PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Munafri Arifuddin Bawa Gagasan Keselamatan Lalu Lintas dan Ekonomi Kreatif Makassar ke Forum PBB di Jenewa • Hamzah Hamid Soroti Polemik Desil Bansos dan Daya Tampung SMA Negeri di Makassar • Antrean Panjang BBM dan Sulitnya LPG, Cermin Gagalnya Negara • Hadapi Era AI, Menaker Yassierli Paparkan Formula 5T Anak Muda • Polemik Pemakzulan Bupati Gowa, Bagaimana Islam Memandangnya? • NBA Gandeng Brand David Beckham IM8 Sebagai Mitra Nutrisi Resmi di RI Hingga Australia • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Munafri Arifuddin Bawa Gagasan Keselamatan Lalu Lintas dan Ekonomi Kreatif Makassar ke Forum PBB di Jenewa • Hamzah Hamid Soroti Polemik Desil Bansos dan Daya Tampung SMA Negeri di Makassar • Antrean Panjang BBM dan Sulitnya LPG, Cermin Gagalnya Negara • Hadapi Era AI, Menaker Yassierli Paparkan Formula 5T Anak Muda • Polemik Pemakzulan Bupati Gowa, Bagaimana Islam Memandangnya? • NBA Gandeng Brand David Beckham IM8 Sebagai Mitra Nutrisi Resmi di RI Hingga Australia •
Opini

AI di Era Digital: Antara Kemajuan, Ancaman, dan Tanggung Jawab

66
×

AI di Era Digital: Antara Kemajuan, Ancaman, dan Tanggung Jawab

Sebarkan artikel ini
Ririn Endah, MD (Praktisi Kesehatan)
Ririn Endah, MD (Praktisi Kesehatan)

OPINI—Siapa yang sekarang tidak mengenal istilah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)? Dari anak sekolah hingga orang dewasa, AI perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika bingung menentukan menu masakan, mencari informasi, menerjemahkan bahasa, bahkan sekadar ingin bercerita, AI bisa menjadi tempat bertanya. Perkembangannya pun sangat cepat.

Sesuatu yang beberapa tahun lalu terasa seperti cerita dalam film fiksi ilmiah, kini dapat digunakan dengan mudah melalui telepon genggam.

Segala kemudahan tersebut tentu membawa banyak harapan. Namun, di balik kecanggihan AI, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: sejauh mana manusia mampu mengendalikan teknologi yang diciptakannya sendiri?

Pertanyaan ini bukan lagi sekadar kekhawatiran dalam film. Para peneliti AI mulai memperingatkan kemungkinan terjadinya intelligence explosion atau “ledakan kecerdasan”, yaitu kondisi ketika AI mampu membantu mengembangkan sistem AI yang semakin canggih dalam waktu sangat cepat.

Sejumlah peneliti terkemuka, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, bahkan mendorong pemerintah agar mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tersebut.

Meskipun demikian, perkembangan AI tidak seharusnya hanya dilihat sebagai ancaman. Jika digunakan dengan tepat, AI justru dapat memberikan banyak manfaat bagi peradaban umat manusia.

AI yang Membantu Kehidupan

Di bidang kesehatan, misalnya, AI mulai digunakan untuk menganalisis data medis, mengenali pola penyakit, mendukung diagnosis, hingga membantu penelitian, pengembangan, dan penemuan obat. Penggunaannya juga berkembang dalam pendidikan, keuangan, industri, dan berbagai bidang lainnya.

Sebagai dokter spesialis Patologi Anatomik, saya melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang menarik. Dalam pekerjaan sehari-hari, dokter berhadapan dengan data dan informasi yang sangat banyak.

Dalam digital pathology, misalnya, AI dapat membantu mengenali pola tertentu pada jaringan dan memberikan informasi tambahan dalam proses penegakan diagnosis. Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu selalu diingat: AI tetaplah alat.

Dalam dunia medis, keputusan yang berkaitan dengan kehidupan manusia tidak seharusnya diserahkan begitu saja kepada mesin. Dokter tetap harus memahami kondisi pasien secara menyeluruh, menghubungkan hasil pemeriksaan dengan informasi klinis, mempertimbangkan berbagai kemungkinan diagnosis, dan memvalidasi informasi yang diberikan AI.

Sebab, ketika terjadi kesalahan, bukan mesin yang akan berhadapan dengan pasien dan keluarganya. Tanggung jawab tetap berada pada manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

Ketika AI Digunakan untuk Hal yang Salah

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah teknologi yang sama dapat digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. AI dapat membantu dokter menemukan penyakit, tetapi juga dapat digunakan untuk membuat informasi palsu.

