PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Kasus 600 Zak Pupuk Subsidi di Bone, Belum Ada Tersangka • Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja • Paris Yasir Jenguk Pasien dan Tinjau IGD RSUD Jeneponto • Tinggalkan Cara Lama, Begini Modernnya Siswa SMPN 12 Makassar Ikut Kompetisi Belajarku • Appi Dijadwalkan Terima KTA Demokrat Hari Ini, Dua Hari Usai Tinggalkan Golkar • 40 Peserta Ikuti Pemagangan Nasional di Yogyakarta, Ini Kata Menaker • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Kasus 600 Zak Pupuk Subsidi di Bone, Belum Ada Tersangka • Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja • Paris Yasir Jenguk Pasien dan Tinjau IGD RSUD Jeneponto • Tinggalkan Cara Lama, Begini Modernnya Siswa SMPN 12 Makassar Ikut Kompetisi Belajarku • Appi Dijadwalkan Terima KTA Demokrat Hari Ini, Dua Hari Usai Tinggalkan Golkar • 40 Peserta Ikuti Pemagangan Nasional di Yogyakarta, Ini Kata Menaker •
NasionalNews

Belanda Kembalikan Keris Pangeran Diponegoro ke Pemerintah Indonesia

432
×

Belanda Kembalikan Keris Pangeran Diponegoro ke Pemerintah Indonesia

Sebarkan artikel ini
Keris Pangeran Diponegoro

BOGOR – Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, menyampaikan bahwa pengembalian dari Keris Pangeran Diponegoro prosesnya sudah cukup lama dan selama proses berlangsung Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Kerajaan Belanda melakukan penelitian bersama untuk betul-betul memastikan bahwa keris tersebut adalah keris milik Pangeran Diponegoro.

”Yang terakhir, jadi beberapa minggu sebelum kunjungan, maka kita juga mengirimkan tim di mana di dalamnya juga ada Pak Dirjen Kebudayaan. Karena saya berkonsultasi juga dengan Menteri Pendidikan dan kebudayaan kemudian beliau mengutus Dirjen Kebudayaan bersama dengan ahli dari Indonesia untuk melakukan pengecekan,” ujar Menlu memberikan penjelasan terkait Keris Pangeran Diponegoro di Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (10/3).

Menurut Menlu, Kerajaan Belanda juga sudah mendatangkan tim yang terdiri dari beberapa orang untuk melihat keris tersebut. Ia menambahkan bahwa dengan datangnya tim dari Indonesia, maka sudah dikonfirmasikan bahwa keris tersebut adalah Keris Diponegoro dan kemudian dikembalikan ke Indonesia.

Untuk penyimpanannya, Menlu menyampaikan bahwa akan dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terutama terkait penempatan Keris Pangeran Diponegoro tersebut.

Sawit di Eropa Sementara itu, saat ditanya mengenai sawit, Menlu menjelaskan bahwa Pemerintah RI melakukan kerja sama dengan Belanda utamanya adalah untuk memberdayakan petani-petani kecil sawit mengenai masalah sustainability. Dalam pembicaraan, Menlu menjelaskan juga berdiskusi mengenai masalah sustainability, misalnya yang terkait dengan sertifikasi.

Ia menambahkan bahwa sertifikasi di Eropa misalnya memiliki RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) sedangkan di Indonesia memiliki ISCO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

“Oleh karena itu tadi saya sampaikan kembali bahwa sebaiknya kita semuanya itu open, dalam artian ISCO, RSPO itu semuanya sertifikasi yang merujuk kepada elemen sustainability di antaranya. Kenapa tidak apa sertifikasi ISCO itu kemudian dijajarkan RSPO,” imbuh Menlu.

Kalau memang masih ada yang perlu ditambahkan, menurut Menlu, dapat ditambahkan, tetapi tidak dengan mengganti sertifikasi yang sudah dimiliki oleh Indonesia.

”Terus saya juga sampaikan kembali bahwa misalnya data-data scientific yang kita punya kenapa tidak juga diperbandingkan dengan data mereka, sehingga dengan pendekatan yang terbuka tersebut maka kita bisa mendapatkan treatment yang fair terhadap kelapa sawit kita,” pungkas Menlu. [*]

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com