tidak dirawat dengan keseriusan dan kewaspadaan.

Proses pemulihan yang berjalan lamban semakin menambah kegelisahan. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa kebudayaan masih kerap diposisikan sebagai pelengkap, bukan sebagai kebutuhan strategis pembangunan daerah.

Setiap keterlambatan pemulihan Bola Soba berarti memperpanjang jarak generasi muda dari akar sejarahnya.

Di tengah arus globalisasi dan budaya instan, generasi Bone membutuhkan ruang konkret untuk mengenal nilai-nilai luhur yang membentuk identitasnya.

Tanpa kehadiran Bola Soba sebagai ruang hidup kebudayaan dan sejarah, nilai-nilai itu berisiko berubah menjadi narasi abstrak yang kehilangan konteks dan daya hidup.

Kebakaran Bola Soba juga harus dimaknai sebagai peringatan keras bagi pengelolaan situs budaya lainnya di Bone.

Daerah ini kaya akan peninggalan sejarah, situs adat, dan simbol kebudayaan yang bernilai strategis bagi identitas kolektif masyarakat.

Jika satu ikon sebesar Bola Soba saja dapat terbakar tanpa sistem perlindungan memadai, maka ancaman terhadap situs lain tidak boleh dianggap remeh.

Peristiwa ini seharusnya mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan perlindungan cagar budaya. Evaluasi itu mencakup aspek keamanan fisik, mitigasi bencana, hingga kesiapsiagaan pengelolaan dan pengawasan.

Pemulihan Bola Soba tidak boleh dimaknai hanya sebagai proyek rekonstruksi bangunan. Ia harus dipahami sebagai momentum kebangkitan kesadaran budaya dan pembenahan tata kelola warisan sejarah.

Bola Soba dapat kembali difungsikan sebagai pusat pembelajaran sejarah, ruang musyawarah adat, laboratorium budaya, serta wahana edukasi yang menanamkan nilai ade’, siri’, dan bicara kepada generasi muda Bone.

Menanti dipulihkannya Bola Soba pada hakikatnya adalah menanti keseriusan semua pihak dalam merawat ingatan dan menjaga jati diri.

Pemulihan ini bukan sekadar mengembalikan rupa bangunan, melainkan mewariskan kebesaran sejarah Kerajaan Bone kepada generasi masa kini dan masa depan.

Kebakaran 2021 harus menjadi pelajaran penting tentang perlunya perlindungan yang memadai. Dari peristiwa itu semestinya tumbuh kewaspadaan kolektif bahwa menjaga satu situs budaya berarti menjaga seluruh peradaban yang melingkupinya.

Bola Soba harus bangkit kembali, bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai penanda kebesaran jiwa, kewaspadaan, dan tanggung jawab bersama dalam merawat sejarah dan budaya Bone. (*)

Salam Budaya, Salam Pancasila, Merdeka.


Penulis:
Dr. Drs. Andi Djalante, MM., M.Si
(Penulis adalah Putera Sulewatang Amali, serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan dan Sosial-Budaya)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!