AI dapat membantu seseorang belajar, tetapi juga berpotensi membuat orang kehilangan kebiasaan berpikir kritis karena terlalu terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.

Kemampuan AI menghasilkan gambar, video, dan suara yang menyerupai kenyataan juga menghadirkan persoalan baru. Teknologi deepfake, misalnya, dapat membuat seseorang seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Jika disalahgunakan, teknologi ini dapat digunakan untuk menipu, merusak nama baik seseorang, bahkan memengaruhi opini masyarakat.

AI membawa banyak kemudahan dalam kehidupan, tetapi di balik manfaatnya terdapat risiko yang tidak boleh diabaikan, mulai dari berkurangnya lapangan pekerjaan, bias, ancaman privasi, hingga kejahatan siber.

Laporan Inet.detik.com menyoroti kekhawatiran mengenai agen AI yang dapat melakukan berbagai tindakan secara otomatis dan terkoordinasi. Risiko yang dibahas antara lain pencurian, peretasan identitas, manipulasi pasar, hingga gangguan terhadap sistem komunikasi dan infrastruktur.

Karena itu, persoalannya bukan hanya seberapa pintar AI nantinya, tetapi juga siapa yang mengendalikannya dan untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.

Perkembangan AI yang sangat cepat juga menjadi tantangan bagi pemerintah. Teknologi sering kali berkembang lebih cepat daripada aturan yang mengaturnya.

Pemerintah harus mencari keseimbangan antara mendorong inovasi dan melindungi masyarakat dari berbagai dampaknya. Di sinilah kita belajar bahwa teknologi tidak cukup hanya dikembangkan. Teknologi juga membutuhkan batas dan tanggung jawab.

Sebab, tidak semua hal yang bisa dilakukan oleh teknologi berarti harus dilakukan. Menurut saya, prinsip ini penting dalam menghadapi AI. Kemampuan manusia memang semakin besar karena teknologi, tetapi kemampuan yang besar tanpa tanggung jawab justru dapat menimbulkan masalah.

Islam dan Cara Memandang Teknologi

Dalam perspektif Islam, manusia diberikan akal sebagai salah satu potensi dasar yang menjadi bentuk kemuliaan dari Allah. Dengan akal, manusia dapat berpikir, belajar, menemukan ilmu pengetahuan, dan mengembangkan teknologi.

Manusia juga diberikan amanah sebagai khalifah fil ardh. Karena itu, ilmu yang dimiliki seharusnya digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan.

Teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak. Teknologi dapat menjadi sarana untuk membantu manusia. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dan nilai apa yang menjadi landasannya.

AI sendiri merupakan hasil dari kemampuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan data, informasi, dan berbagai pola yang diberikan kepadanya.

Karena itu, hasil yang diberikan AI sangat dipengaruhi oleh cara sistem tersebut dibuat, data yang digunakan, dan tujuan manusia yang memanfaatkannya.

AI yang digunakan untuk membantu pelayanan kesehatan tentu dapat memberikan manfaat yang besar. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk penipuan, manipulasi informasi, kejahatan siber, bahkan kepentingan peperangan.

Maka, yang perlu dibangun bukan hanya AI yang semakin pintar, tetapi juga manusia yang semakin bertanggung jawab.

Kekhawatiran bahwa AI suatu saat menjadi terlalu kuat atau sulit dikendalikan memang masih berupa berbagai skenario dan belum semuanya terbukti.

Namun, risiko yang lebih dekat, seperti manipulasi informasi, penipuan digital, dan kejahatan siber, sudah menjadi perhatian yang nyata.

Karena itu, kita tidak perlu panik menghadapi AI. Namun, kita juga tidak boleh terlalu santai.

Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua jawaban dari AI pasti benar. Mahasiswa perlu tetap belajar berpikir kritis dan cerdas, bukan hanya meminta mesin memberikan jawaban.

Para profesional harus memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab. Pemerintah pun perlu menghadirkan aturan yang mampu melindungi masyarakat tanpa mematikan inovasi.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Manfaat atau mudaratnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

Jika digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab, AI dapat membantu banyak pekerjaan dan memberi manfaat bagi kehidupan. Namun, kecanggihan teknologi tetap membutuhkan batas, aturan hukum, dan etika agar tidak disalahgunakan.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya mengejar teknologi yang semakin pintar, tetapi juga harus membangun akhlak dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Bagi seorang Muslim, kemajuan teknologi juga perlu tetap berada dalam tuntunan iman dan ketundukan kepada Allah.

Pemerintah, pengembang, dan masyarakat memiliki peran bersama agar AI berkembang dengan aman dan tetap memberi manfaat bagi kehidupan, bukan justru membuat manusia kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri. (*)


Penulis:
Ririn Endah, MD
(Praktisi Kesehatan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com