OPINI—Meski bulan Rajab telah berlalu, maknanya tidak lekang oleh waktu. Di dalamnya terdapat peristiwa agung Isra Mikraj, yang menjadi bukti kekuasaan Allah Swt. kepada Rasulullah saw. Dalam satu malam, beliau diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Di sana, Rasulullah saw. menerima perintah shalat dan menunaikannya. Bahkan, beliau menjadi imam shalat berjamaah bersama para nabi dan rasul lainnya.
Isra Mikraj juga menjadi pelipur lara bagi Rasulullah saw. setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah. Periode itu dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn atau Tahun Dukacita, yang terjadi sekitar tahun 620–621 M atau tahun kesepuluh kenabian.
Selain menjadi penghibur, Isra Mikraj juga menjadi persiapan bagi Rasulullah saw. dalam menghadapi tantangan dakwah, sekaligus menjadi salah satu mukjizat beliau.
Dalam peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah saw. menerima perintah shalat lima waktu. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan, “Pada malam Isra Mikraj (sekitar) satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah Swt. memfardhukan kepada Rasul-Nya shalat lima waktu.
Setelah itu, Allah Swt. merinci syarat-syarat dan rukun-rukunnya, serta apa saja yang berkaitan dengan shalat, secara berangsur-angsur…” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7/164).
Isra Mikraj merupakan peristiwa agung yang harus dimaknai secara mendalam. Perintah shalat yang diterima Rasulullah saw. menjadi bukti bahwa perintah Allah Swt. wajib ditaati dan dilaksanakan tanpa penundaan.
Allah Swt. berfirman:
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]: 133). Frasa wasaari’uu (bersegeralah) menunjukkan perintah untuk segera melakukan kebaikan, termasuk shalat tepat waktu dan berbagai kewajiban lainnya.
Shalat juga disebut sebagai tiang agama, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat.” (HR Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973). Imam an-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai penopang agama, bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari ketaatan kepada Allah Swt.
Rasulullah saw. juga menceritakan peristiwa Isra Mikraj dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim. Awalnya, Allah Swt. mewajibkan 50 waktu shalat kepada umat Islam.
Atas saran Nabi Musa as., Rasulullah saw. memohon keringanan, hingga akhirnya ditetapkan lima waktu shalat dengan pahala setara 50 shalat.
Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Shalat itu lima waktu dan dinilai lima puluh (pahalanya), dan perkataan-Ku tidak akan berganti.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Namun, peristiwa Isra Mikraj yang sarat makna dan hikmah sering kali diperingati secara seremonial semata, tanpa penghayatan mendalam.
Akibatnya, nilai-nilai spiritual dan ketundukan kepada Allah Swt. tidak sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Dampaknya, berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan muncul sebagai konsekuensi dari sistem kehidupan yang tidak sepenuhnya berlandaskan nilai-nilai ilahi.
Ketimpangan sosial, krisis ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, serta melemahnya solidaritas sosial menjadi tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini.
Dalam konteks ini, bulan Rajab dan peristiwa Isra Mikraj menjadi momentum refleksi bagi umat Islam. Peristiwa ini mengingatkan bahwa manusia adalah hamba Allah Swt. yang wajib taat kepada perintah-Nya. Shalat lima waktu bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga simbol ketaatan dan kedisiplinan spiritual.
Isra Mikraj juga menggambarkan kepemimpinan Rasulullah saw. ketika beliau menjadi imam bagi para nabi. Hal ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan ketaatan kepada Allah Swt., serta hubungan yang harmonis antara pemimpin dan umat.
Sejarah mencatat, Rasulullah saw. membangun peradaban Islam dengan menjadikan akidah sebagai fondasi kehidupan.
Di Madinah, beliau meletakkan dasar pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Setelah wafatnya Rasulullah saw., para sahabat melanjutkan kepemimpinan tersebut sebagai amanah untuk menjaga dan membimbing umat.
Dengan demikian, Rajab dan Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan ketaatan, serta merefleksikan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Peristiwa ini mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjalankan ajaran agama secara konsisten, baik dalam aspek ibadah maupun kehidupan sosial.
Rajab dan Isra Mikraj menjadi pengingat bahwa ketaatan kepada Allah Swt. adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang berkeadilan dan bermakna. Wallahu a’lam. (*)
Penulis:
Nurul Afdhani Nawab S.KM
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.









