MALANG—Group musik angklung yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga berusia 47 hingga 65 tahun dari ORW. 16, Kel. Purwantoro, Kec. Blimbing Kota Malang, dan bernama Dewi Godong 19, menggelar konser tunggal dalam rangka merayakan Hari Angklung Sedunia, di Museum Panji, Tumpang Malang, Selasa (16/11/2021), yang disiarkan secara langsung melalui akun YouTube Pagak TV.
Meski tampil memukau, menurut Pelatih Dewi Godong 19, Agus Wayan, keputusan untuk menggelar konser yang bertujuan memberi apresiasi terhadap music angklung sekaligus memperingati hari angklung sedunia yang jatuh pada 16 November itu, cukup mendadak, bahkan hanya satu hari sebelum hari tampil baru disepakati untuk tampil.
“Untuk saya pribadi ini sekedar apresiasi untuk musik angklung yang sedang merayakan hari angklung sedunia hari ini (16/11). Untuk di kota Malang sendiri, ini baru pertama yang merayakan hari angklung sedunia,” tutur Agus saat ditemui di tengah pagelaran di Museum Panji.
Lebih lanjut Agus menuturkan, bahwa Dewi Godong 19 yang baru berdiri pada bulan Juli 2020 itu, seluruh anggotanya sebelumnya tidak pernah memiliki basic bermusik sama sekali, bahkan secara perlahan dirinya harus secara telaten melatih ibu-ibu tersebut nada pernada.
“Baru pertengahan 2020 mereka terbentuk, dan semuanya tidak memiliki basic bermusik, tehnik saya awal hanya melihat jari-jari tangan mereka untuk menentukan mereka berbakat dimana, memukul, memetik atau lainnya. Meskipun mereka bilang tidak bisa, saya yakinkan mereka pasti bisa, terlebih dukungan dari para suami dan keluarga begitu kuat,” tukas Agus.
Lebih lanjut masih menurut Agus dipilihnya angklung, karena jenis musik angklung bisa melibatkan banyak orang dan butuh kekompakan yang berbeda dengan musik lain, karena dalam angklung satu orang tidak ada, dipastikan yang lain tidak bisa bermain.
“Angklung itu bisa mengompakkan, karena jika satu atau dua orang tidak datang cord pasti hilang dan tidak bisa bermain, sehingga hal ini membuat satu sama lain saling ketergantungan dan saling support untuk senantiasa hadir dalam setiap latihan,” lanjutnya.
Terkait pemilihan nama Dewi Godong 19, Agus menjelaskan, bahwa kata dewi diambil dari seluruh anggotanya perempuan, kemudian 19 karena jumlahnya 19 orang.

Sedangkan kata Godong yang berarti daun, karena latar belakang ibu-ibu sebagai penggerak urban Farming setiap pagi disibukkan dengan aktifitas menanam tanaman dan merawat daun, sehingga disepakatilah nama yang dianggap cocok adalah Dewi Godong 19.
Sementara koordinator Dewi Godong 19, yang juga merupakan pemain Gendang Hanifah, dengan didampingi Wiwit selaku pemain keyboard dan Ida Dewi pemain Bass, pemilihan musik assembel ini, karena beda dengan yang lainnya dan adanya keinginan agar musik assemble bisa lestari, sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya asli Indonesia.
Pada kesempatan tersebut ketiga dedengkot Dewi Godong tersebut juga mengaku, bahwa sebelumnya seluruh anggota Dewi Godong tidak memiliki kemampuan bermusik sama sekali alias Nol. Namun berkat kesabaran pelatih, yang mereka sebut sebagai guru dan kemampuan guru dalam membimbing para lansia, sehingga meski baru berumur setahun mereka sudah percaya diri bermain di depan umum.
“Kami semua Nol music, mungkin guru kami memiliki rumus khusus dalam membina lansia, sehingga kami bisa kompak dan mampu bermain dengan baik,” tutur Hanifah diamini Wiwit dan Ida.
Diujung wawancara Hanifah, Wiwit dan Dewi berharap Dewi Godong 19 dapat memperoleh banyak job sehingga bisa memiliki alat music sendiri tidak terus menerus bergantung pada alat music yang dipinjamkan oleh pelatihnya.
Selain itu ketiga dedengkot Dewi Godong tersebut juga berharap Pemerintah Kota Malang yang telah seringkali menikmati penampilan Dewi Godong dalam sejumlah acara resmi, dapat memberikan perhatian dengan memberikan bantuan alat musik sebagaimana yang salama ini mereka pinjam demi kelangsungan hidup Dewi Godong 19 dalam melestarikan budaya bermusik assemble.
Adapun ke-19 anggota Dewi Godong 19 tersebut adalah ; Ibu Hanifah, Ibu Wiwit, Ibu Ida, Ibu Yunani, Ibu Muchamad, Ibu Budi, Ibu Ganda, Ibu Tutik, Ibu Sugeng, Ibu Lis, Ibu Ning, Ibu Suwandi, Ibu Ninik, Ibu Ninik LG, Ibu Akhwan, Ibu Suwandi, Ibu Nin, Ibu Joko dan Ibu Peni. (464Ys)


















